Fathurrahman, warga Desa Ju’uh, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, tidak bisa melupakan kejadian 27 Desember tahun lalu. Saat itu, pukul 5.00, hujan deras datang sejak malam sebelumnya membuat aliran Sungai Pitap luber ke tengah pemukiman. Dengan gesit, dia gendong dua anaknya menembus banjir, menuju rumah tetangga yang bertingkat dua. Setelah itu, dia kembali ke kediamannya untuk berjaga. Di sana, air sudah setinggi lutut orang dewasa. Padahal, dia sudah membuat bangunan itu lebih tinggi 1,5 meter, setahun sebelumnya, karena banjir kerap datang. Namun, langkah itu tidak cukup kali ini. “Banjir ini yang terparah yang pernah saya lihat selama saya hidup di kampung ini, sebelum rumah ditinggikan, banjir setinggi lutut. Setelah ditinggikan, juga mencapai lutut,” katanya. Awalnya banjir di Balangan melanda Tebing Tinggi dan Halong. Meski genangan di kedua kecamatan itu surut dalam sehari, namun muncul di empat kecamatan lain, Awayan, Juai, Paringin Selatan, dan Lampihong. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, banjir tersebut melanda 34 desa di Balangan. Berdampak pada 13.825 jiwa dari 4.289 keluarga, dan merendam 4.254 rumah. Juga, 9 jembatan penghubung desa, 44 fasilitas ibadah, 30 fasilitas pendidikan, satu fasilitas pelayanan kesehatan, serta 13 kantor. Secara provinsi, banjir yang menimpa Kalsel 27 Desember 2025 hingga awal Januri 2026 itu meluas hingga 10 dari 13 kabupaten atau kota. Meliputi Balangan, Banjar, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tanah Laut, Tabalong, Banjarbaru, dan Banjarmasin. Data per 11 Januari, sebanyak 221.377 jiwa dari 76.933 keluarga terdampak. Ia memaksa 5.248 orang mengungsi karena 32.265 rumah terendam…This article was originally published on Mongabay
Banjir Kalimantan Selatan, Buah Pembiaran Kerusakan Lingkungan?
Banjir Kalimantan Selatan, Buah Pembiaran Kerusakan Lingkungan?





Comments are closed.