Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Abah Musobihin Banjarnegara, Maksimalkan Fungsi KUA Tak Sekadar Kantor Urusan Asmara

Abah Musobihin Banjarnegara, Maksimalkan Fungsi KUA Tak Sekadar Kantor Urusan Asmara

abah-musobihin-banjarnegara,-maksimalkan-fungsi-kua-tak-sekadar-kantor-urusan-asmara
Abah Musobihin Banjarnegara, Maksimalkan Fungsi KUA Tak Sekadar Kantor Urusan Asmara
service

Ruangan itu terbilang sederhana. Hanya terdapat sebuah meja bundar kecil beserta seperangkat kursi. Sementara di dekat jendela, ada sebuah lemari kecil berisi buku-buku bacaan. Itulah suasana ruang Konsultasi, salah satu ruangan yang dimiliki oleh KUA Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara Jawa Tegah.

KUA itu termasuk KUA Revitalisasi sehingga memiliki ruang konsultasi dengan ciri khas meja bundar. Dalam lingkaran ‘meja bundar’ itulah H. Musobihin, S.Ag, MM, sang kepala KUA, biasa menerima tamu-tamunya.

“Meja bundar ini wujud kesetaraan dan kebersamaan. Siapa pun yang duduk di sini posisinya sama, tak ada kasta, tak ada yang lebih tinggi atau rendah,” sambut Abah Muso, sapaan akrabnya. Senyum ramahnya kerap menghias. Terasa hangat dan bersahabat.

Bagi lelaki kelahiran Banjarnegara, 5 November 1972 itu, melayani adalah ibadah. Sesanti hidupnya itu terus dipegang teguh dalam setiap langkah pengabdiannya sebagai aparatur negara. Kepada Arina.id, Musobihin membagikan sekelumit lika-liku kisah perjuangannya dari hanya seorang anak desa di pegunungan Banjarnegara hingga pada pencapaian saat ini.

Perjuangan dari bawah
Perjalanan Musobihin tidaklah instan. Menempuh Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di wilayah pegunungan dengan segala keterbatasan, Musobihin remaja melanjutkan ke Madrasah Aliyah di Kalibeber Wonosobo guna lebih memperdalam agama. Musobihin yang selalu haus ilmu kemudian melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kini Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengambil jurusan Syariah Peradilan Agama.

Di kota pelajar itulah, kepekaan sosialnya terasah. Jiwa pergerakannya pun tumbuh. Apalagi ia bersahabat dengan budayawan muda Ngatawi al-Zastrow, yang juga menimba ilmu di kampus itu. Dari sosok yang kental dengan ideologi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, Musobihin turut belajar pentingnya humanisme, pluralisme, serta pandangan moderat dalam beragama, yang kelak mengantarkannya menjadi pemimpin bijak.

Pemuda Musobihin juga menjadi aktivis dan bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di Yogyakarta, ia menjalani kuliahnya dengan penuh kesederhanaan. Ia selalu menggenggam erat pesan orang tuanya, yakni menuntut ilmu dan belajar agama dengan benar.

Selepas wisuda dengan menyandang gelar Sarjana Agama, Musobihin sempat dua kali mencoba peruntungan menjadi hakim. Namun takdir membawanya ke jalur lain: menjadi calon pegawai pencatat nikah (CPPN) di daerahnya sendiri, Banjarnegara. 

Pada 1999. ia menapaki tugas sebagai penghulu di wilayah Susukan, kecamatan paling ujung yang berbatasan dengan Banyumas. Enam tahun mengabdi, ia mutasi ke Kecamatan Pejawaran, sebuah wilayah pegunungan di utara Banjarnegara pada 2005. Berikutnya ia menjalani pengabdian di Punggelan, Bawang, hingga dipercaya memimpin KUA Kecamatan Banjarnegara, yang berdiri megah di tengah kota ‘Dawet Ayu’.

Suka-duka, memberi warna
Setiap medan tugas menyimpan banyak cerita. Sering ia harus menembus jalan rusak menuju pelosok kampung terpencil. Namun, seberat apapun lokasi dan perjalanan, ia berusaha tepat waktu.

“Penghulu itu pelayan masyarakat. Harus disiplin waktu dan ketulusan hati. Itu adalah ruh pelayanan,” ucapnya lirih, seolah mengulang sebuah sumpah yang ia genggam lebih dari dua dekade.

Di berbagai desa yang di wilayah kerjanya, ia juga kerap menghadapi masyarakat yang masih berpegang teguh pada kepercayaan lokal, seperti hitungan Jawa dalam menentukan hari baik. Sebagai penghulu, ia belajar untuk tidak serta-merta melarang, tetapi mengedukasi dengan kearifan. Menurut Musobihin, ‘petung Jawa’ bukanlah kesalahan, hanya jangan sampai menyalahi syariat.

“Tugas kita adalah menuntun, bukan memaksa. Tapi juga ada ilmu yang disampaikan. Sering kami dapati ada pengantin yang di hari pernikahannya, Mbah-nya atau orang tuanya meninggal. Kemudian si pengantin melakukan akad nikah di depan jenazah Beliau. Seperti inilah yang harus kita edukasi,” kenangnya.

