Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Nasi Bukan Biang Perut Buncit

Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Nasi Bukan Biang Perut Buncit

anak-gemuk-belum-tentu-sehat,-nasi-bukan-biang-perut-buncit
Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Nasi Bukan Biang Perut Buncit
service

Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan maraknya informasi kesehatan di media sosial, berbagai mitos tentang gizi masih terus bertahan di masyarakat.

Beberapa mitos yang beredar misalnya, anak bertubuh gemuk kerap dianggap sebagai tanda sehat dan cukup gizi. Makan malam sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Sementara nasi sering dituding sebagai penyebab utama perut buncit. Benarkah demikian?

Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Ali Khomsan menilai anggapan itu lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami prinsip gizi seimbang. Ia menjelaskan, ukuran kesehatan tidak dapat ditentukan hanya dari tampilan fisik.

Ia mengatakan persepsi yang keliru justru berisiko memicu berbagai penyakit kronis sejak usia muda. “Kalau zaman dulu gemuk dianggap lambang kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang kita menyadari gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit tidak menular,” ujarnya dalam keterangan untuk Prohealth.id, Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menjelaskan, indikator anak sehat seharusnya mengacu pada kesesuaian berat badan dan tinggi badan berdasarkan standar medis. Kegemukan menjadi faktor risiko penting munculnya hipertensi, diabetes, hingga gangguan metabolik lainnya. “Hipertensi, diabetes, penyakit gula, salah satunya disebabkan oleh faktor risiko penting yaitu kegemukan,” jelasnya.

Ia menyatakan, kekhawatiran orang tua terhadap anak bertubuh kecil juga kerap menimbulkan salah persepsi. Ali menegaskan anak kecil belum tentu mengalami stunting.

Stunting, kata dia, ada ukurannya. Setiap posyandu mengetahui standarnya. “Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 sentimeter, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” terangnya.

Menurut Ali, standar itu tersedia di puskesmas maupun kader posyandu sehingga masyarakat dapat memperoleh penilaian yang objektif dan terukur. Ia juga meluruskan anggapan bahwa makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan.

Menurutnya, persoalan sebenarnya terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur. “Tubuh membutuhkan jeda empat sampai lima jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan berlangsung optimal,” katanya.

Karena itu, ia lebih menganjurkan makan sore. Terutama bagi kelompok usia paruh baya yang metabolisme tubuhnya mulai menurun.

Selain pola waktu makan, nasi juga sering dianggap sebagai penyebab utama kegemukan. Namun, Ali menilai persoalan itu lebih berkaitan dengan kebiasaan konsumsi.

“Mengapa nasi sering dianggap bermasalah? Karena nasi itu enak. Ketika orang makan nasi enak, dia cenderung makan lebih banyak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jika sumber karbohidrat lain seperti singkong atau ubi dikonsumsi berlebihan, dampaknya terhadap berat badan tetap sama.

“Saya melihatnya bukan semata karena kalorinya, tetapi karena kuantitas yang dikonsumsi. Orang makan nasi biasanya jumlahnya lebih banyak,” kata dia.

Melalui edukasi gizi yang tepat, ia berharap masyarakat makin memahami kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau bentuk tubuh tertentu. Kesehatan, kata dia, meliputi keseimbangan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.