Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengajak para jurnalis sebagai edukator yang baik dengan berita akurat dan aktual bagi masyarakat untuk mencegah informasi yang salah tentang imunisasi. Dante berharap peran jurnalis bisa mengatasi infodemik menyesatkan sehingga mewujudkan masyarakat lebih sehat pada masa mendatang melalui imunisasi. Jurnalis harus menjadi penjernih kekeruhan informasi tesebut.
“Bila pesan yang disampaikan jurnalis bahwa imunisasi itu baik dan imunisasi itu sehat, tentu warga akan datang. Bila jurnalis bisa sinergi dengan warga maka kita harapkan imunisasi berjalan dengan baik,” ujar Dante dalam temu jurnalis memperingati Pekan Imunisasi Dunia di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Kamis 23 April 2026.
Dante mengakui kehadiraan kelompok antivaksin merupakan tantangan selama program imunisasi tidak hanya di Indonesia tapi juga berbagai negara lainnya. Namun kelompok ini dianggap tidak mengganggu pemerintah memberikan vaksinasi kepada masyarakat. Dante pun menegaskan imunisasi penting sepanjang usia bagi anak-anak hingga orang dewasa untuk mencegah terinfeksi penyakit menular dan tidak menular.
“Pekan Imunisasi Dunia 2026 mulai 24 April sampai 30 April. Selain penyakit menular, ada juga imunisasi untuk penyakit tidak menular seperti imunisasi HPV (human papiloma virus) bertujuan mencegah kanker rahim pada masa mendatang,” kata Dante.

Pada kesempatan serupa, Deputy Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, Sujala Pant, menjelaskan imunisasi memperkuat kekebalan tubuh seseorang sekaligus melindungi lingkungan sekitarnya dari beragam penyakit. UNDP mendukung penuh imunisasi di Indonesia.
“Kita mengetahui capaian imunisasi di beberapa daerah masih rendah dan menjadi tugas kita meningkatkan jumlah tersebut. Berdasarkan penelitian ilmiah, imunisasi justru menyelamatkan lebih dari 4 juta nyawa manusia setiap tahun,” jelas Sujala.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada tahun 2018 hingga 2022, ada 1,45 juta anak tanpa imunisasi lengkap. Bahkan dari 17 juta anak usia 1 tahun sampai 3 tahun sejak 2021 sampai 2023, tercatat 2,8 juta anak belum tuntas imunisasinya. Padahal anak diberikan imunisasi agar daya tahan tubuhya kuat sehingga tidak terinfeksi penyakit menular ataupun tidak menular.
Imunisasi lengkap memperkuat kekebalan tubuh
Menurut Hartono Gunardi, Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi rutin tidak berhenti pada anak umur 2 tahun tapi berlanjut hingga usia sekolah yaitu kelas 1, Kelas 2 dan Kelas 5 sekolah dasar seperti imunisasi TD (tetanus-difteri). Bahkan orang dewasa dengan kriteria tertentu seperti tenaga kesehatan dan komorbiditas atau seseorang yang memiliki penyakit kronis menyertai diagnosis utama perlu mendapatkan imunisasi. Salah satunya imunisasi campak bagi tenaga kesehatan. Imunisasi lengkap berfungsi membentuk kekebalan tubuh mengatasi penyakit.
“Jika sudah menerima imunisasi, bisa saja terinfeksi penyakit tapi gejalanya jauh lebih ringan cepat sembuh karena sistem kekebalan tubuhnya sudah terbentuk dan terlatih. Antibodinya menetralkan virus atau bakterinya,” tutur Hartono yang turut hadir dalam temu jurnalis.

Jangan khawatir KIPI
Lebih lanjut Hartono menambahkan, para orang tua tidak perlu khawatir jika imunisasi menimbulkan KIPI (kejadian ikutan pascaimunisasi) karena sifatnya ringan hanya sementara sehingga mudah disembuhkan. Untuk meningkatkan cakupan imunisasi masih rendah, Hartono mengerahkan ratusan dokter anak tergabung IDAI melakukan sosialisasi imunisasi rutin kepada tokoh masyarakat dan pemuka agama.
“Tahun lalu kami kerahkan 600 dokter anak ke tiga daerah terbanyak warganya belum menerima imunisasi lengkap di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, dan Aceh. Mereka mendatangi sekolah dan puskesmas mengedukasi warga pentingnya imunisasi lengkap dan jangan khawatir jika muncul KIPI,” ucap Hartono.

Sementara itu, artis sekaligus influencer, Maudy Koesnaedi yang ikut diundang dalam temu jurnalis menyebutkan pentingnya peran orang tua memberikan imunisasi lengkap bagi anak berjalan optimal. Pemeran Zaenab dalam sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” ini mengimbau orang tua segera membawa anaknya ke tempat imunisasi terdekat.
“Di tengah kesibukan sebaiknya para orang tua meluangkan waktu agar anaknya mendapatkan imunisasi lengkap. Tidak hanya penting bagi kesehatan anak tapi imunisasi juga bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya,” tutur Maudy.
Laman Kementerian Kesehatan menyebutkan gejala KIPI cenderung ringan yang biasanya sembuh dalam 1 hari sampai 2 hari tanpa diberi obat, berupa reaksi lokal maupun sistemik. Reaksi lokal berupa gejala di sekitar bagian tubuh yang disuntik imunisasi seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan. Sedangkan reaksi sistemik ditandai sakit kepala, demam, merasa lemas, dan tidak enak badan setelah imunisasi. Berikut langkah meredakan gejala KIPI pada anak, yaitu :
- Usahakan anak beristirahat dengan cukup.
- Berikan anak cukup air putih.
- Berikan obat penurun panas jika diperlukan.
- Kompres bagian nyeri dengan kain bersih yang dibasahi air dingin, jika dibutuhkan.





Comments are closed.