
Bayangkan ada orang seperti ini di kampung kita.
Umurnya sudah tidak muda. Tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya kantor, tidak punya gelar apa-apa di depan atau di belakang namanya. Kalau ada acara besar di balai desa, dia tidak diundang ke panggung. Dia duduk di warung, di pos ronda, di emperan, ngobrol sama anak-anak muda yang sama-sama tidak punya apa-apa. Kadang dia menghilang berhari-hari tanpa kabar. Dia mbambung.
Tapi setiap kali dia ngomong, ada yang aneh. Orang-orang jadi bingung — bukan bingung karena tidak paham, melainkan bingung karena hal yang selama ini mereka anggap sudah jelas tiba-tiba jadi tidak jelas lagi.
Namanya Markesot.
Dia tokoh dalam tulisan-tulisan Mbah Nun — Muhammad Ainun Nadjib. Muncul pertama kali di buku Markesot Bertutur tahun 1993, lalu Markesot Bertutur Lagi tahun 1994, dan puluhan tahun kemudian hidup lagi di ratusan tulisan serial Daur di caknun.com.
Kalau kita baca sekilas, Markesot cuma orang gembel yang pintar ngomong.
Tapi kalau kita baca serius, kita akan sadar sesuatu: Markesot itu bukan orang. Markesot itu cara melihat.
Semacam kacamata. Kalau kita pakai, dunia yang sama akan kelihatan lain — bukan karena dunianya berubah, tapi karena tempat kita berdiri dipindah.
Isi Kepala Manusia Itu Seperti Operating System
Ada satu cara paling gampang untuk menjelaskan Markesot, dan kebetulan pakai bahasa yang kita sudah akrab: Hape yang ada di genggaman.
Hape punya dua lapis. Lapis yang kelihatan: casing, layar, aplikasi — Instagram, TikTok, WhatsApp, game. Dan lapis yang tidak kelihatan: sistem operasi (OS). Android, iOS, atau apa pun. Kita tidak pernah melihatnya, tapi dia yang menentukan segalanya. Aplikasi mana yang bisa jalan, bagaimana file disimpan, apa yang boleh dan tidak boleh.
Dua Hape bisa sama-sama punya WhatsApp. Tapi kalau OS-nya beda, cara kerjanya beda sampai ke akar.
Nah — manusia juga punya OS.
Lapis yang kelihatan itu seperti pendapat kita: kita suka apa, benci apa, setuju sama siapa. Tapi di bawahnya ada lapis yang jarang kita sadari: apa yang kita anggap nyata, apa yang kita anggap penting, dan dengan penggaris apa kita mengukur hidup kita.
Itu OS. Dan biasanya kita tidak pernah memilihnya. Kita cuma menerimanya — dari sekolah, dari tayangan video hiburan, dari berita, dari lingkungan, dari zaman.
Markesot ini menarik justru karena OS di dalam dirinya berbeda dari OS zaman ini. Padahal dia hidup di zaman yang sama dengan kita.
Aturan Pertama: Jangan Langsung Percaya Istilah
Kalau seluruh isi kepala Markesot diperas jadi satu kalimat, kira-kira begini: kenyataan itu tidak sama dengan istilah yang ditempelkan padanya.
Contohnya begini.
Orang bilang “dia sukses”. Markesot tidak membantah. Dia cuma bertanya pelan: sukses menurut ukuran siapa? Kalau uangnya banyak tapi anaknya tidak kenal bapaknya sendiri, itu sukses? Kalau jabatannya tinggi tapi tiap malam tidak bisa tidur karena takut jabatannya diambil orang, suksesnya di sebelah mana?
Orang bilang “ini pembangunan”. Markesot bertanya: yang dibangun apa, untuk siapa, yang untung siapa, yang digusur siapa? Kalau infrastrukturnya makin banyak tapi manusianya makin rusak, itu pembangunan atau perusakan?
Kelihatannya cuma main kata-kata. Padahal ini pisau paling tajam yang dia punya.
