Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Mengapa banyak bintang TNI-Polri justru bersinar saat berpangkat melati? Di antara kematangan pengalaman dan belum beratnya beban strategis, perwira menengah tampak menjadi ruang ideal membangun reputasi, memanen legitimasi, dan menyiapkan jejak kepemimpinan masa depan. Benarkah demikian?
Di tengah derasnya arus media sosial dan meningkatnya perhatian publik terhadap institusi negara, Indonesia kiranya sedang memasuki sebuah fase baru yang dapat disebut sebagai era visible officers.
Jika pada masa lalu publik lebih mengenal institusi dibanding figur di dalamnya, kini situasinya berangsur berubah. Nama, wajah, gaya komunikasi, hingga rekam jejak individual para perwira TNI dan Polri semakin mudah dikenali masyarakat.
Fenomena ini terlihat dari munculnya sejumlah perwira menengah yang memperoleh eksposur publik cukup besar. Di lingkungan TNI, misalnya, terdapat nama-nama seperti Letkol Teddy Indra Wijaya, Letkol Denny Sopyan, Kolonel Benrieyadin Sjafrie, Kolonel Paulus Panjaitan, hingga Kolonel Eka Wira Dharmawan.
Sementara di lingkungan Polri, figur seperti AKBP Condro Sasongko, AKBP Arif Fazlurrahman, AKBP Roby Heri Saputra, hingga Kombes Pol. Manang Soebeti mulai dikenal melampaui batas organisasi tempat mereka bertugas.
Sekilas, kemunculan mereka tampak sebagai fenomena viral biasa. Namun apabila dicermati lebih dalam, terdapat pola yang jauh lebih menarik.
Hampir semua “rising melati”, bukan “rising star” dalam dunia militer dan kepolisian justru memperoleh sorotan ketika memasuki jenjang perwira menengah, bukan saat masih perwira pertama, dan belum pula ketika mencapai tingkat jenderal.
Fenomena tersebut bukan kebetulan. Dalam perspektif sosiologi organisasi, jenjang perwira menengah merupakan titik keseimbangan paling ideal antara pengalaman, otoritas, dan visibilitas.
Pada fase ini, seorang perwira telah memiliki jam terbang lapangan yang cukup matang, jaringan internal yang mulai luas, serta kapasitas kepemimpinan yang sudah teruji.
Namun pada saat yang sama, mereka belum dibebani sepenuhnya oleh tanggung jawab strategis tingkat nasional yang cenderung membatasi ruang manuver personal.
Karena itulah pangkat perwira menengah menjadi semacam sweet spot dalam karier militer maupun kepolisian. Sebuah periode ketika kompetensi sudah terbentuk, tetapi fleksibilitas masih tersedia.
Dalam bahasa populer generasi digital, inilah fase paling ideal untuk melakukan aura farming, membangun reputasi, kredibilitas, dan identitas kepemimpinan yang kelak menjadi modal politik, birokratik, maupun institusional di masa depan.
Lantas, mengapa fenomena tersebut menjadi signifikan?
Titik Optimum
Dalam teori career stage development, setiap profesi memiliki fase produktivitas tertinggi sebelum memasuki jenjang pengelolaan strategis.
Pada dunia militer dan kepolisian, fase tersebut umumnya berada pada level mayor, letnan kolonel, kolonel, atau setara dengan komisaris, AKBP, hingga kombes.
Pada tahap ini, seorang perwira tidak lagi berkutat pada urusan teknis individual sebagaimana perwira pertama.
Mereka sudah memimpin satuan, mengelola operasi, berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus mengambil keputusan yang memiliki dampak nyata di lapangan.
Namun, berbeda dengan para jenderal, perwira menengah masih memiliki ruang untuk menunjukkan karakter personal.
Mereka relatif lebih dekat dengan pasukan, masyarakat, dan media. Mereka dapat menjadi wajah operasi, wajah institusi, bahkan wajah perubahan organisasi.
Dalam kerangka Pierre Bourdieu, fase ini merupakan periode akumulasi symbolic capital atau modal simbolik.
Modal tersebut tidak hanya berasal dari pangkat formal, tetapi juga dari persepsi publik mengenai kompetensi, keberanian, integritas, kecakapan komunikasi, dan kualitas kepemimpinan.
