Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Pergulatan dan Pemikiran Kartini

Pergulatan dan Pemikiran Kartini

pergulatan-dan-pemikiran-kartini
Pergulatan dan Pemikiran Kartini
service

Mubadalah.id – Saban tahun, pada 21 April, pamflet-pamflet dengan ucapan klise “Selamat Memperingati Hari Kartini” membanjiri dinding media sosial kita. Mengapa (hari lahir)-nya mesti kita peringati? Apakah karena ia orang Jepara, sebuah daerah pesisir utara Laut Jawa terkenal dengan seni ukirnya yang melahirkan tokoh-tokoh perempuan dari abad ke abad macam Ratu Sima dan Ratu Kalinyamat? Atau, Trinil—panggilan sang ayah Sosroningrat pada Kartini—mendapat garis titah meneruskan perjuangan pendahulu-pendahalunya?

Apa pun alasannya, Kartini mesti mendapat penghormatan sebagai pelopor gerakan emansipasi, perintis kemerdekaan bagi perempuan, dan sebagai pendobrak adat dan tradisi. Walaupun poin terakhir, menurut Hilmar Farid, sejarawan, dalam tulisan “Kartini dan Ruang dalam Bangsa” di Tempo edisi 21-28 April 2023, menjadi perdebatan sewaktu dia memutuskan menerima lamaran Bupati Rembang yang sudah beristri tiga.

Padahal setahun sebelumnya dia gigih menentang pernikahan adiknya dengan RM Reksoharjono, juga sudah beristri, serta bolak-balik mengkritik praktik poligami di lingkungan keluarganya sendiri. Namun, menurut Hilmar, itu tak menjadi soal, sebab untuk memahami Kartini dan arti pentingnya hari ini, sosoknya perlu kita tempatkan dalam konteks ruang dan waktu hidupnya sendiri.

Pada abad 21, merawat-teruskan perjuangan Kartini tentang emansipasi, pendidikan, dan kebangsaan lebih perlu ketimbang terjebak dalam seremonial belaka. Atau malah mandek dengan membuat poster berisi potongan kalimat banalisasi. Perjuangannya harus memanjang ke dalam gagasan, tingkah laku, dan diskursus lain.

Memihak Peradaban Barat

Kita masih ingat konflik dalam jiwa Kartini semasa sebelum masuk pingitan, Tiga Serangkai Kartini-Roekmini-Kardinah beberapa kali singgah di rumah asisten residen Ovink. Di sana, mereka melihat hubungan suami-istri: terpelajar dan berbudaya. Pasangan harmonis bersikap saling menghargai serta sama-sama memiliki hak suara. Itu berbeda dengan adat perkawinan Jawa, hanya suami pemiliki hak suara, sementara istri menurut saja. Betapa nyaring dan bergemuruh gejolak batin Trinil itu terekam dalam buku Kartini: Sebuah Biografi (1977) gubahan Sitisoemandari Soeroto.

Amatan Kartini terhadap keluarga Ovink mengarah pada kesetaraan dan keadilan perkawinan. Asisten residen Ovink menghargai betul Nyonya Ovink, sebab istrinya itu sama-sama terpelajar, seorang penulis berpengatahuan luas. Ini tentu berlainan dengan rekaman kepala Kartini, alangkah perempuan priyayi Jawa tak terpelajar dan jauh ketinggalan dari suaminya.

Kendati bukan alasan tunggal, kedigdayaan keluarga Ovink terjadi karena mereka kawin secara monogami. Sebuah asas utama perkawinan yang kemudian pada 1974 tertuang dalam UU Perkawinan Pasal 3 ayat (1). Penentangan poligami secara khusus Kartini bubuhkan dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada 23 Agutus 1900.

“Hampir semua perempuan yang kutahu di sini mengutuk hak-hak yang dimiliki laki-laki (poligami). Tapi harapan saja pasti sia-sia: sesuatu harus dilakukan. Mari, wahai perempuan, gadis-gadis muda, bangkitlah, mari bergandeng tangan dan bekerja bersama untuk mengubah keadaan yang tak tertahankan ini.” guratnya.

Bacaan dan Pemartabatan Hidup

Kita membaca linearitas gagasan pemikiran Kartini lewat keterhubungan pendidikan dan pemartabatan hidup perempuan. Seumpama perempuan Jawa (waktu itu)—dan hari ini serta masa kelak bagi perempuan umumnya—ingin mendapat status yang baik dalam perkawinan, ia harus juga mendapat pendidikan yang baik. Seminimal bisa mencapai tingkat pengetahuan setara dengan suaminya.

Gagasan demi gagasan pemikiran Kartini tentang pendidikan dan emansipasi lahir dari periwayatan masa pingitan yang dia jalani. Ruang terbatas itu dia pangkas dengan ketekunan, meminjam peribahasa Jawa rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Artinya: segala sesuatu yang merintangi (menghambat) maksud dan tujuan harus kita singkirkan. Tunaian tekun itu salah satunya dengan melahap semesta kata di pelbagai buku.

