Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Lita Anggraini Sosok Kartini di Balik Perjuangan Panjang UU PPRT

Lita Anggraini Sosok Kartini di Balik Perjuangan Panjang UU PPRT

lita-anggraini-sosok-kartini-di-balik-perjuangan-panjang-uu-pprt
Lita Anggraini Sosok Kartini di Balik Perjuangan Panjang UU PPRT
service

Mubadalah.id – Perjalanan panjang Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT), ada sosok perempuan bernama ibu Lita Aggraini. Namanya mungkin tidak selalu muncul dalam arus utama pemberitaan, tetapi jejak perjuangannya selalu ada dalam ruang- ruang kolektif untuk mendorong dan mengadvokasi, memberi dampingan korban dan mendirikan kesadaran- kesadaran perlawanan.  Setiap upaya advokasi, setiap aksi solidaritas, dan setiap kesadaran baru yang tumbuh di kalangan pekerja rumah tangga (PRT) di Indonesia.

Perjuangan ibu Lita dari pengalaman, kepekaan sosial, dan keberanian untuk mempertanyakan realitas yang selama ini dianggap “biasa”. Sejak muda, ibu Lita telah melihat ketimpangan yang perempuan alami, terutama mereka yang bekerja di ranah domestik. Dalam masyarakat yang masih kental dengan budaya feodal dan bias kelas, pekerjaan rumah tangga kerap dianggap rendah, tidak membutuhkan keterampilan, dan bahkan tidak layak kita sebut sebagai pekerjaan formal. Dari sinilah Lita memulai perjalan perjuangannya menantang cara pandang yang telah mengakar.

Sebagai pendiri Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT), Ibu Lita tidak hanya bergerak di level wacana. Ia turun langsung ke lapangan, mendampingi para PRT yang mengalami kekerasan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Baginya, satu kasus saja sudah terlalu banyak.

Setiap laporan yang masuk bukan sekadar angka, tetapi cerita manusia yang harus ia perjuangkan. Dari kasus upah yang tidak terbayar hingga kekerasan fisik dan psikis, Ibu Lita melihat pola kejahatan yang terus terjadi namun ketiadaan perlindungan hukum yang jelas membuat PRT berada dalam posisi yang sangat rentan. Namun perjuangan ibu Lita tidak berhenti pada pendampingan kasus. Ia memahami bahwa perubahan yang berkelanjutan hanya bisa tercapai melalui sistem.

Mendorong Negara Hadir Memberikan Perlindungan Hukum

Di sinilah advokasi RUU PPRT menjadi fokus utama. Sejak awal 2000-an, bersama jaringan yang ia bangun terus mendorong agar negara hadir memberikan perlindungan hukum bagi PRT. Prosesnya panjang, di tengah orang mulai meragukan, dan mempertayakan ketidakmungkinan Draf RUU yang telah direvisi berkali-kali. Selain itu dukungan yang naik turun, hingga tarik ulur kepentingan politik membuat perjuangan ini seolah berjalan di tempat.

Di tengah kebuntuan itu, Ibu Lita memilih  tetap melakukan aksi-aksi yang menggugah perhatian publik seperti mogok makan, merantai diri di depan gedung DPR, hingga berbagai bentuk protes keras lainnya. Aksi-aksi ini  bentuk keputusasaan  dan aksi solidaritas bersama untuk membangun tekanan dan dorongan  isu ini mendesak, bahwa ada jutaan pekerja yang hidup tanpa perlindungan, dan bahwa diam karna sudah begitu pasrah dengan keadaan.

Mama Lita yang dikenal tidak begitu peduli tetang penampilan mengaku memang tidak peduli dengan penampilannya. Baju yang ia pakai tidak jauh dari kaos hitam dengan tulisan seperti “PRT = Pekerja” atau “Decent Work and Rights for Domestic WorId Ibu Lita memilih untuk mengabdikan hidupnya, Ia harus menghadapi tekanan finansial, konflik dengan keluarga, hingga masalah kesehatan yang serius. Namun semua itu tidak menghentikannya.

Gerakan dari Akar Rumput

Di sisi lain, Ibu Lita juga membangun fondasi gerakan dari akar rumput,  membangun basis pendidikan seperti Sekolah PRT mendorong para pekerja untuk memahami hak-hak mereka, mengembangkan keterampilan, dan berani bersuara. Pendekatan ini perlahan mengubah cara pandang para PRT terhadap diri mereka sendiri. Dari yang semula merasa rendah diri, mereka mulai melihat diri sebagai pekerja yang memiliki martabat dan hak.

Transformasi ini terlihat nyata dalam kisah-kisah para PRT yang pernah ia dampingi. Banyak dari mereka yang awalnya tidak percaya, bahkan curiga terhadap gerakan yang dibangun Ibu Lita. Namun melalui pengalaman dan pendampingan, kepercayaan itu tumbuh. Mereka tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga menemukan keberanian untuk memperjuangkan diri sendiri. Dari sinilah gerakan kolektif terbentuk sebuah kekuatan untuk mendorong kebijakan.

Perjuangan RUU PPRT pada akhirnya menjadi sejarah gerakan perempuan yang membuktikan bahwa solidaritas itu nyata untuk membangun dan merubahan cara pandang. Ibu Lita berulang kali menekankan bahwa tantangan terbesar bukanlah teknis legislasi, melainkan implementasi dan mengawal pelaksaan dari itu semua. Selama PRT masih dianggap “bukan pekerja”, selama relasi kerja masih dibungkus dengan dalih “kekeluargaan” perjuangan masih akan berjalan.

Hari Kartini yang kita peringati setiap 21 April menjadi catatan bersejarah bahwa gerakan perempuan masih menjadi perjuangan panjang. Dalam konteks ini, Ibu Lita dapat terlihat sebagai representasi dari gerakan perempuan bagi kelompok rentan. Ia melanjutkan semangat tokoh-tokoh perempuan terdahulu yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan.

Namun ia melakukannya dalam konteks yang sangat spesifik yakni bagi para pekerja domestik, kelompok yang selama ini dianggap  banyak membutuhkan namun haknya-haknya sering terabaikan. Sosok Ibu Lita menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya tentang akses pendidikan atau partisipasi politik, tetapi juga tentang pengakuan terhadap kerja-kerja yang selama ini tak terlihat.

Kesadaran telah tumbuh, solidaritas telah terbentuk, dan suara para PRT semakin terdengar. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.