Mubadalah.id – Persoalan menjadi lebih serius ketika perempuan berada di wilayah dengan pembatasan hukum yang ketat terhadap aborsi dan tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang aman.
Dalam kondisi tersebut, sebagian perempuan dapat mencoba melakukan aborsi sendiri atau meminta bantuan orang yang tidak memiliki kompetensi medis.
Aborsi yang dilakukan secara tidak aman dapat menimbulkan komplikasi serius. Perdarahan hebat, infeksi, kerusakan organ reproduksi, hingga kematian merupakan sejumlah risiko yang dapat terjadi.
Karena itu, perempuan yang mengalami komplikasi setelah melakukan aborsi membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin. Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan jangka panjang.
Perempuan yang mengalami sakit, luka, atau perdarahan berat setelah menjalani aborsi dengan metode apa pun juga perlu mendapatkan pemeriksaan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya komplikasi yang membutuhkan penanganan.
Dalam beberapa kasus, komplikasi dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada rahim. Jaringan parut tersebut berpotensi menimbulkan masalah pada kehamilan maupun persalinan berikutnya.
Atas dasar itu, perempuan dengan riwayat komplikasi setelah aborsi perlu memperoleh pendampingan dan pemantauan kesehatan pada kehamilan berikutnya. Pemeriksaan kehamilan secara rutin dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui kondisi ibu dan janin serta mengantisipasi kemungkinan komplikasi.
Segera Ke Rumah Sakit
Perempuan yang pernah mengalami komplikasi berat setelah aborsi juga dianjurkan menjalani persalinan di fasilitas kesehatan atau lokasi yang dekat dengan rumah sakit maupun pusat kesehatan.
Langkah tersebut penting agar pertolongan medis dapat segera diberikan apabila terjadi masalah selama kehamilan atau persalinan.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai apakah seorang perempuan pernah mengalami keguguran atau aborsi bukan sekadar pertanyaan mengenai riwayat reproduksi. Informasi tersebut merupakan bagian penting dari riwayat kesehatan yang dapat membantu tenaga kesehatan memberikan perawatan secara lebih tepat.
Karena itu, perempuan sebaiknya dapat menyampaikan riwayat keguguran, aborsi, penggunaan obat atau jamu, serta komplikasi yang pernah tenaga kesehatan alami.
Informasi yang lengkap dan jujur dapat membantu memastikan kehamilan berikutnya mendapatkan pemantauan yang sesuai dan berlangsung seaman mungkin. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Melahirkan karya Susan Klein dkk, hlm 110.





Comments are closed.