Kenapa? Karena begitu sebuah istilah diterima, otak biasanya berhenti bekerja. Istilah itu seperti kaleng biskuit. Sudah ada tulisannya, orang tidak buka lagi. Markesot justru mulai bekerja tepat sesudah istilah diberikan — dia seperti orang yang melihat kaleng “Khong Guan” tapi tetap membukanya dulu untuk memeriksa, siapa tahu isinya rengginang.
Dan ini bukan urusan orang dewasa saja. Coba pikir kata-kata yang tiap hari menempel di hidup kita.
“Anak pintar.” “Anak bodoh.” “Anak nakal.” “Jurusan favorit.” “Jurusan buangan.” “Masa depan cerah.”
Siapa yang bikin daftar itu? Berdasarkan apa? Kalau kita payah di matematika tapi bisa membuat orang tertawa, bisa memperbaiki motor, bisa membuat orang lain merasa aman — kita masuk kolom “pintar” atau “bodoh”?
Markesot tidak akan menjawab pertanyaan itu untuk kita. Dia cuma akan memastikan kita sadar bahwa penggarisnya buatan manusia, dan penggaris buatan manusia selalu bisa diperiksa ulang.
Sebab kekuasaan zaman sekarang jarang memaksa pakai kekerasan. Dia memaksa lewat kata. Begitu kita menerima kata-katanya, kita sudah kalah sebelum sempat berdebat — karena kita mengukur diri kita sendiri pakai penggaris milik orang lain.
Kenapa Markesot Memilih Duduk di Pinggir
Ada pepatah: ikan tidak bisa melihat air.
Kenapa? Karena dia di dalam air. Air itu terlalu dekat, terlalu biasa, terlalu ada di mana-mana sampai dia tidak kelihatan lagi.
Manusia sama saja. Orang yang seumur hidup ada di dalam suatu sistem — dan hidup dari sistem itu — hampir mustahil melihat sistem itu sebagai sistem. Bukan karena dia bodoh. Karena matanya sudah dibentuk oleh tempat duduknya.
Markesot memilih tidak punya tempat duduk — mbambung. Zaman ini menyediakan panggung, mikrofon, gelar, ranking, popularitas — dia malah memilih kursi plastik di pojokan.
Bukan karena pojokan itu suci. Tapi karena pinggir memberi jarak, dan jarak memberi penglihatan.
Dari kampung dia bisa melihat Jakarta. Dari orang kecil dia bisa melihat negara. Dari orang yang tidak punya jabatan dia bisa melihat watak kekuasaan dengan jernih. Kekuatan terbesarnya sederhana: dia tidak butuh pengakuan dari sistem yang sedang dia periksa. Tidak mungkin masuk ke sistem.
Kalau yang suka wayang, Markesot itu keluarga Semar — pengasuh yang sebenarnya derajatnya paling tinggi, tapi menyamar jadi orang paling rendah. Kerendahan yang disengaja, supaya penglihatannya tidak bisa dibeli siapa pun.
Dan dia punya satu pertanyaan reflektif kalau ditanyakan ke diri sendiri:
“Kalau semua tempelanmu dicopot, kamu ini siapa?”
Kalau followers-mu hilang, ranking-mu hilang, gelarmu dicopot, seragammu dilepas, nama kampusmu tidak disebut — tinggal apa? Zaman ini melatih kita mengenali diri lewat label dari luar. Markesot melatih hal sebaliknya.
Sebelum Menilai, Periksa Dulu Kita Berdiri di Mana
Ada dua orang bertengkar soal sebuah rumah.
Yang satu bilang, “Rumah itu jendelanya dua.” Yang satu ngotot, “Ngawur, cuma satu!”
Mereka bertengkar sampai merah mukanya. Padahal dua-duanya tidak berbohong. Yang satu berdiri di depan rumah, yang satu di belakang. Mereka cuma lupa mengucapkan satu kalimat paling penting: “Aku melihatnya dari sebelah……..”
