Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Beda dari yang Lain, Kenapa Pulau Sulawesi Berbentuk Huruf “K”?

Beda dari yang Lain, Kenapa Pulau Sulawesi Berbentuk Huruf “K”?

beda-dari-yang-lain,-kenapa-pulau-sulawesi-berbentuk-huruf-“k”?
Beda dari yang Lain, Kenapa Pulau Sulawesi Berbentuk Huruf “K”?
service

Sulawesi yang berbentuk “K” | Sadalmelik/WikimediaCommons


Kawan GNFI mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Sulawesi berbentuk mirip dengan huruf “K”?

Pulau terbesar ke-4 di Indonesia ini memang tampak unik jika dibandingkan dengan pulau-pulau besar lain di Indonesia, bahkan dunia. Pulau Sulawesi memiliki empat semenanjung yang mengarah ke timur, timur laut, tenggara, dan selatan.

Tak hanya itu, pulau yang masuk dalam jalur ring of fire ini memiliki bentang alam seperti pegunungan yang tinggi, serta danau-danau yang dalam. Struktur kompleks Sulawesi dipengaruhi karena pulau ini berada di pertemuan tiga lempeng besar, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia.

Kenapa Sulawesi Berbentuk Huruf “K”?

Merangkum dari situs Himpunan Mahasiswa Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM), Sulawesi merupakan salah satu daerah teraktif di Indonesia dengan fenomena yang kompleks dan rumit. Bentukan tektonik yang dihasilkan berupa patahan dan gunung api. Kemudian, hasil tumbukan tektonik itu membentuk Pulau Sulawesi yang kini tampak seperti huruf “K”.

Pada masa awal pembentukannya, sekitar 70 hingga 50 juta tahun yang lalu, Sulawesi sangat berbeda dengan sekarang. Berdasarkan catatan geologi, pada periode ini, hanya ada Sulawesi Barat. Wilayah ini awalnya merupakan bagian dari Sundaland (daratan besar yang mencakup sebagian besar Indonesia bagian barat).

Secara teknis, Sulawesi Barat saat itu berfungsi sebagai busur magmatik atau busur kepulauan vulkanik yang terbentuk akibat proses subduksi (penunjaman) kerak samudra di bawahnya. Busur ini memiliki karakteristik khas tektonik lempeng, yaitu jalur gunung api yang didampingi oleh jalur mélange dan ofiolit. Pada fase awal ini, bentuk busur Sulawesi Barat selalu memiliki kelengkungan yang cembung ke arah samudra.

Lebih lanjut, antara 50 hingga 15 juta tahun yang lalu, kondisi Sulawesi mulai mengalami perubahan signifikan. Meski struktur dasarnya masih bertahan, arah atau polaritas busur magmatik dan zona subduksi di Sulawesi mulai berubah dari yang semula cembung ke arah samudra menjadi cenderung agak lurus.

Perubahan ini dipicu oleh aktivitas tektonik regional di sekitarnya, seperti pembukaan Selat Makassar, pembukaan Teluk Bone, dan pembukaan Teluk Tomini atau Cekungan Gorontalo. Selain itu, terjadi pula subduksi berulang kali di Laut Sulawesi yang miring ke arah benua (barat). Hal ini menghasilkan berbagai periode aktivitas magmatik dan vulkanik di wilayah Sulawesi bagian barat tersebut.

Kawan GNFI, periode antara 15 hingga 5 juta tahun yang lalu adalah masa paling “menentukan” terbentuknya huruf “K”. Di periode itu, terjadi tabrakan atau kolisi dahsyat antara dua bagian utama, yaitu Sulawesi bagian barat dan Sulawesi bagian timur.

Dua fragmen kerak benua kecil (mikrokontinen) asal Australia bergerak dan menghantam Sulawesi secara frontal. Mikrokontinen Buton-Tukangbesi datang membentur dari arah tenggara, sedangkan mikrokontinen Banggai-Sula dari arah timur. Mikrokontinen Banggai-Sula menghantam titik pusat atau “pusar” (pivot point) Sulawesi di bagian tengah.

Akibat benturan frontal di titik pusat ini, busur-busur Sulawesi mengalami pembalikan polaritas yang drastis. Busur yang semula cembung ke arah timur (samudra) berbalik menjadi cekung ke arah timur.

Nah, proses “pembalikan” ini terjadi melalui rotasi massa kerak bumi menyebabkan “lengan” Sulawesi di bagian tenggara berotasi melawan arah jarum jam, yang menyebabkan melebarnya Teluk Bone.

Sementara itu, lengan utara berotasi searah jarum jam. Hal ini mengakibatkan tertutupnya Cekungan Gorontalo. Hasil dari seluruh rangkaian rotasi dan benturan inilah yang membuat bentuk huruf “K”.

Setelah benturan besar itu, Sulawesi memasuki periode yang disebut sebagai post-collision tectonic escape. Akibat terhimpit kekuatan lempeng yang besar, daratan Sulawesi mulai retak dan mengalami pergeseran untuk melepaskan tekanan tektonik.

Walhasil, terbentuklah sesar-sesar mendatar besar yang meretakkan pulau ini, seperti Sesar Palu-Koro, Matano, Lawanopo, Kolaka, dan Balantak. Sesar-sesar ini jugalah yang semakin mempertegas garis-garis lengan Sulawesi dan menjadikannya salah satu daerah dengan fenomena geologi paling rumit di dunia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.