Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut

Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut

antara-ritual-dan-perubahan:-kisah-sikerei-dan-masa-depan-bilou-di-siberut
Antara Ritual dan Perubahan: Kisah Sikerei dan Masa Depan Bilou di Siberut
service

Mantaola Siritoitet, adalah seorang sikerei di Desa Matotonan, Siberut Selatan, Sumatera Barat. Sebagai seorang sikerei atau penyembuh di dalam alam spritual Mentawai, dia dipercaya menjaga keseimbangan dan perantara antara dua alam, yaitu dunia manusia, dan dunia roh. Dalam menjalankan peran yang tidak sembarang orang bisa lakukan ini, seorang sikerei juga memiliki pantangan yang harus dilaksanakan. “Ada tiga pantangan yang selalu diturunkan ketika orang menjadi sikerei. Yaitu, pantang makan daging bilou, sayur paku (pakis), dan belut,” sebutnya kepada Mongabay Indonesia dalam bahasa Mentawai. “Kalau kami makan [ketiga pantang tadi], kami bisa meninggal.” Bilou (Hylobates klossii) sendiri adalah primata endemik Mentawai, yang memiliki ciri tubuh kecil berbulu gelap, tidak berekor, serta bergerak berayun di pepohonan dan bersuara nyaring. Dalam status daftar merah dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), satwa ini dikategorikan terancam punah (Endangered), akibat deforestasi dan perburuan. Mantaola tidak memungkiri jika dalam beberapa praktik ritual adat, perburuan adat tetap dilakukan untuk menandai siklus hidup. Meski demikian, Mantaola menyebut perburuan liar dilarang secara adat, karena manusia tidak bisa berbuat seenaknya yang dapat mengganggu keseimbangan antar unsur alam. Mantaola sendiri masih mempertahankan cara berburu tradisionalnya, yaitu panah yang diolesi dengan racun di ujung busurnya. Dia sendiri menyebut metode berburu lama lebih baik daripada yang saat ini banyak dilakukan banyak orang. “Menurut saya, cara yang lama lebih bagus daripada yang sekarang,” katanya. Semakin berkurangnya bilou juga dikonfirmasi oleh seorang sikerei lain, Walter Samelelu, asal Desa Rogdok. “Dulu masih mudah mendapatkan hasil buruan. Tapi kalau sekarang sudah sulit,” sebut Walter. “Ditambah sekarang kami…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.