Kebanyakan pertengkaran manusia — di kelas, di kampus, di kampung, di rumah, di pasar, di istana, di kolom komentar — bukan karena barangnya beda. Barangnya sama persis. Yang beda titik posisi berdirinya.
Markesot melatih kesadaran ini terus-menerus. Sebelum menilai apa pun: kita sedang berdiri di mana waktu melihatnya? Apa kepentingan kita? Apa yang kita takutkan? Apa yang kita harapkan? Semua itu ikut membentuk apa yang kita “lihat”.
Dan Markesot mendorongnya sampai ujung: jangan-jangan seluruh dunia ini terlalu sering kita ukur cuma dari kepentingan manusia. Bahkan cuma dari kepentingan diri kita sendiri. Padahal hulu itu semua adalah ukuran menurut Allah.
Semuanya Nyambung
Di sekolah, hidup dipotong-potong jadi mata pelajaran. Jam pertama Ekonomi. Jam ketiga Biologi. Jam kelima Agama. Di kampus, pagi ini matkul Pengantar Sejarah, siang nanti Bahasa Indonesia. Seolah-olah kenyataan memang tersusun begitu.
Markesot hampir tidak pernah berpikir seperti itu.
Baginya harga cabai bisa jadi soal politik. Politik jadi soal akhlak. Akhlak jadi soal bagaimana manusia memahami dirinya sendiri. Dan bagaimana manusia memahami dirinya, akhirnya jadi soal Tuhan.
Jadi pertanyaan Markesot bukan cuma “ini apa?”, tapi “ini nyambungnya ke mana?”
Karena itu tulisan Mbah Nun bisa berangkat dari pisang goreng, sandal, kambing, celana dalam, atau tetangga yang ribut, lalu tiba-tiba sampai ke Tuhan. Itu bukan melantur. Memang begitulah bentuk kenyataannya — tidak terkotak-kotak. Yang memotong-motongnya jadi jurusan dan mata pelajaran itu sekolah, bukan hidup.
Dan ada kabar baik di sini buat kita: kita tidak perlu kuliah dulu untuk mulai berpikir serius. Bahannya sudah ada di dapur, di jalan, di kantin, di grup WhatsApp kelas. Yang kurang cuma satu — kemauan berhenti sebentar dan bertanya.
Tools yang Dipakai Markesot
1- Akal, tapi tidak sendirian.
Markesot bukan anti-akal. Malah kadang logikanya lebih galak daripada orang yang mengaku paling rasional. Kalau kita bilang A, dia akan mengejar: “Kalau A benar, akibatnya B, kan? Kalau B benar, berarti C?” Terus sampai kita sendiri kaget melihat ke mana ucapan kita bermuara.
Tapi akal bukan satu-satunya alat. Manusia juga punya rasa, pengalaman, nurani, kasih sayang, firasat. Kalau yang dipakai cuma akal, hasilnya pintar tapi kering. Kalau cuma perasaan, hangat tapi gampang tersesat. Semuanya dipakai bergantian, saling mengoreksi.
Orang Jawa lama sudah lama tahu bahwa ada ilmu yang tidak bisa masuk lewat kepala, harus lewat rasa; ada pengetahuan yang tidak diperoleh dengan membaca, tapi dengan laku — dijalani, bukan dihafal.
Dan di Daur, ini makin terang. Al-Qur`an tidak diletakkan sekadar sebagai gudang informasi atau kumpulan hukum, melainkan sebagai metodologi melihat — cara memandang kehidupan. Judulnya bahkan sangat gamblang: Al-Qur’an adalah Metodologi Agung.
2- Yang tidak kelihatan belum tentu tidak ada.
Ini beda paling dasar antara cara pandang lama dan cara pandang zaman ini. Cara pandang zaman ini gampang menyimpulkan: kalau tidak bisa diukur, berarti tidak nyata. Markesot tidak menolak alat ukur. Dia cuma menolak kesimpulan bahwa yang tidak tertangkap alat ukur otomatis tidak ada. Orang yang lupa soal ini akan hidup di dunia yang jauh lebih sempit daripada dunia yang sebenarnya — sambil merasa dirinya paling luas wawasannya.
