Mubadalah.id – Bulan ini, lingkungan tempat saya tinggal sedang ramai dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad. Di masjid-masjid, musala, dan lingkungan sekitar, lantunan selawat dan kisah tentang kelahiran Rasulullah kembali terdengar. Bagi umat Islam, bulan kelahiran Nabi Muhammad memang selalu membawa suasana tersendiri.
Di tengah suasana itu, saya justru baru memulai pertemuan pertama ngaji pondok bersama para santri baru. Kitab yang kami gunakan adalah Khulashah Nuril Yaqin. Kitab yang cukup akrab di kalangan pesantren untuk mengenalkan sejarah kehidupan Rasulullah kepada para santri.
Pada bagian awal, kami sampai pada pembahasan tentang nasab dan tempat Rasulullah dilahirkan. Sejak kecil, kita sudah sangat akrab dengan keterangan bahwa Rasulullah adalah seorang Quraisy. Namun, kenapa Rasulullah harus lahir dari suku Quraisy?
Allah tentu Mahakuasa memilih siapa pun, dari suku mana pun, dan dari tempat mana pun untuk menjadi utusan-Nya. Lalu, mengapa Muhammad bin Abdullah lahir di Makkah dan berasal dari suku Quraisy?
Pertanyaan ini membuat pelajaran pertama tentang sirah Nabi terasa berbeda. Kami tidak hanya membahas tentang siapa ayah Nabi, siapa kakeknya, atau di mana beliau dilahirkan. Ada sesuatu yang lebih menarik untuk dibahas lebih mendalam bersama para santri. Pertanyaannya, seperti apa lingkungan yang mengitari kelahiran seorang manusia yang kelak menjadi Rasul terakhir.
Quraisy Bukan Sekadar Nama dalam Silsilah Nabi
Dalam sejarah, Quraisy memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Makkah pada masa itu. Di kota ini, Ka’bah berada dan menjadi tempat yang didatangi berbagai kabilah Arab.
Posisi tersebut membuat Quraisy memiliki pengaruh yang cukup besar. Mereka terlibat dalam pengelolaan berbagai urusan di sekitar Ka’bah dan dikenal sebagai kelompok yang aktif dalam perdagangan. Hubungan dagang dengan berbagai wilayah juga membuat Quraisy memiliki jaringan yang luas di tengah masyarakat Arab.
Karena itu, ketika Muhammad bin Abdullah lahir sebagai bagian dari Quraisy, ia tidak lahir di tengah masyarakat yang sama sekali tidak memiliki posisi sosial. Ada keluarga, kabilah, tradisi, jaringan, dan kehidupan masyarakat yang telah terbentuk di sekelilingnya.
Tentu saja, ini tidak berarti semua orang Quraisy adalah orang baik. Kelak, sebagian dari mereka justru menjadi penentang paling keras terhadap dakwah Rasulullah. Yang menarik adalah melihat bahwa sejak awal, kehidupan Nabi berlangsung dalam sebuah lingkungan sosial yang memiliki struktur, pengaruh, dan hubungan yang luas dengan masyarakat di sekitarnya.
Rasulullah dan Lingkungan yang Mengitarinya
Nabi Muhammad tidak hanya lahir dari suku Quraisy, tetapi juga dari Bani Hasyim, salah satu keluarga yang memiliki kedudukan terhormat di tengah Quraisy.
Di dalam keluarga itu ada Abdul Muthalib, kakek Nabi, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting Quraisy. Ada pula Abdullah, ayah Nabi, dan Aminah, ibunya. Nabi memang kehilangan ayah sebelum beliau lahir dan kemudian kehilangan ibunya ketika masih kecil. Namun, sejak awal kehidupannya, beliau tetap berada dalam lingkaran keluarga dan masyarakat yang memiliki kehormatan dan kedudukan sosial tertentu di Makkah.
Kita juga mengenal bagaimana Abdul Muthalib memberikan perhatian kepada Muhammad kecil setelah ibunya meninggal. Setelah itu beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Rangkaian kehidupan ini menunjukkan bahwa masa kecil Nabi tidak berlangsung tanpa lingkungan sosial. Ada orang-orang yang merawat, mengasuh, dan menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau.
Rasulullah sendiri memberi gambaran yang menarik tentang hubungan ini. Beliau lahir dan tumbuh dalam lingkungan Quraisy, tetapi kehidupan beliau tidak berhenti sebagai hasil dari lingkungan tersebut. Setelah menerima risalah, beliau justru membawa perubahan bagi masyarakat di sekitarnya. Ada orang-orang yang menerima dakwah beliau, ada pula yang menolaknya. Namun, kehadiran beliau kemudian menjadi bagian dari perubahan besar dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Ternyata “Circle” Memang Penting
Kisah kehidupan Nabi Muhammad mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput ketika membicarakan perjalanan hidup seseorang, yaitu tidak ada manusia yang tumbuh sendirian.
