Sun,6 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Setengah abad ‘Dancing Queen’ ABBA: Mengapa lagu ini terus membuat kita merayakan hidup

Setengah abad ‘Dancing Queen’ ABBA: Mengapa lagu ini terus membuat kita merayakan hidup

setengah-abad-‘dancing-queen’-abba:-mengapa-lagu-ini-terus-membuat-kita-merayakan-hidup
Setengah abad ‘Dancing Queen’ ABBA: Mengapa lagu ini terus membuat kita merayakan hidup
service

Lima puluh tahun lalu, grup pop ternama asal Swedia, ABBA, merilis singel legendaris mereka, Dancing Queen. Lagu ini langsung memuncaki tangga lagu di 15 negara, mulai dari Australia, Amerika Serikat (AS), Norwegia, hingga Afrika Selatan.

Lima dekade berlalu, lagu ini tetap bergema [di panggung West End](https://en.wikipedia.org/wiki/Mamma_Mia!_(musical), karaoke, parade Mardi Gras, hingga resepsi pernikahan.

Bagaimana bisa lagu yang manis dan sederhana ini bisa begitu melekat dalam hidup kita, bahkan bertahan melintasi ruang dan waktu selama setengah abad?

Lahirnya lagu hit

Dancing Queen lahir pada 1975, setahun setelah ABBA meraih kemenangan besar di Eurovision lewat “Waterloo”. Popularitas ABBA terus melejit, tetapi mereka belum berhasil menembus pasar AS. Di tengah meroketnya tren disko, genre ini pun menjadi peluang baru bagi mereka.

Dalam bukunya ABBA All The Songs: The Story Behind Every Track, Benoit Clerc mengisahkan bagaimana Benny dan Björn meracik lagu ini di sebuah pondok di Pulau Viggsö, dekat Stockholm. Mereka merekam demo piano dan gitar di kaset, lalu memutarkannya kepada manajer ABBA, Stig Anderson, dan putrinya, Marie.

Bertahun-tahun kemudian, Marie mengenang demo itu sebagai rekaman yang “buruk” dari “sebuah lagu yang luar biasa”.

Di sebuah studio di Stockholm, keduanya bekerja sama dengan para musisi untuk menciptakan groove dansa yang ritmis, terinspirasi dari hit disko George McCrae tahun 1974, Rock Your Baby. Dua hari kemudian, mereka menyelesaikan draf awal backing track berjudul Boogaloo. Sejarawan ABBA, Carl Magnus Palm, mencatat bahwa saat Benny memutarkannya untuk Anni-Frid, sang vokalis sampai “terharu hingga meneteskan air mata”.

Manajer mereka, Stig, kemudian mengganti judulnya menjadi Dancing Queen, sebuah keputusan yang membawa keberuntungan. Pada Juni 1976, ABBA diundang tampil di gala penghormatan bagi Raja Swedia Carl XVI Gustaf dan calon ratunya. Mereka pun memiliki lagu yang tepat untuk momen tersebut. Dua bulan kemudian, Dancing Queen resmi dirilis dan langsung melesat menaklukkan dunia.

Keajaiban musik

Dancing Queen menunjukkan kepiawaian khas Swedia dalam merancang musik secara matang. Berbeda dari tempo cepat Never Can Say Goodbye milik Gloria Gaynor, yang mencapai 128 ketukan per menit, Dancing Queen mengalun lebih santai dan stabil pada 100 ketukan per menit.

Tak seperti kebanyakan lagu pop, Dancing Queen tidak membuka vokal dari bait pertama atau baris awal chorus (“you are the dancing queen”). Vokal justru langsung masuk di tengah chorus, pada nada tertinggi (“you can dance”).

Karena nada baitnya relatif rendah, strategi ini efektif mencuri perhatian sejak awal. Aransemen gesek Sven-Olof Walldoff turut membangun nada yang meninggi menuju chorus sekaligus memperkuat emosinya.