Ada perumpamaan yang bagus untuk ini. Timbangan itu alat yang sangat berguna di pasar. Tapi kalau ada orang berkata, “Yang tidak bisa ditimbang, berarti tidak ada,” Markesot mungkin akan bertanya pelan: kasih sayang ibumu itu beratnya berapa kilo?
3- Guyon sebagai alat bongkar.
Ini bagian yang paling sering diremehkan. Guyonan Markesot bukan hiasan supaya tulisan berat jadi enak. Guyon itu caranya bekerja.
Alasannya masuk akal: orang tidak akan mau memeriksa isi kepalanya sendiri kalau merasa sedang diserang. Begitu diserang, dia bertahan, pintunya tertutup. Tapi orang yang sedang tertawa itu sedang tidak membela diri.
Polanya sering begini: ada yang bilang X. Markesot tidak membantah — dia terima X bulat-bulat, lalu menjalankannya sampai ujung, sampai kelihatan gilanya. Semua tertawa. Dan tepat di tengah tawa itu muncul rasa: lho iya ya, kok selama ini aku percaya begitu?
Itulah momen ketika seseorang keluar beberapa sentimeter dari kepalanya sendiri.
4- Berani bilang belum tahu.
Kita hidup di zaman yang menuntut sikap dalam tiga detik. Ada berita, harus langsung setuju atau menolak. Ada orang tersandung, langsung dihakimi rame-rame.
Markesot punya kebiasaan yang hampir punah: “Belum tentu.” “Kita lihat dulu.” “Mungkin bukan begitu perkaranya.”
Itu bukan plin-plan. Itu kesabaran. Sebab banyak kesalahan besar manusia lahir bukan dari kebodohan, tapi dari kesimpulan yang diambil terlalu cepat — lalu terlanjur dipertahankan karena malu mencabutnya.
Dan yang paling berbahaya menurut Markesot bukan orang bodoh. Orang bodoh yang tahu dirinya bodoh masih bisa belajar. Yang berbahaya adalah orang yang belum tahu tapi sudah yakin dirinya tahu.
5- Kebenaran lebih besar daripada identitas.
Manusia suka bertanya “siapa yang ngomong?” Markesot lebih tertarik “omongannya benar apa tidak?”
Kalau musuhmu bilang 2 + 2 = 4, tetap empat. Kalau orang yang kamu hormati bilang 2 + 2 = 5, kehormatannya tidak membuat jawaban itu jadi benar.
Sebab gampang sekali manusia merasa memiliki kebenaran cuma karena memakai lencananya. Padahal “saya anak IPA” tidak otomatis membuat semua pikiranku benar. “Saya orang beragama” tidak menjamin setiap ucapanku benar. Markesot tidak nyaman jadi pemilik kebenaran. Dia lebih memilih jadi pencari ketepatan — dan itu beda jauh. Pemilik akan mempertahankan; pencari akan terus memeriksa, termasuk memeriksa dirinya sendiri.
Ukuran yang Dipakainya
1- Benar saja belum cukup — harus pener.
Ini ajaran Jawa yang bagus sekali, namanya empan papan: sesuatu ditaruh sesuai tempat dan ukurannya.
Ada hal yang benar secara umum tapi menjadi salah begitu diletakkan di tempat yang keliru. Nasihat bagus bisa berubah jadi kekejaman kalau diberikan waktu orang sedang hancur. Jujur bisa berubah jadi sombong. Diam bisa jadi kebijaksanaan, tapi bisa juga jadi pengecut. Marah biasanya buruk, tapi ada saat di mana tidak marah justru salah.
Jadi pertanyaannya bukan cuma “benar atau salah?”, melainkan: benar untuk siapa, kapan, di mana, dan dalam kadar berapa?
Air itu baik. Tiga liter air diminum sekaligus belum tentu baik.
2- Waktu itu muter berulang, bukan garis lurus.
Zaman ini mengajari kita bahwa waktu itu tangga naik: kemarin terbelakang, hari ini lumayan, besok maju. Makanya kita selalu buru-buru dan selalu merasa ketinggalan.