Sejak awal kehidupannya, Muhammad kecil berada di tengah orang-orang yang memiliki peran dalam perjalanan hidupnya. Ada keluarga yang merawat, orang-orang yang melindungi, dan masyarakat yang menjadi ruang tempat ia tumbuh. Kehadiran mereka tentu bukan satu-satunya hal yang membentuk Nabi, tetapi mereka menjadi bagian dari perjalanan hidup beliau.
Hal serupa juga terjadi pada kita. Ada orang-orang yang setiap hari kita dengar perkataannya, bahkan kita ikuti kebiasaannya. Pengaruh mereka mungkin tidak selalu kita sadari. Namun, dari lingkungan terdekat itulah banyak hal tentang cara kita berpikir dan bersikap perlahan terbentuk.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang lingkungan yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang, sebenarnya kita sedang berbicara tentang orang-orang yang paling dekat dengannya. Dalam bahasa yang lebih populer, kita menyebutnya circle.
Circle bukan hanya soal siapa teman kita. Ia bisa mencakup keluarga, guru, sahabat, tetangga, bahkan orang-orang yang sering kita ikuti dan kagumi. Mereka adalah orang-orang yang cukup sering hadir dalam hidup kita sehingga perkataan, sikap, dan kebiasaannya bisa ikut memberi warna pada diri kita.
Sebelum Memilih Circle, Sudahkah Kita Menjadi Circle yang Baik?
Kita sering mengingatkan anak untuk memilih teman yang baik, menjauhi pergaulan yang buruk, dan menjaga diri dari pengaruh negatif. Nasihat itu tentu penting. Namun, sudahkah kita menciptakan lingkungan yang baik untuk mereka?
Anak tidak hanya belajar dari teman sebaya. Mereka belajar dari orang tua, guru, saudara, tetangga, lingkungan pesantren, juga dari orang-orang yang mereka lihat dan ikuti melalui media sosial. Apa yang mereka dengar berulang kali, cara orang dewasa memperlakukan orang lain, bahkan hal-hal yang dianggap biasa dalam keseharian dapat menjadi bagian dari proses belajar mereka.
Karena itu, membicarakan circle tidak cukup jika hanya diarahkan kepada anak. Kita sendiri juga hidup di tengah lingkungan yang saling memengaruhi. Ada orang-orang yang membentuk kita, dan pada saat yang sama, kita pun sedang memberi pengaruh kepada orang-orang di sekitar kita.
Kita hadir dalam kehidupan banyak orang. Sebagai guru, kita adalah bagian dari circle para santri. Sebagai orang tua, kita menjadi bagian dari circle anak-anak. Begitu juga ketika kita menjadi pasangan, sahabat, kakak, adik, atau tetangga, kita juga sedang hadir dalam kehidupan orang lain.
Artinya, menjadi bagian dari lingkungan yang baik bukan hanya tentang menemukan orang-orang yang baik untuk kita. Ada tanggung jawab yang berjalan dua arah. Kita mencari lingkungan yang baik sekaligus berusaha menjadi lingkungan yang baik bagi orang lain.
Mungkin inilah yang membuat pembicaraan tentang circle tidak perlu berakhir pada anjuran sederhana untuk memilih teman. Ia bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali diri sendiri. Ketika seseorang berada dekat dengan kita, apakah kehadiran kita membuat hidupnya tumbuh menjadi lebih baik.
Dari Quraisy kepada Kita
Jadi, kenapa Rasulullah harus lahir dari suku Quraisy? Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa Quraisy merupakan suku terpandang di Makkah. Kisah kelahiran dan kehidupan awal Rasulullah memperlihatkan bahwa manusia selalu hadir dalam sebuah lingkungan. Ada keluarga, nasab, pengasuhan, masyarakat, dan orang-orang yang ikut mengambil bagian dalam perjalanan hidupnya.
Rasulullah lahir di tengah sebuah keluarga dan lingkungan sosial tertentu. Kita pun demikian. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tumbuh sendirian. Ada orang-orang yang membentuk cara kita berpikir, memengaruhi cara kita bersikap, dan menemani perjalanan hidup kita. Pada saat yang sama, kehadiran kita juga sedang memberi pengaruh kepada orang-orang di sekitar.
Maka, pembicaraan tentang circle seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang baik untuk kita, tetapi juga apakah kita menjadi circle yang baik bagi orang lain. Terutama bagi anak-anak dan generasi yang sedang tumbuh bersama kita. []





Comments are closed.