Kartini, menurut Sitisoemandari, mencintai karya-karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker) terutama Max Havelaar (1860). Novel mengisahkan kritik tajam terhadap sistem paksa Belanda di Tanah Jawa. Havelaar, seorang pejabat kolonial idealis berjuang melawan korupsi bupati lokal dan eksploitasi pemerintah Hindia Belanda. Buku lain yang dia gemari ialah susunan C. Goekoop-de Jong Van Beek en Donk berjudul Hilda van Suylenburg (1897). Roman feminis ini Trinil lahap sampai tiga kali tamatan. Bahkan, sekali waktu, dia menguci diri dalam kamar hanya untuk membaca itu buku sekaligus sampai tuntas.

Kemunculan gagasannya juga terpantik dari pembacaan atas pelbagai peristiwa dan perjumpaan. Meski Kartini kagum akan peradaban Barat dia tetap selektif dan kritis terhadapnya. Pegangan hidupnya tetap berpijak pada kebudayaan dan peradaban bangsanya. Mengenai poligami di atas misalnya, dia tentang setelah jauh bersinggungan dengan keluarga Ovink. Dalam masa berbeda, Trinil pun mengalami dan melihat orang-orang Barat itu tak jarang berjiwa kasar dan kejam.

Alur Metode Kartini

Hari ini, kita, siapa pun, sangat boleh belajar untuk mengadopsi alur kerja perjuangan Kartini dalam bidang mana dan apa pun. Okky Madasari, seorang sastrawan dan sosiolog, membahasakan alur itu lewat esainya “Metode Kartini” terbit di Jawa Pos edisi 19 April 2025. Dulu, Trinil mengilustrasikan kondisi bangsa masa itu bagai hutan belantara gelap gulita.

Kini, setidaknya, bangsa ini sedikit rimbun dan tersusupi sinar matahari perlahan. Pengetahuan dan kesadaran generasi kiwari seturut metode perjuangannya paling tidak bisa merawat napas panjang kerimbunan dan pijar penerangan bangsa ini. Kalau ingin memperjuangkan kebebasan khalayak, kita harus terbebas dari belenggu diri sendiri, begitu kiranya pesan perjuangan kolektif Trinil dalam sebuah suratnya.

Alur perjuangan tersebut melempar saya pada sebuah kisah dari Yogyakarta. Ibu Ruswo namanya. Pada masa revolusi Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, termasuk kala Serangan Umum 1 Maret 1949, Ibu Ruswo bertarung selaras dengan kemampuannya. Dia memang tak mengangkat senjata dan maju di medan pertempuran tapi berperan vital di belakang layar. Ibu Ruswo berkecamuk menyiapkan pelbagai logistik bagi gerilyawan di rumahanya, di jalan Yudhonegaran.

Kartini pun demikian, dia berbeda dengan banyak pahlawan nasional lainnya. Dia tak memegang senjata atau memimpin pemerintahan, tidak juga menggalang massa atau menyerukan pemberontakan. Tulisannya menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai sekalipun kemerdekaan di “ruang luar” sudah tercapai, begitu kata Hilmar Farid.

Kartini itu Ide

Pada akhirnya, bagi saya, Kartini bukan saja nama seorang pejuang perempuan bergelar pahlawan nasional. Ia melebihi dari hanya sebatas hari lahirnya terperingati secara nasional. Saya setuju dengan sejarawan JJ. Rizal yang membahasakan “Kartini Sebagai Ide”. Frasa itu judul esainya di majalah Tempo edisi 21-27 April 2013.

Pendiri Komunitas Bambu itu menulis, selama hidupnya, Kartini memainkan peran penting dalam drama besar transformasi kebudayaan di mana pribadi, harapan hidup, dan aspirasinya berubah, begitu juga gagasannya tentang cara dan tujuan ke masa depan.

Walhasil, yang kita peringati setiap 21 April seharusnya bukan melulu “Kartini” sebagai insan, tapi “Kartini” sebagai ide. Memanjangkan “Kartini” ke ranah gagasan, atau jika boleh menjadikannya sebagai suatu disiplin keilmuan. Bosan saja bilamana tiap tahun peringatan itu hanya terisi pamflet bergambar karikatur Kartini serta frasa “selamat ini itu”. Sungguh membosankan.

Meminjam rangkaian kata pada jargon popular Jaringan Gusdurian dalam merawat warisan pemikiran dan perjuangan Gus Dur, jika kita bubuhkan pada R.A. Kartini, kalimatnya jadi begini: “Kartini sudah meneladankan, tugas kita melanjutkan.” Selamat memperingati (ide-ide) Kartini. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.