Markesot pakai jam yang lain. Baginya waktu itu Daur — siklus berulang. Ada tanam, tumbuh, panen, busuk, tanam lagi. Peradaban juga begitu: lahir, matang, membengkak, lapuk, runtuh, lahir lagi dalam bentuk lain. Termasuk Indonesia.
Jadi pertanyaannya bukan “sudah sampai mana kemajuan kita?”, tapi “kita sedang di titik mana dalam putaran itu?”
Ini melegakan, sebenarnya. Kalau waktu itu garis lurus, gagal berarti tamat. Kalau waktu itu daur, kegagalan cuma musim — dan keberhasilan juga cuma musim, jadi tidak usah terlalu sombong.
3- Maju itu belum tentu maju.
Markesot punya pertanyaan pendek yang menohok: maju menuju mana?
Motor makin cepat tapi orangnya tidak tahu mau ke mana — itu kemajuan? Informasi melimpah tapi manusia makin bingung membedakan benar dan bohong — itu maju? Rumah makin besar tapi keluarganya makin jarang ngobrol — majunya di sebelah mana?
Bagi Markesot, kemajuan bukan sekadar pindah posisi di garis waktu. Kemajuan harus punya arah. Kalau perjalanannya menjauhkan manusia dari kasih sayang, dari keseimbangan, dari Tuhan — namanya boleh kemajuan, isinya kemunduran.
4- Dunia bukan tujuan akhir
Zaman ini mengukur hidup dengan pertanyaan: berapa lama, berapa banyak, setinggi apa, sebesar apa pengaruhnya. Di balik semua ukuran itu ada satu anggapan diam-diam — dunia ini panggung satu-satunya. Kalau pertunjukan di sini selesai, habis perkara.
Markesot memakai rentang yang lain. Hidup ini abadi: hidup di dunia dan hidup di akhirat. Sama-sama hidup, beda bentuk kehidupan. Baginya dunia cuma satu bagian dari perjalanan, dan kematian bukan tembok terakhir. Dalam Daur, Mbah Nun bahkan menulis judul yang membalik segalanya: Kiamat Sebagai Awal Urusan.
Akibatnya sangat praktis. Kalau mati adalah titik habis, orang akan sanggup melakukan apa saja demi bertahan — menjilat, diam ketika harus bicara, ikut arus meski tahu arusnya salah. Tapi kalau mati cuma perpindahan tahap, ternyata ada yang lebih buruk daripada mati: mengkhianati apa yang kita tahu benar, menjual harga diri, menyakiti orang demi selamat sendiri.
Menurut Markesot, Manusia Itu Apa?
Sekarang bagian yang paling dalam.
Cara pandang zaman ini kira-kira berbunyi: “Aku adalah diriku sendiri.” Tubuhku milikku. Waktuku milikku. Hidupku proyekku. Aku yang menentukan siapa aku. Aku harus jadi versi terbaik dari diriku.
Tidak semuanya buruk. Dari sini lahir ruang kebebasan pribadi yang penting dan memang harus dijaga.
Tapi Markesot bertanya sesuatu yang bikin diam:
“Kamu kok yakin dirimu itu milikmu?”
Tubuhmu — kamu yang bikin? Napasmu — kamu yang produksi? Ibumu — kamu yang pilih? Umurmu — kamu yang tentukan kapan habisnya? Jantungmu — kamu yang menyuruh berdetak tiap malam waktu kamu tidur pulas?
Kalau dipikir jujur, jawabannya tidak satu pun.
Maka manusia bukan pemilik dirinya. Dia hanya dititipi dirinya.
Dan pergeseran kecil ini mengubah seluruh cara hidup. Kalau sesuatu milikku, pertanyaannya: “Aku bebas berbuat apa?” Kalau sesuatu titipan, pertanyaannya berubah total: “Aku harus memperlakukannya bagaimana?”
