Fri,4 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit

Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit

memberi-makan-monyet-liar,-niat-baik-yang-membawa-penyakit
Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit
service

Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit. Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, dedaunan, serangga, serta makanan berserat lainnya. Mikroorganisme di dalam ususnya membantu mengubah makanan tersebut menjadi energi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh. Masalah muncul ketika makanan alaminya digantikan camilan manusia yang tinggi gula dan lemak, tetapi rendah serat. Perubahan pola makan dapat mengacaukan komunitas mikroorganisme di dalam usus. Kondisi ketidakseimbangan ini disebut disbiosis. Penelitian terhadap beruk (Macaca nemestrina) di Perak, Malaysia, membandingkan dua populasi dengan tingkat interaksi manusia berbeda. Kelompok pertama hidup di Lumut Mangrove Park, kawasan perkotaan tempat monyet sering diberi makan. Kelompok kedua berada di Segari Melintang Forest Reserve, habitat dengan paparan manusia lebih rendah. Hasilnya, monyet yang sering berinteraksi dengan manusia memiliki keragaman mikrobiota usus lebih rendah. Disbiosis berpotensi melemahkan sistem imun serta membuat satwa lebih rentan terhadap penyakit. Peneliti juga mendeteksi antigen Giardia, parasit penyebab diare, pada sekitar 20 persen sampel kotoran monyet di kawasan mangrove perkotaan. Selain itu, ditemukan Helicobacter macacae, bakteri yang berkaitan dengan infeksi usus. Kedekatan manusia dan monyet menciptakan ruang bagi perpindahan patogen antarspesies. Penyakit dapat bergerak dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, persoalan memberi makan monyet bukan hanya menyangkut kesehatan satwa, tetapi juga kesehatan masyarakat. Dampaknya turut terlihat pada perilaku. Monyet yang terbiasa menerima makanan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.