Kimpul mendadak viral di media sosial. Berawal dari kreativitas seorang kreator konten asal Bantul yang rutin mengganti berbagai bahan makanan dengan kimpul. Umbi lokal ini bisa diolah jadi beragam hidangan modern, mulai dari dumpling, lasagna, hingga cookies.
Fenomena itu tidak hanya membuat publik penasaran, tetapi juga membuka kembali diskusi tentang potensi pangan lokal Indonesia yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Viral di TikTok
Selama bertahun-tahun, kimpul lebih dikenal sebagai pangan tradisional. Namun belakangan banyak disebut di TikTok setelah kreator dengan akun @black.sheep8208 memperkenalkan berbagai resep yang menggunakan kimpul sebagai pengganti bahan utama, baik kentang, pasta, maupun nasi.
Kalimat khas, “Karena saya tidak punya …, jadi saya ganti kimpul,” menjadi ciri kontennya dan berhasil menarik perhatian jutaan pengguna media sosial. Tak sedikit warganet kemudian mencoba membuat kreasi serupa.
Secara ilmiah, kimpul atau Xanthosoma sagittifolium dikenal pula sebagai talas Belitung. Tanaman dari famili Araceae ini merupakan salah satu jenis umbi yang telah lama dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia.
Kimpul umumnya ditanam di lahan kering yang lembap, tetapi tidak tergenang air, dan dapat dipanen dalam waktu sekitar lima hingga sembilan bulan. Dalam kondisi budidaya yang baik, produksinya dapat mencapai 3,7 hingga 7,5 ton per hektare.
Bisa Jadi Pengganti Nasi?
Kimpul ternyata menyimpan kandungan gizi sebagai salah satu sumber karbohidrat alternatif.
Kimpul mengandung karbohidrat, serat pangan, vitamin C, vitamin B3, kalium, tembaga, beta karoten, serta rendah lemak. Kandungan patinya juga mudah dicerna sehingga berpotensi diolah menjadi tepung sebagai substitusi tepung terigu. Nilai tambah lainnya adalah sifatnya yang bebas gluten dan memiliki kadar lemak rendah sehingga produk olahannya relatif lebih awet.
Menurut berbagai sumber yang dihimpun GNFI, kandungan karbohidrat kimpul lebih rendah dibandingkan nasi putih dengan berat yang sama karena kadar airnya lebih tinggi. Sebaliknya, kandungan seratnya justru lebih tinggi sehingga dapat memberikan rasa kenyang lebih lama.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kimpul bukan berarti harus menggantikan nasi sepenuhnya. Umbi ini lebih tepat dijadikan salah satu pilihan sumber karbohidrat dalam pola makan yang beragam.
Potensi Besar untuk Ketahanan Pangan
Dikutip dari IPB Today, Guru Besar Departemen Ilmu Gizi IPB University, Prof. Evy Damayanthi, menilai talas kimpul memiliki potensi strategis dalam mendukung diversifikasi pangan nasional.
“Talas kimpul atau belitung merupakan makanan sumber karbohidrat, rendah lemak dan indeks glikemiksnya rendah. Talas kimpul juga mengandung zat gizi yang bermanfaat untuk kesehatan. Ada kandungan serat pangan, pati resisten, mineral tembaga dan kalium, vitamin B3 dan komponen bioaktif diogenin serta flavonoid,” jelasnya.
Menurut Prof. Evy, salah satu keunggulan utama kimpul adalah kandungan pati resisten tipe III (RS3). Senyawa ini berfungsi layaknya serat pangan yang tidak sepenuhnya dicerna tubuh sehingga memberikan berbagai manfaat kesehatan.
“Talas kimpul dapat dianggap sebagai bahan baku yang layak untuk mendapatkan pati resisten tipe III (RS3). Pati resisten ini bagus untuk kesehatan karena mencegah penyakit kardiovaskular, kanker kolon, diabetes, obesitas dan osteoporosis. Pati resisten juga menyehatkan usus, memudahkan penyerapan zat gizi mikro hingga meningkatkan jumlah mikroorganisme probiotik dalam tubuh,” katanya.
Tak hanya itu, kimpul juga mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, fenol, hingga diosgenin yang dikenal memiliki sifat antioksidan. Menurut Prof. Evy, kandungan diosgenin bahkan berpotensi membantu menjaga kesehatan kulit atau memiliki efek antiaging.
Kimpul Masuk Industri
Selama ini masyarakat umumnya mengolah kimpul dengan cara sederhana, yakni direbus atau digoreng. Padahal, potensi pemanfaatannya jauh lebih luas. Menurut Prof. Evy, umbi ini dapat diolah menjadi tepung sehingga dapat menjadi bahan baku berbagai produk pangan modern.
“Selama ini, talas kimpul hanya diolah dengan cara direbus dan digoreng, padahal talas kimpul bisa dijadikan tepung yang kemudian diolah menjadi cookies, roti tawar, mie kering, mie basah, bakso, brownies, hingga bahan pengental makanan,” ujarnya.
Bagi Prof. Evy, kimpul merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang layak dikembangkan.
“Dalam beberapa tahun ini, kami sangat gencar mendukung sagu sebagai sumber karbohidrat untuk ketahanan pangan Indonesia. Talas kimpul adalah salah satu kekayaan Indonesia. Kita sudah coba olahannya dan sangat-sangat layak rasanya. Dengan upaya menjadi tepung, maka lebih luas penggunaannya. Saya kira secara organoleptik sangat layak dan secara kesehatan juga sangat bagus sekali,” tuturnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News




Comments are closed.