Tidak mengherankan apabila banyak figur yang kemudian menjadi tokoh nasional mulai membangun reputasinya pada fase ini.
Di Indonesia, preseden tersebut terlihat pada sejumlah perwira yang memilih jalur pengabdian berbeda sebelum mencapai tingkat jenderal atau memiliki purna dini, seperti Mayor Agus Harimurti Yudhoyono, Letkol Iftitah Sulaiman Suryanagara, maupun Mayor Ossy Dermawan. Nama mereka mulai memperoleh perhatian publik justru ketika masih berada pada fase perwira menengah.
Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam tradisi militer negara-negara Barat. Dalam sejarah militer Amerika Serikat dan Inggris, justru pangkat mayor, letnan kolonel, dan kolonel yang paling sering muncul sebagai tokoh utama dalam buku-buku kepemimpinan militer.
Richard Winters dikenal dunia sebagai pemimpin legendaris Easy Company ketika berpangkat mayor. David Hackworth membangun reputasinya sebagai inovator tempur ketika masih kolonel.
H.R. McMaster menjadi figur intelektual militer berpengaruh jauh sebelum mencapai pangkat jenderal. James Mattis mulai memperoleh aura kepemimpinan strategis ketika masih kolonel.
Begitu pula Paddy Mayne dan David Stirling yang membangun legenda mereka saat memimpin satuan super elit Special Air Service, bukan ketika menduduki jabatan tertinggi.
Artinya, secara historis, pangkat perwira menengah memang merupakan fase alami lahirnya figur-figur yang kemudian dikenang publik.

Era Terlihat
Ada alasan lain mengapa fenomena ini terasa lebih menonjol saat ini. Bukan karena jumlah perwira berbakat meningkat drastis, melainkan karena lingkungan informasi telah berubah secara fundamental.
Dahulu, seorang perwira dapat memimpin operasi besar tanpa pernah dikenal masyarakat luas. Reputasi mereka beredar di lingkungan internal organisasi, bukan di ruang publik. Yang terkenal adalah institusinya, bukan individunya.
Kini logikanya berbeda. Media sosial, ekosistem digital, dan kebutuhan komunikasi publik membuat figur menjadi semakin penting.
Publik tidak hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan sebuah institusi, tetapi juga siapa yang menjalankannya. Nama, wajah, dan gaya komunikasi menjadi bagian dari narasi kepemimpinan modern.
Dalam konteks ini, perwira menengah berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Mereka cukup senior untuk memegang peran penting, tetapi masih cukup dekat dengan masyarakat untuk membangun koneksi emosional.
Mereka memiliki otoritas tanpa kehilangan fleksibilitas. Mereka memiliki tanggung jawab tanpa sepenuhnya tenggelam dalam birokrasi strategis tingkat atas.
Karena itu, fenomena yang sedang terjadi sesungguhnya bukan sekadar banyaknya perwira muda yang viral.
Fenomena yang lebih besar adalah lahirnya generasi baru visible officers di Indonesia—para perwira yang tidak hanya dinilai dari prestasi operasional, tetapi juga dari kemampuan membangun legitimasi publik.
Menariknya, simbol kepangkatan pada jenjang ini pun memiliki makna yang seolah selaras dengan fungsi tersebut. Di Indonesia, perwira menengah identik dengan bunga melati pada seragam TNI dan Polri.
Di Amerika Serikat, jenjang yang setara menggunakan simbol daun ek (oak leaves). Keduanya merepresentasikan fase pertumbuhan dan kematangan sebelum mencapai puncak pohon kepemimpinan.
Dengan demikian, perwira menengah bukan sekadar jenjang karier administratif. Ia merupakan laboratorium reputasi, ruang pembentukan karakter publik, sekaligus batu loncatan alami menuju kepemimpinan yang lebih besar.
Jika pangkat jenderal adalah panggung utama, maka pangkat melati adalah ruang latihan tempat aura seorang pemimpin pertama kali dipanen. Di sanalah banyak legenda mulai ditulis, bahkan sebelum bintang-bintang itu benar-benar terpasang di pundak mereka. (J61)





Comments are closed.