Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Dolar AS Mati Kutu di Tengah Perang Dagang AS-China

Dolar AS Mati Kutu di Tengah Perang Dagang AS-China

dolar-as-mati-kutu-di-tengah-perang-dagang-as-china
Dolar AS Mati Kutu di Tengah Perang Dagang AS-China
service

KABARBURSA.COM – Dolar Amerika Serikat, yang selama berbulan-bulan menjadi simbol kekuatan ekonomi dunia, mulai lelah. Pada perdagangan Rabu waktu New York atau Kamis pagi WIB, 16 Oktober 2025, greenback tergelincir di hadapan hampir semua rival utamanya, seiring meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.

Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kinerja dolar terhadap enam mata uang utama dunia, melemah 0,32 persen ke level 98,72. Ini Adalah penurunan yang kedua dalam dua hari terakhir. 

Terhadap yen Jepang, dolar turun 0,39 persen menjadi 151,24, dan terhadap franc Swiss melemah 0,49 persen ke 0,797. Pelemahan terhadap dua mata uang yang dikenal sebagai safe haven itu menegaskan satu hal, bahwa pasar sedang mencari perlindungan dari ketidakpastian yang kian tebal.

Yang menjadi penyebab utama adalah perang dagang yang belum usai antara dua ekonomi terbesar dunia. Washington dan Beijing kembali saling tuding dan saling balas kebijakan. 

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer menuding China memperluas kontrol ekspor logam tanah jarang secara sepihak, terutama pada bahan vital dalam industri teknologi dan energi hijau. 

Greer menilai langkah tersebut melanggar kesepakatan dagang bilateral. Sementara itu, Beijing menuduh AS bersikap hipokrit karena lebih dulu memperketat ekspor teknologi tinggi.

Meski retorika politik kian keras, sebagian analis menilai pasar mulai kebal terhadap “drama” ini. Adam Button dari ForexLive mengatakan bahwa investor semakin pandai membaca pola lama, setelah ketegangan meningkat, biasanya diplomasi kembali mengambil alih. 

Namun kali ini, di tengah ketiadaan data ekonomi resmi akibat government shutdown, pelaku pasar justru kehilangan jangkar untuk menilai arah fundamental ekonomi AS. Dalam kondisi seperti itu, ketegangan dagang bukan sekadar berita politik, tetapi pengguncang psikologis yang sesungguhnya.

Pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell menambah dinamika. Dalam pidatonya, Powell mengakui bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Ia menyebut ekonomi kini berada pada fase “penerimaan dan pemutusan kerja rendah,” istilah halus untuk menggambarkan stagnasi aktivitas. 

Dengan nada dovish, Powell menyiratkan ruang terbuka lebar bagi pemangkasan suku bunga acuan.

Pasar langsung bereaksi. Berdasarkan data LSEG, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 28–29 Oktober kini mencapai 98 persen. 

Bahkan, pelaku pasar memperkirakan Fed bisa memangkas suku bunga hingga lima kali pada 2026. Ini menjadi sebuah skenario yang hanya muncul ketika bank sentral merasa pertumbuhan ekonomi benar-benar goyah.

Namun, apa yang biasanya menjadi kabar baik bagi aset berisiko justru kini menekan dolar. Dalam konteks global yang penuh ketegangan, suku bunga rendah bukan lagi tanda dukungan moneter, melainkan sinyal kelemahan ekonomi. 

Hasilnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun 1,6 basis poin menjadi 4,038 persen.

Di Eropa, euro justru mendapatkan sedikit napas segar. Mata uang tunggal itu menguat 0,35 persen ke USD1,1646, memperpanjang kenaikan dari sesi sebelumnya. Dorongan datang dari keputusan pemerintah Prancis menangguhkan reformasi pensiun yang sempat memicu kerusuhan sosial. 

Walau demikian, analis TS Lombard, Daniel von Ahlen, memperingatkan bahwa penguatan euro mungkin bersifat sementara karena masih minim faktor fundamental yang kuat.

Sementara di kawasan Pasifik, dolar Australia dan Selandia Baru justru menunjukkan ketahanan. Aussie naik 0,39 persen ke USD0,651, sementara Kiwi menguat tipis ke USD0,5721 setelah sempat menyentuh level terendah enam bulan. 

Meski keduanya masih tertahan oleh pelemahan permintaan komoditas global, investor tampaknya mulai mencari alternatif selain dolar AS — setidaknya dalam jangka pendek.

Dengan latar geopolitik yang rumit, kebijakan moneter yang cenderung longgar, dan shutdown pemerintahan yang menutupi data penting, dolar kini berada di persimpangan paradoks. Di satu sisi, dolar masih menjadi mata uang cadangan dunia, di sisi lain, kehilangan pesonanya sebagai simbol kekuatan ekonomi Amerika.

Jika tren ini berlanjut, maka bukan mustahil greenback akan terus melemah seiring ekspektasi bahwa Fed tak hanya memangkas suku bunga, tetapi juga harus menanggung beban ekonomi global yang rapuh.(*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.