Dari sini lahir manusia yang tersambung: aku anak seseorang, aku tetangga seseorang, aku bagian dari alam, aku hamba di hadapan Allah. Kalau semua sambungan itu dicabut, yang tersisa bukan manusia bebas. Yang tersisa manusia sendirian.
Dan kemerdekaan, dalam kacamata ini, bukan berarti “aku boleh apa saja”. Merdeka artinya tidak diperbudak oleh yang bukan Allah. Tidak diperbudak kepintaran AI, uang, jabatan, follower, gengsi, pujian, nafsu sendiri, atau ketakutan pada penilaian orang.
Sebab manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar tidak menyembah apa-apa. Yang terjadi cuma pergantian yang disembah. Orang yang merasa sudah bebas dari segala aturan sering tidak sadar bahwa sekarang dia sujud pada jumlah like, pada merek sepatu, pada penilaian orang yang bahkan tidak dia kenal.
Satu lagi: manusia bukan pusat semesta. Hujan bukan cuma “bagus kalau tidak mengganggu acara kita”. Gunung bukan cuma “berguna kalau bisa ditambang”. Alam punya keberadaan yang tidak menunggu persetujuan manusia. Kita ini penghuni, bukan pemilik. Dan penghuni kontrakan dunia rata-rata maksimal 80 tahun yang merasa pemilik, biasanya akan merusak rumahnya sendiri sambil merasa sedang merenovasi.
Kernel-nya: Tauhid
Sampailah kita ke bagian paling bawah.
Dalam bahasa komputer, bagian paling dalam sistem operasi itu namanya kernel. Dia yang paling tidak kelihatan, tapi semua hal lain berjalan di atasnya.
Nah, kernel Markesot itu tauhid.
Tapi tauhid di sini jangan dipahami cuma sebagai hafalan “Tuhan itu tunggal”. Kalau cuma begitu, anak SD sudah selesai.
Tauhid artinya cara menyusun seluruh kenyataan: yang banyak ini semua kembali kepada Yang Tunggal. Ekonomi, politik, keluarga, tubuh, seni, ilmu, alam, kematian — bukan kotak-kotak terpisah, melainkan punya satu-satunya pusat.
Makanya tulisan Mbah Nun bisa lompat dari negara ke Al-Qur’an, dari kambing ke akhirat, dari internet ke soal cinta, tanpa merasa sedang pindah jurusan. Sebab dalam cara pandang ini memang tidak ada jurusan yang benar-benar terpisah.
Kalau perumpamaan Hape tadi kita teruskan sampai habis:
Tauhid itu kernel — bukan aplikasi “Agama.exe”.
Agama bukan aplikasi yang dibuka hari Jumat lalu ditutup lagi sesudah sholat. Dia ada di lapisan paling bawah, yang menentukan bagaimana semua aplikasi lain berjalan. Ekonomi jalan di atasnya. Politik jalan di atasnya. Persahabatan jalan di atasnya. Bahkan guyon jalan di atasnya.
Dua Sistem Operasi, Berhadapan
Kalau kita ringkas, bedanya kira-kira begini.
OS zaman ini berkata: yang nyata adalah yang bisa diukur. Aku ini individu yang berdiri sendiri. Alam adalah barang yang bisa dikelola. Ilmu untuk menguasai. Waktu adalah garis lurus, dan time is money. Bebas artinya boleh memilih apa saja. Sukses artinya tumbuh, naik, produktif. Dunia adalah panggung satu-satunya.
OS lama yang dipakai Markesot berkata: kenyataan itu berlapis, ada yang tampak dan ada yang tidak. Aku ini makhluk yang tersambung dan dititipi. Alam itu sesama ciptaan, manusia anak bungsu dalam penciptaan. Ilmu untuk menemukan posisi, bukan untuk menaklukkan. Waktu itu daur, dan waktu adalah amanah. Merdeka artinya tidak diperbudak selain Allah. Sukses artinya berada di posisi yang tepat. Dunia cuma kilometer pertama dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Perhatikan pertanyaan dasarnya, di situ bedanya paling terasa:
OS baru bertanya “ini apa?” — OS lama bertanya “ini nyambungnya ke mana?” OS baru bertanya “ini berhasil tidak?” — OS lama bertanya “ini tepat tidak?” OS baru bertanya “apa untungnya buat saya?” — OS lama bertanya “saya ini siapa dalam hubungan semua ini?” OS baru bertanya “siapa yang menang?” — OS lama bertanya “kebenarannya sedang ada di mana?”
