Sun,31 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Anak dikepung konten digital? TV bisa bentuk kebiasaan menonton yang lebih terkontrol

Anak dikepung konten digital? TV bisa bentuk kebiasaan menonton yang lebih terkontrol

anak-dikepung-konten-digital?-tv-bisa-bentuk-kebiasaan-menonton-yang-lebih-terkontrol
Anak dikepung konten digital? TV bisa bentuk kebiasaan menonton yang lebih terkontrol
service

● Ramainya serial kartun impor pada 1990-an membuat televisi menjadi ruang bersama bagi anak-anak Indonesia.

● Pergeseran ke gawai dan ‘streaming’ memberi anak kuasa penuh atas tontonan, tapi membuat mereka lebih pasif di ruang virtual.

● Serial televisi anak yang dekat dengan realitas sehari-hari dapat memperkuat interaksi sosial di kalangan mereka.


Pada era 1990-an, stasiun televisi swasta Indonesia sempat dibanjiri serial kartun impor dari Amerika Serikat dan Jepang—seperti Doraemon, Pokemon, Captain Tsubasa, hingga Dragon Ball.

Tayangan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi bahan obrolan ringan dan menjadi akses masuk dalam lingkaran pertemanan sebaya.

Karena jadwal tayangnya serentak di layar kaca, anak-anak terbiasa menunggu jam tayang, menonton bersama, lalu membicarakannya di sekolah keesokan hari.

Namun, kehadiran internet berkecepatan tinggi telah mengubah posisi televisi sebagai media mainstream di kalangan masyarakat.

Ini turut mengubah pola anak-anak dalam mengakses tontonan. Peluncuran iPhone di tahun 2007 dan kehadiran kamera depan yang terkoneksi dengan media sosial antara 2010 hingga 2015 mengenalkan anak-anak pada dunia digital.

Anak-anak tidak lagi menunggu acara yang dijadwalkan di hari dan jam tertentu. Dengan sekali ketik judul di saluran streaming, mereka kini bisa menonton apa saja, kapan saja.

Akibatnya, tayangan kartun tidak lagi jadi bahan perbincangan dalam interaksi sosial nyata di kalangan anak-anak, tetapi justru membuat anak beraktivitas pasif di ruang virtual.

Karena itu, menghidupkan kembali serial televisi berkualitas dengan narasi universal menjadi penting. Sebab, durasi tayangan televisi yang berbasis episode bisa menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali pengaturan waktu, emosi dan perilaku dalam menonton tayangan.

Mengapa serial TV?

Usia ideal anak untuk bersinggungan dengan internet adalah di atas 13 tahun. Namun, di Indonesia, 33,4% anak usia 0 – 6 tahun sudah terbiasa menggunakan gawai.

Padahal, rentang usia 0 – 3 tahun merupakan masa kritis anak ketika neuroplastisitas dalam otak yang berfungsi untuk memproses rangsangan berkembang sangat pesat.

Dalam fase ini, anak-anak memerlukan stimulus langsung dari aktivitas fisik sebagai fondasi yang kuat bagi arah perkembangan sosial dan kognitif.

Ketika paparan tayangan cepat (reels) mulai masuk pada fase usia ini, maka anak-anak akan kehilangan momen kritisnya di dunia sosial yang nyata. Alhasil, terjadilah penurunan kondisi otak dalam merespon sesuatu atau yang lebih dikenal dengan istilah brain rot.


Read more: ‘Brain rot’ mudah menimpa anak dan remaja karena konten serba cepat


Saat ini, anak-anak di Indonesia berada dalam ruang antara: mereka tidak benar-benar hidup di ruang sosial secara fisik, tapi juga tidak benar-benar hidup di satu ruang virtual yang tetap.

Tayangan yang ditawarkan dalam gawai cenderung berubah dengan cepat. Tidak ada tren tunggal dan linear karena anak-anak dibimbing oleh algoritma.

Sementara di televisi, tontonan bisa dinikmati secara episodik dengan konteks cerita yang berkesinambungan dan memberi ruang untuk berimajinasi. Sehingga, waktu anak-anak secara tidak langsung diatur oleh apa yang mereka konsumsi.

Hal ini disebut pengaturan temporal, yakni bagaimana tubuh diatur melalui serangkaian penyesuaian yang dipengaruhi teknologi, norma, maupun pengaruh kelembagaan tertentu.

Serial televisi memiliki jadwal tayang rutin yang membantu anak belajar mengatur waktu. Anak-anak akan menyesuaikan jadwal dengan cara mereka: bangun pagi di akhir pekan untuk melihat acara serial TV pagi, membicarakan tayangan hari ini dengan teman-temannya saat di kelas, meniru gaya bahasa seperti yang mereka lihat di tayangan tersebut dan sebagainya.

Serial TV Dragon Ball.

Pengaturan ini susah ditemukan ketika anak-anak mengonsumsi tayangan di media streaming karena mereka bisa mengaksesnya kapan saja.

Ganti narasi serial TV

Secara visual dan penggunaan teknologi, tayangan animasi dan serial TV anak di Indonesia sudah semakin berkembang selama empat dekade terakhir.

Namun, narasi yang ditonjolkan belum mencerminkan keragaman nilai-nilai universal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Serial Nussa misalnya, lebih menonjolkan narasi religius dan kurang memberi ruang terhadap representasi simbol budaya lain yang beragam di Indonesia sehingga terkesan menyorot komunitas tertentu saja.

Nilai moral dan agama tentu saja penting bagi anak-anak, tetapi jika menjadi narasi dominan, anak-anak bisa berjarak dari realitas yang sesungguhnya. Sebab, kedua nilai ini kerapkali memberikan jawaban “yang seharusnya” atas sebuah situasi.

Padahal, dalam interaksi harian, anak-anak sering menghadapi situasi yang berbeda.

Nilai-nilai universalitas ini perlu dipadukan dengan penyajian yang dekat dengan realitas sehari-hari. Inggris misalnya menghadirkan karakter kelinci Bing dengan membawa pesan tentang emosi dan regulasi diri, mengajarkan kemampuan praktis serta kemandirian secara bertahap dan pelan-pelan.

Sementara Australia memiliki Bluey, tayangan anak berkualitas yang diproduksi oleh Ludo Studio untuk Australian Broadcasing Corporation (ABC Kids) dan dikomisikan bersama oleh ABC Children’s dan BBC Studios Kids & Family. Serial ini berhasil membawakan topik yang kontekstual, realistis dan universal.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kita bisa belajar dari keseriusan pemerintah Australia dalam menyediakan saluran khusus anak-anak dan iklim screentime yang aman dalam pengawasan orang tua.

Kita juga bisa melakukan dekonstruksi narasi tayangan agar tidak hanya mengajarkan moralitas relijius, tetapi mulai menghadirkan moralitas publik. Moralitas publik tidak hanya mengajarkan apa yang baik dan buruk menurut agama tertentu, tetapi ia mengajarkan bagaimana etika berperilaku dan bertindak dalam keberagaman di ranah publik.

Dengan langkah-langkah tersebut, inovasi serial televisi anak-anak di era digital dapat menjadi cara untuk membantu anak-anak mengatur waktu dan pola aktivitas sosial mereka.

Harapannya, aktivitas menonton bukan lagi tujuan akhir tetapi sebagai permulaan untuk bahan interaksi sosial mereka di dunia nyata.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.