Maksimalkan fungsi KUA
Hal yang terpatri dalam benak masyarakat jika mendengar kata KUA (Kantor Urusan Agama), pasti hanya sebuah tempat mengurus surat-surat untuk pernikahan atau tempat ijab kabul. Karena identik dengan urusan cinta asmara, muncullah plesetan jika KUA adalah ‘Kantor Urusan Asmara’. Padahal, KUA tak hanya melayani pencatatan administrasi pernikahan saja. Ada 10 layanan lainnya, seperti pelayanan bimbingan keluarga sakinah dan ketahanan ekonomi keluarga.

Lebih dari sekadar mencatat akad, Musobihin memandang pernikahan sebagai ibadah yang panjang dan agung. Bimbingan perkawinan (binwin) juga menjadi prioritas. Karena itu, setiap Rabu, KUA Banjarnegara rutin menggelar edukasi bagi calon pengantin: dari makna syariat, hak dan kewajiban suami-istri, hingga manajemen keuangan keluarga.

Kesadaran itu berangkat dari kenyataan pahit. Angka perceraian di Banjarnegara terbilang tinggi, mencapai hampir 20 persen dari jumlah pernikahan setiap tahun. Dari sekitar 8.000 pasangan pengantin, hampir 2.000 di antaranya berakhir di meja perceraian. Bagi Musobihin, angka itu adalah alarm yang tak boleh diabaikan.

“Perceraian memang dibolehkan, tapi sangat dibenci Allah. Karena itu, pasangan yang akan nikah harus betul-betul paham. Rumah tangga tidak sekadar urusan cinta, tetapi juga kesadaran akan tanggung jawab,” tegasnya.

Bagi Musobihin, ketahanan negara berawal dari ketahanan keluarga. Keluarga yang harmonis akan melahirkan masyarakat yang damai, sementara rumah tangga yang rapuh hanya menyisakan masalah. Karena itu, selain bimbingan pra-nikah, ia juga mendorong bimbingan pasca-nikah.

“Kalau di rumah terus bertengkar, bagaimana mereka bisa memikirkan masa depan bangsa? Maka negara harus hadir dengan cara mendidik, mendampingi, dan memperkuat pondasi keluarga,” tegasnya.

Di bawah kepemimpinan Musobihin, KUA Banjarnegara terpilih sebagai KUA Revitalisasi Pertama di Indonesia yang diresmikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia pada 2021. Baginya, revitalisasi bukan semata renovasi gedung menjadi megah, tetapi perubahan paradigma. Bahwa KUA bukan hanya kantor pernikahan, melainkan pusat layanan keluarga dan masyarakat.

“KUA harus membumi, inklusif, mudah diakses, dan transparan. Gedung megah tak ada artinya bila budaya melayani tidak tumbuh,” imbuhnya penuh keyakinan.

Merawat keberagaman
Selain sebagai ASN yang mengemban jabatan ketua KUA, Musobihin juga dikenal kiprahnya sebagai tokoh perekat keberagaman. Sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banjarnegara, ia merawat dialog lintas iman dengan penuh kearifan. Ruang diskusi dengan tokoh masyarakat non-Muslim dibuka lebar. FKUB menjadi jembatan komunikasi antara ulama-umaro-dan masyarakat, untuk menjaga suasana tetap kondusif.

Salah satu puncaknya, adalah ketika terjadi ketegangan sosial secara nasional akhir Agustus 2025. Namun di Banjarnegara, FKUB bersama elemen masyarakat melebur dalam doa bersama mahasiswa serta ojek online. Doa bersama ini berlangsung dii Pendapa kabupaten, dipimpin langsung wakil bupati, H. Wakhid Jumali Lc. Pihak kepolisian juga mengambil peranan. Dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, diundanglah jajaran Forkopimda, organisasi masyarakat, mahasiswa, hingga komunitas ojek online untuk doa bersama.

Di situlah Musobihin akan selalu hadir bersama FKUB sebagai ruang silaturahmi yang merawat kebersamaan, menjaga harmoni, agar tak cerai-berai. Apalagi, Musobihin juga mendapat amanah sebagai Ketua DPC Syarikat Islam Banjarnegara, penasihat MUI, IPHI, dan pembina lembaga pendidikan Islam.

Cinta, perisai keluarga
Di balik aktivitas yang padat, Abah Muso tetap seorang ayah dan suami yang hangat. Bersama istrinya, Hj. Lilis Ujianti, S.Ag. M.Pd, membesarkan tiga buah hati: Muhammad Ghany Maulana, Lc, Ghalib Naufal Izzulhaq, SH, dan Amilia Ghina Zabrina. Membagi waktu antara tugas dan keluarga bukan hal mudah.

Namun, dengan kedisiplinan yang sama seperti ia terapkan dalam tugas, Musobihin berusaha menyediakan ruang untuk bercengkerama bersama keluarga.

“Cinta adalah perisai keluarga. Dan Keluarga adalah tempat saya kembali. Merekalah alasan saya kuat melayani,” ucapnya penuh kehangatan.

Di usia utama, karier Musobihin semakin moncer, seiring kiprahnya yang terus menyalakan semangat pengabdian kepada masyarakat. Dari mencatat akad nikah, membimbing keluarga sakinah, hingga merawat keberagaman. Ia berdiri sebagai penghulu yang bukan sekadar petugas, melainkan duta perdamaian pada lingkup daerahnya. KH Musobihin adalah cermin ulama dengan lelaku Rahmatan lil Alamin. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.