Nah, di sinilah Markesot menemukan tempatnya.
Markesot adalah orang yang masih menjalankan OS lama di tengah mesin zaman yang seluruhnya modern. Sebut saja OS Markesot. Dia hidup di negara modern, di tengah pasar, media, sekolah, teknologi. Tampilan luarnya (interface) ikut zaman — dia baca koran, menggunakan internet, tahu politik dunia, paham bagaimana uang bekerja. Tapi bagian paling dalamnya tidak ikut diganti.
Dan ini penting sekali: ini bukan ajakan mundur ke zaman dulu. Markesot tidak menyuruh siapa pun membuang Hape dan hidup seperti tahun 1750. Dia sendiri pakai mikrofon, naik mobil, bicara soal internet dan demokrasi. Yang dia pertahankan bukan barang-barang lamanya. Yang dia pertahankan kernel-nya.
Markesot itu seperti orang yang bisa dua bahasa. Dia fasih berbicara bahasa zaman ini — tapi tidak bisa ditipu olehnya, karena dia masih ingat ada bahasa yang lain.
Penutup: Jadi Buat Apa Semua Ini?
Kita mungkin bertanya: oke, tapi buat apa untuk aku yang besok pagi masih harus berangkat sekolah? Yang masih harus berangkat kuliah?
Begini. Markesot tidak menawarkan pendapat yang harus kita hafal. Dia menawarkan cara berdiri, memandang, dan merumuskan. He is cultivating alternative ways of seeing, naming and living. Dan cara itu bisa dipakai siapa saja, tanpa perlu gelar dan tanpa perlu panggung.
Kalau dipadatkan jadi kebiasaan sehari-hari, kira-kira begini. Ada sesuatu datang — berita, gosip, penilaian orang tentang dirimu, tuntutan zaman. Jangan langsung percaya istilahnya. Ambil jarak sedikit dari keramaian. Periksa dulu kamu sedang berdiri di mana. Putar-putar dulu barangnya, lihat dari beberapa sisi. Cari sambungannya ke mana. Uji dengan akal, rasakan dengan hati, dan jangan mengira alat ukurmu sanggup menampung seluruh kenyataan. Tertawakan bagian yang memang lucu. Jangan buru-buru merasa sudah tahu. Periksa posisi dirimu sendiri. Lalu kembalikan semuanya kepada Allah.
Itu bukan pelajaran yang ada di kurikulum mana pun. Itu ilmu yang dijalani, bukan dihafal. Dan kalau benar-benar dijalani dalam hidup sehari-hari — di rumah, di sekolah, di kampus, di kantor, di jalan, di kampung, di layar Hape-mu — itulah yang barangkali pantas disebut Urip Markesotan.
Dengan bahasa paling sederhana: Markesot tidak menolak naik mobil baru. Dia cuma tidak mau mobil itu yang mengambil alih setir hidupnya.
Teknologinya boleh baru. Alat-alatnya boleh canggih. Bahasanya boleh bahasa zaman sekarang. Tapi yang pegang setir jangan sampai berganti.
Dan lebih dalam lagi, Markesot tahu satu hal yang sering kita lupakan: kita ini sebenarnya bukan pemilik mobilnya, bukan pemilik jalannya, bahkan bukan pemilik diri kita sendiri. Kita cuma sedang diberi kesempatan mengemudi.
Maka perkara terbesar hidup ini bukan seberapa cepat kita melaju.
Melainkan: arah kita benar tidak, cara kita mengemudi benar tidak, siapa saja yang kita tabrak di jalan, dan kelak kita pulang ke mana.





Comments are closed.