Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Benarkah Istilah Difabel Lebih Empati Dibandingkan Cacat?

Benarkah Istilah Difabel Lebih Empati Dibandingkan Cacat?

benarkah-istilah-difabel-lebih-empati-dibandingkan-cacat?
Benarkah Istilah Difabel Lebih Empati Dibandingkan Cacat?
service

Mubadalah.id – Istilah difabel, cacat bukan hanya sekedar kata dan istilah, akan tetapi mencerminkan nilai dan pandangan masyarakat. Bahasa merupakan alat komunikasi untuk bisa berdialetika antara satu subjek dengan subjek yang lain. Sebab bahasa mempunyai kekuatan yang besar untuk mempengaruhi manusia, membentuk pola pikir (mindset), perilaku, cara pandang serta interaksi sosial.

Bahkan struktur bahasa bisa mempengaruhi proses mental untuk memperoleh pengetahuan, pemahaman mengingat, merasakan, merencanakan, dan memecah masalah. Pemilihan diksi kata dapat memicu emosi, imajinasi dan tindakan seseorang.

Difabel bukan hanya sekedar kata, akan tetapi mencerminkan nilai dan pandangan masyarakat. Pilihan kata dapat menghadirkan rasa hormat, tetapi juga bisa melukai tanpa kita sadari.

Di dalam kehidupan sehari-hari, masing sangat sering kita mendengar istilah cacat untuk menyebut sesorang yang memiliki keterbatasan akan fisik ataupun mental. Kata cacat memiliki citra yang kurang baik.

Kata Cacat di Masyarakat

Pada masyarakat, kata cacat sering dipahami sebagai sesuatu yang rusak, tidak sempurna, atau tidak normal. Tanpa masyarakat sadari, penggunaan istilah tersebut mengandung konotasi negatif serta berpotensi membuat sesorang merasa direndahkan, dipandang berbeda serta bisa mereduksi martabat individu yang bersangkutan.

Namun berbeda dengan istilah difabel, ia berasal dari kata different ability yang berarti kemampuan yang berbeda atau dalam frasa bahasa Inggris “differently abled people” yang berarti orang dengan kemampuan berbeda.

Banyak istilah yang merujuk pada sesorang yang memiliki keterbatasan tertentu seperti kata disabilitas (disability) yang artinya ketidakmampuan atau keterbatasan fungsi tertentu, baik fisik, intelektual, mental, maupun sensorik. Dengan demikian, keduanya sama-sama merujuk pada individu yang memiliki keterbatasan.

Diksi kata Difabel mempunyai penekanan bahwa setiap individu atau sesorang memiliki kemampuan, hanya saja bentuk kemampuannya tidak selalu sama dengan orang lain. Kata Difabel tidak mamandang seseorang sebagai orang yang “kurang”, namun sebagai individu yang mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut punya letak yang berbeda dari aspek kemanusianya.

Penggunaan kata istilah difabel membantu mengubah cara berpikir (mindset) masyarakat. Jika kita menyebut seseorang sebagai “cacat”, fokus kita sering tertuju pada kekurangannya.

Namun, ketika kita menyebut “difabel”, perhatian kita lebih tertuju pada potensi dan kemampuannya. Perubahan sudut pandang ini sangat penting, karena dukungan sosial sering lahir dari cara kita melihat orang lain.

Lebih Membangun Rasa Percaya diri dan Empati

Selain itu juga, istilah tersebut lebih manusiawi dan dapat membantu membangun rasa percaya diri. Para penyandang disabilitas atau difabel tidak ingin mendapat belas kasihan, namun mereka ingin kita hargai, dan lihat sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai kekurangan yang menempel pada diri mereka.

Istilah kata difabel (disabilitas) sudah banyak yang menerima terutama pada Undang-undang No.8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Hal tersebut menunjukan bahwa pemerintah pun mulai sadar akan pentingnya kata, bahasa, istilah yang lebih menghormati manusia. Perubahan kata bukan sekedar tren namun merupakan bagian untuk membangun keadilan sosial.

Masyarakat perlu memahami bahwa mengganti istilah tidaklah cukup. Perubahan istilah harus terikuti oleh perubahan sikap. Percuma saja menggunakan kata difabel, disabilitas, jika masih ada diskriminasi terhadap pendidikan, pelayanan, serta pekerjaan. Bahasa merupakan langkah awal, tetapi tindakan nyata adalah tujuan.

Pada akhirnya, memilih istilah difabel dibandingkan cacat bukan soal benar atau salah secara bahasa. Hal tersebut adalah soal rasa hormat dan empati. Kita diajak untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan sebagai kekurangannya. Setiap orang memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna.

Karena itu, mari mulai dari hal sederhana yaitu memilih kata yang lebih baik. Dengan bahasa yang lebih manusiawi, kita ikut membangun masyarakat yang lebih adil, lebih terbuka, dan lebih menghargai perbedaan. Sebab perubahan besar sering kali bisa kita mulai dari kata-kata kecil. All big things come from small beginnings (James Clear, Atomic Habits). []

*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Purwokerto, kerjasama Media Mubadalah dengan LP2M Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.