Bincangperempuan.com- Belakangan ini, lini masa media sosial kita semakin dibanjiri oleh beragam istilah dan tren gaya hidup baru. Salah satu yang paling nyaring digaungkan adalah frugal living—sebuah konsep hidup hemat ekstrem yang digadang-gadang sebagai jalan ninja menuju kebebasan finansial, atau minimal, cara hidup yang bijak, bersahaja, dan penuh kesadaran.
Konten-konten estetik tentang cara menekan pengeluaran dapur hingga batas minimum, gaya hidup tanpa belanja barang baru (no-buy year), hingga memangkas seluruh hiburan harian kerap dipuji sebagai bentuk kesederhanaan dan kedewasaan mengelola uang.
Namun, di balik narasi kesederhanaan yang kerap diromantisasi tersebut, apakah frugal living benar-benar sebuah pilihan gaya hidup yang dipilih secara sadar, atau justru bentuk cara bertahan hidup lumrah yang diberi label?
Menelusuri Asal Istilah Frugal
Untuk memahami mengapa istilah ini begitu memikat, kita perlu melangkah mundur dan menengok asal-usulnya. Menurut catatan Dictionary.com, kata frugal sebenarnya memiliki rekam jejak linguistik yang unik. Istilah ini mengakar dari bahasa Latin frugalis—yang bermakna “berguna”, “layak”, dan “hemat”.
Namun, jika ditarik lebih jauh, kata frugalis itu sendiri bersumber dari kata frux, yang secara harfiah berarti “buah” (fruit), dan secara kiasan bermakna nilai atau keberhasilan.
“Merujuk pada akar katanya, frugal bukan soal menjadi pelit, melainkan tentang memahami nilai sejati dari ‘buah’ atau hasil kerja keras yang kita petik.”
Bagi penutur bahasa Inggris, kata sifat frugal mulai digunakan pada awal abad ke-17—salah satu literatur terawalnya terekam dalam karya William Shakespeare, The Merry Wives of Windsor. Menariknya, kata ini diciptakan untuk memuliakan gagasan tentang menabung dan berhemat tanpa menyertakan konotasi negatif seperti “pelit” (cheap) atau “kikir” (miserly).
Secara historis, menjadi frugal berarti memiliki hikmat untuk mengukur nilai barang: tahu kapan harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang berharga dan kapan harus menahannya. Konsep ini bahkan melahirkan berbagai istilah populer dalam budaya pop, mulai dari acara masak legendaris The Frugal Gourmet hingga istilah Frugalista—sebuah paduan kata frugal dan fashionista yang lahir pada 2005 untuk menggambarkan orang-orang yang tetap tampil gaya menggunakan cara-cara yang hemat.
Baca juga: Gen Z Masih Bergantung Secara Ekonomi kepada Orangtua, Kondisi Ekonomi atau Gen Z yang Manja?
Pergeseran Makna: Ketika “Memahami Nilai” Berubah Jadi “Modus Survival”
Jika makna asli frugal adalah tentang memahami nilai (value) dan menikmati “buah” kerja keras secara bijak, lantas mengapa penerapannya hari ini terasa begitu menyesakkan?
Di situlah letak pergeserannya. Dalam narasi media sosial modern, frugal living kerap mengalami dislokasi makna. Menekan pengeluaran bukan lagi dilakukan karena seseorang secara sadar memilih untuk mengalihkan pemenuhan nilainya pada hal lain yang lebih substansial, melainkan karena daya beli yang memang merosot tajam.
Ketika frux—buah dari pekerjaan kita sudah tak lagi cukup untuk menutupi melambungnya biaya hidup, berhemat ekstrem berubah fungsi dari sekadar “sikap bijak” menjadi “mekanisme bertahan hidup” (survival mechanism). Kita diajak merayakan cara memotong anggaran makan harian atau memangkas biaya transportasi, padahal di saat yang sama, upah riil stagnan dan inflasi kebutuhan pokok terus membumbung.
“Gaya Hidup Normal” yang Kian Menjadi Mewah
Namun, batas antara frugal living dan apa yang dulu kita sebut sebagai “gaya hidup normal” menjadi semakin kabur.
Dulu, gaya hidup normal didefinisikan secara sederhana: bekerja, sanggup membayar sewa atau cicilan hunian yang layak, dapat mengonsumsi makanan bergizi tanpa cemas, memiliki simpanan darurat, dan sesekali menikmati hiburan di akhir pekan tanpa diintai rasa bersalah. Itu bukan gaya hidup mewah; itu adalah standar hidup bermartabat yang wajar bagi kelas pekerja.
Namun hari ini, standar “normal” tersebut seolah-olah dinaikkan kelasnya menjadi sebuah kemewahan. Ketika seseorang ingin menikmati secangkir kopi di kafe atau sesekali memesan makanan di luar setelah seminggu bekerja keras, narasi frugal living yang toksik hadir dan memberi porsi kesalahan pada individu seperti “Pantas aja susah kaya, masih suka jajan kopi!”
Gaya hidup hemat yang semula bertujuan memberikan kebebasan finansial justru memicu kelelahan emosional (frugal burnout). Ketika setiap rupiah yang keluar diiringi rasa cemas, hidup tak lagi diisi oleh pencarian nilai (value), melainkan kalkulasi ketakutan yang tiada habisnya.
Baca juga: Bukan Cuma Soal Hubungan: Kenapa Kita Semua Sedang di Lost Spark Era?
Mengembalikan Nilai pada Tempatnya
Mencintai kesederhanaan dan mengelola keuangan dengan cermat adalah tindakan yang sangat mulia. Tidak ada yang salah dengan membatasi konsumsi berlebih atau belajar menahan diri dari godaan konsumerisme yang agresif.
Namun, kita harus jujur pada diri sendiri dan tidak meromantisasi krisis. Jangan sampai istilah-istilah keren seperti frugal living digunakan oleh sistem ekonomi untuk menutupi kenyataan bahwa ketimpangan sosial semakin melebar.
Kita tidak boleh membiarkan narasi untuk berhemat seperti frugal living ini menjadi alat untuk mengalihkan tanggung jawab. Ketika standar hidup yang dulu dianggap wajar—makan bergizi, hunian layak, tabungan darurat, sedikit hiburan tanpa rasa bersalah—kini terasa mewah, bukan semata karena individu gagal menahan diri. Ada struktur yang membuat “normal” berubah menjadi kemewahan, ada ketimpangan yang melebar, upah yang tidak sebanding, dan kebijakan yang lebih sering melindungi akumulasi daripada menjamin kehidupan yang bermartabat.
Referensi:
- Dictionary.com. (2013, September 10). Lexical Investigations: Frugal. https://www.dictionary.com/articles/frugal
- Online Etymology Dictionary. Etymology of Frugal. https://www.etymonline.com/word/frugal





Comments are closed.