Kasus ‘Epstein Files’ menjadi peringatan bahwa kejahatan ekstrem tidak akan pernah lahir dari ruang hampa. Konstruksi patriarki yang telah dinormalisasi menjadi kesadaran kolektif turut melahirkan laku keji itu.
Bagaimana tidak, sedari kecil hal-hal yang berbau patriarki sangat melekat dalam keseharian kita. Tanpa disadari, inilah yang membentuk kesadaran kita bersama, yang sebenarnya lebih tepat kita sebut ketidaksadaran “unconsciousness universal”. Baru setelah kesadaran patriarki ini mencuat dalam kasus tragis seperti Epstein Files kita mulai menguraikan dan memikirkannya lagi.
Kasus ‘Epstein’ pertama kali muncul pada tahun 2000-an di Palm Beach, Florida, ketika diketahui beberapa remaja perempuan keluar-masuk rumah Epstein dengan imbalan uang. Namun, pihak kepolisian Palm Beach baru menyelidiki laporan tersebut ketika ada orang tua seorang gadis berusia 14 tahun melaporkan, bahwa anaknya telah mendapatkan pelecehan seksual di rumah mewah Epstein (Kompaspedia/02/2026).
Penyelidikan berkembang melalui kesaksian beberapa siswa sekolah menengah yang tinggal di sekitar rumah Epstein. Diketahui, puluhan gadis remaja dijanjikan imbalan finansial ketika melakukan pijat telanjang yang berujung pada pelecehan dan pemerkosaan (Kabarika.id/02/2026). Layaknya berita pemerkosaan dengan upah finansial, kebanyakan korban berasal dari keluarga tidak mampu.
Kendati demikian, laporan itu menggugah hati nurani penegak hukum untuk segera bertindak. Sebaliknya, proses hukum justru berjalan lamban. Bahkan, baru pada Juli 2006 ia terdakwa melakukan prostitusi. Pada 30 Juli 2008, perkara tersebut mencapai kesepakatan hukum yang kontroversial di Florida. Esptein memang mengaku bersalah, tetapi ia hanya menjalani hukuman ringan 18 bulan penjara dengan sistem work release (rri.co.id/02/2026).
Baca Juga: Bebasnya Dosen Terdakwa Kekerasan Seksual: Bukti Permendikbud Belum Efektif di Kampus
Ia sebagai pelaku prostitusi diizinkan melakukan aktivitas kerja di luar penjara sepanjang siang hari. Hasil kesepakatan tidak adil ini memicu banyak kritik soal contoh kegagalan hukum dalam memihak dan melindungi korban. Seakan hukum dapat dibeli dengan uang dan koneksi.
Pada tahun 2015 Epstein kembali mendapat gugatan perdata dari para korban. Salah satunya dilakukan oleh Virgina Giuffre yang menggugat Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein (Kompaspedia/02/2026). Gugatan inilah yang membuka tabir mengerikan melalui kesaksian pekerja rumah tangga, sopir, dan staff Epstein.
Dengan pola yang sama, dokumen-dokumen tindak kejahatan Epstein menjamur di meja peradilan. Hingga akhirnya Epstein benar-benar ditangkap pada 6 Juli 2019. Anehnya, pada 10 Agustus 2019 proses pidana Epstein terhenti karena ia ditemukan telah meninggal di sel tahanan federal Manhattan (Kabarika/02/2026). Aparat menyatakan kematiannya sebagai bunuh diri.
Hal ini memicu desakan publik untuk membuka arsip yang selama ini disembunyikan pemerintah. Lebih dari 900 halaman dibuka, diikuti dengan beberapa dokumen tambahan selama investigasi berlangsung. Isinya mencangkup catatan ponsel serta potongan jejaring sosial Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk di dalamnya pemangku kebijakan suatu negara (Kompaspedia/02/2026).
Fenomena ini membuktikan bahwa proses hukum yang kerap kali ditunda, hukuman yang tidak setimpal, dan korban yang terabaikan haknya terjadi karena Epstein memiliki relasi kuat dengan lingkaran elit. Di samping itu, ia juga memegang bukti nyata laku bejat kalangan elit terhadap remaja perempuan, yang apabila publik mengetahuinya mereka akan kehilangan posisi nyamannya.
