Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga 29 Agustus. Sebanyak 71 di antaranya menerpa wilayah Landasan Ulin Selatan. Rabu (19/8/26) sore, api tiba-tiba berkobar di area yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari rumah perempuan 33 tahun itu. “Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar,” ceritanya, (23/8/26). Raungan meminta tolong menggema di penjuru kampung. “Saya juga ikut memadamkan api dengan memukul-mukulnya pakai kayu,” katanya. Petugas pemadam kebakaran datang, berjibaku mengendalikan api, hingga akhirnya kobaran berhasil mereda sebelum menjalar ke rumah warga. Dua hari berselang, Jumat (21/8/26), kebakaran besar yang membuatnya gentar kembali muncul di Pengayuan. Namun, kali ini api berkobar di lokasi yang lebih jauh dari rumah Sarah dan tak sampai melumat permukiman. “Syukurnya petugas pemadam kebakaran sigap untuk memadamkan.” Namun, rentetan insiden itulah yang meninggalkan trauma dan kekhawatiran terhadapnya. Dia jadi takut jika meninggalkan rumah, dan susah tidur saat malam. “Cemas api tetiba menyala.” Peristiwa kebakaran itu membuatnya jadi korban pertama yang menanggung derita kabut asap. Jerubu masuk rumah hingga membuatnya susah melihat. Baunya tercium hingga kamar. Dia mengalami gangguan kesehatan, mulai batuk, pilek, radang tenggorokan hingga pusing. Kian berat karena sejak kecil mengidap asma. “Ini juga…This article was originally published on Mongabay
Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan
Anak-anak Tersiksa Asap Karhutla Kalimantan Selatan





Comments are closed.