Piano Benny menambah kesan dramatis dan megah. Ia membuka lagu dengan glissando teatrikal, menyapu cepat tuts putih piano, lalu memainkan oktaf untuk memperkuat melodi nada tinggi dengan nada rendah.

Merangkai lirik

Perubahan judul menjadi ‘Dancing Queen’ membuka ruang bagi kisah dansa yang lebih dewasa dibandingkan karya Benny dan Björn pada 1972, Nina, Pretty Ballerina. Dalam lagu tersebut, Nina digambarkan seperti Cinderella yang menanti momen untuk menjadi “ratu” di lantai dansa, sebelum kembali ke rutinitasnya.

Namun, ‘Dancing Queen’ menghadirkan sosok yang lebih bebas. Sang Queen pergi ke lantai dansa bukan untuk melarikan diri, melainkan karena memang ingin bersenang-senang. Ia mengejar kesenangannya sendiri; menemukan seorang “raja” mungkin menyenangkan, tetapi bukan tujuan utama.

Lewat makna gandanya, sosok protagonis Queen dalam lagu ini terhubung secara alami dengan komunitas LGBTQIA+. Dancing Queen kemudian menjelma menjadi gay anthem yang populer di Sydney Gay and Lesbian Mardi Gras dan turut dipopulerkan penyanyi seperti Kylie Minogue. Pesannya terasa universal: “You can dance, you can jive”—siapa pun dirimu dan siapa pun yang kamu cintai.

Namun, ada satu bagian lirik yang cukup problematis. Setelah Stig mengganti judulnya menjadi “Dancing Queen”, Benny dan Björn harus mencari kata yang bisa berima dengan judul tersebut. “Tambourine” mungkin terdengar ringan, tetapi kata “seventeen” menghadirkan persoalan yang berbeda. Liriknya seolah menggambarkan gadis berusia 17 tahun sebagai “teasers” atau penggoda yang berusaha “turn them on” atau membangkitkan gairah.

Meski demikian, persoalan ini jarang dibicarakan. Selama bertahun-tahun, pendengar maupun pencipta lagunya tampaknya lebih memilih menikmati musiknya tanpa mempersoalkan makna lirik tersebut.

Kebangkitan ABBA

Pada dekade 1980-an, selera dunia berpaling dari lagu-lagu pop manis ala Swedia dan beralih ke genre musik yang lebih cadas seperti grunge. ABBA pun resmi bubar pada tahun 1982.

Satu dekade berlalu sebelum album kompilasi hits terbaik mereka, ABBA Gold, serta film Australia yang unik, Muriel’s Wedding (1994), kembali membangkitkan kerinduan nostalgia akan lagu-lagu indah milik ABBA.

Penampilan langsung lagu Dancing Queen yang dibawakan oleh Bono U2, serta jauh setelahnya oleh Kirk Hammett dan Robert Trujillo dari Metallica, seolah menjadi pengakuan dan stempel kehormatan bagi lagu tersebut dari para legenda musik rock.

Tahun 1999 membawa gelombang kebangkitan popularitas kedua lewat pementasan perdana drama musikal jukebox Mamma Mia! di West End, London. Cerita fiksi ini merajut tembang-tembang hits ABBA, termasuk Dancing Queen yang tak pernah lekang oleh waktu.

Adaptasi filmnya pada tahun 2008 yang dibintangi Meryl Streep kemudian mengenalkan Dancing Queen ke generasi baru. Lalu pada 2015, lagu ini dinobatkan masuk ke dalam Grammy Hall of Fame.

Mungkin laporan wartawan dari tahun 1977 ini menjadi penjelasan terbaik atas daya pikat Dancing Queen yang tak pernah pudar:

“Ada dua alasan mengapa ABBA begitu memikat pasar populer. Pertama, mereka membuat rekaman yang secara teknis hampir sempurna. Kedua, banyak orang yang ingin merasa bahagia di dunia yang penuh tekanan ini, dan ABBA berhasil membuat mereka merasakan kebahagiaan itu.”

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.