Masker yang dibutuhkan banyak orang saat udara Jakarta bercampur dengan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, ternyata habis persediaannya di sejumlah apotek di ibu kota negara ini. Saat Prohealth.id berkunjung ke apotek Century di kawasan Kalibata City Jakarta, Minggu, 6 September 2026, untuk membeli masker, ternyata stok sedang kosong.
Seorang karyawan apotek memperlihatkan rak yang biasa memampang masker sedang kehabisan barang. “Itu kosong. Hari ini ada erupsi Gunung Anak Krakatau, banyak yang beli, jadinya habis, kosong,” kata dia.
Karyawan perempuan ini lalu menyarankan Prohealth.id untuk membeli kain penutup hidung dan mulut ke Watsons Indonesia, tak jauh dari tempat dia bekerja. Rupanya, di apotek itu pun situasinya sama, kehabisan stok masker. “Maaf habis, yang beli banyak,” katanya.
Saat bergeser ke apotek lain, Guardian, ternyata juga enggak lagi memajang masker karena persediaannya kosong. “Wah, masker pun habis di hari Jakarta kena debu letusan Anak Krakatau,” kata Sutarno, calon pembeli masker.
Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan Erlina Burhan mengatakan abu vulkanik bukan hanya material seperti debu pada umumnya. Di dalamnya terdapat material batuan dan mineral dengan ukuran partikel yang beragam.
Ketika terhirup, kata dia, material berbahaya itu dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan. Jika iritasi berlanjut menjadi peradangan, maka produksi sekret atau lendir di saluran napas dapat meningkat sehingga tubuh terus merespons dengan batuk.
“Bayangkan kalau material berbahaya itu kita hirup. Lama-kelamaan akan membuat kita sesak, ini saya kira akan sangat berbahaya,” kata Erlina kepada Prohealth, Minggu 6 September 2026.
Kondisi ini, ujar Erlina dapat berkembang menjadi berbahaya terutama pada orang yang memang memiliki masalah pada saluran pernapasan. Orang dengan penyakit seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian serius.
Begitu pula lansia dan anak-anak yang saluran pernapasannya lebih rentan terhadap paparan. Selain itu, ibu hamil juga termasuk rentan karena batuk berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan pada bagian perut.
“Kelompok rentan itu yang mudah sekali batuk dan sesak napas. Kalau dibiarkan batuk ini dibiarkan, ada potensi masuk virus dan kuman, ujungnya komplikasi berupa pneumonia,” ujar Guru Besar Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini.
Masker wajah adalah penutup pelindung yang dikenakan di atas hidung dan mulut. Masker memiliki berbagai fungsi, termasuk mencegah penyebaran penyakit menular, melindungi dari polutan lingkungan, dan memberikan kenyamanan dalam lingkungan sosial. Masker wajah telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks masalah kesehatan global seperti pandemi COVID-19.
Masker, terutama masker seperti respirator N95, menyaring partikel berbahaya di udara. Ini termasuk debu, serbuk sari, asap, dan patogen. Penyaringan yang efektif melindungi sistem pernapasan dari potensi iritan dan kontaminan.
Masker wajah adalah alat penting dalam melindungi kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit menular. Memahami berbagai jenis masker dan penggunaannya yang tepat sangat penting untuk memaksimalkan manfaatnya. Dengan memilih dan memakai masker dengan benar, individu dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan masyarakat dan keselamatan pribadi.





Comments are closed.