Baca Juga: #StopNgelesUUTPKS: Dosen Pembimbing Unhas Lakukan Kekerasan Seksual, Kampus Gagal Beri Ruang Aman Bagi Perempuan
Melalui kendali yang ia pegang, kasus kekerasan seksual dan prostitusi remaja perempuan oleh Epstein dapat terlindungi dan terorganisir dengan baik. Bahkan memerlukan waktu dua dekade untuk sekedar memenjarakan pelaku yang telah mendapatkan tuntutan kasus kekerasan seksual berkali-kali.
Selain itu, pembukaan Epstein Files untuk publik sempat terhenti karena Departemen Kehakiman AS merilis pernyataan tidak ditemukannya daftar klien Epstein dan tidak diperlukan pengungkapan lebih lanjut. pernyataan ini sangat jelas digunakan untuk melindungi kalangan elit yang memiliki relasi sosial dengan Epstein, atau bahkan menjadi rekan prostitusi Epstein itu sendiri. Diantaranya ialah, Mountbatten, Sarah Ferguson, dan Peter Mandelson, tiga tokoh politik yang sangat berpengaruh di Inggris (Kompaspedia/02/2026).
Oleh karena itu, skandal Epstein ini tidak dapat kita lihat sebagai masalah individu saja, tetapi merupakan masalah struktural hasil nilai-nilai patriarki.
Marilyn French, seorang pemikir dari feminisme radikal-kultural akan menyatakan bahwa kasus ini terjadi karena Epstein adalah laki-laki produk patriarki. Di bawah patriarki suatu nilai tumbuh hanya untuk pengalaman menjadi orang yang berkuasa. Menjadi orang nomor satu dalam urusan hierarki.
Sikap maskulin yang cenderung mengendalikan dan hierarkis hanya dapat mengakomodasikan cara-cara tertentu untuk ada dan bertindak guna menjaga kalangan tertentu tetap berkuasa (Putnam Tong, 2010). Upaya ini mengharuskan seseorang berhasil dengan cara apapun, termasuk merugikan pihak yang rentan guna mempertahankan posisinya.
Baca Juga: Ini Sederet Alasan Satgas PPKS UI Mengundurkan Diri, Kapan Kampus Serius Berbenah?
Lebih lanjut, French menjelaskan kalau sifat “tidak tahu kapan harus berhenti” dan “mereguk segala yang terbaik dari kehidupan” bukanlah manusia yang seutuhnya, melainkan minotaur. Orang dewasa yang selamanya infantil, tidak lahir dari hasrat alamiah ibunya. Representasi laki-laki yang tidak berpikir, haus kekuasaan, dan hasratnya akan daging manusia tidak akan pernah terpuaskan.
Alternatif solusi yang ditawarkan oleh French ialah penyelarasan antara sifat maskulin yang menguasai dan hierarkis dengan sifat feminin yang menghargai cinta, kelembutan, kemauan saling berbagi, dan saling menjaga. Apabila ini berhasil dilakukan, maka tindakan eksploitatif kedepannya dapat dicegah. Mengingat, di abad ke-21 ini, segala bentuk konflik berpotensi menjadi bencana nuklir.
Akan tetapi karena ini masalah struktural, maka andil pemerintah sangat diperlukan guna pengungkapan atau bahkan pencegahan kasus. Karena bagaimanapun merekalah yang memiliki kuasa untuk mengusut tuntas suatu kasus sekaligus rentan menjadi pelaku utama kasus tersebut. Ironis memang, tapi begitulah adanya. Kasus ini hanyalah salah satu dari bukti betapa kuatnya kekuasaan yang dimiliki oleh elite global.
Konyolnya, meskipun kita semua tahu bahwa patriarki melekat dalam kehidupan sehari-hari dan perlu diatasi karena bermasalah, ketika ada skandal yang merupakan manifestasi struktur patriarki kita malah terkejut. Alih-alih mencoba menganalisa kasus tersebut, kita justru langsung mendiagnosa bahwa ini adalah masalah individu. Kebejatan moral orang yang terlampau kaya. Setelah itu kita akan istighfar, sudah begitu saja, tanpa mencoba membedahnya.
(Editor: Nurul Nur Azizah)
(Gambar: bianet.org)





Comments are closed.