Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Bencana Banjir dan Longsor Bukan Sekadar Cuaca, Jejak Kerusakan Ulah Manusia Makin Nyata

Bencana Banjir dan Longsor Bukan Sekadar Cuaca, Jejak Kerusakan Ulah Manusia Makin Nyata

bencana-banjir-dan-longsor-bukan-sekadar-cuaca,-jejak-kerusakan-ulah-manusia-makin-nyata
Bencana Banjir dan Longsor Bukan Sekadar Cuaca, Jejak Kerusakan Ulah Manusia Makin Nyata
service

Jakarta, NU Online

Bencana banjir dan tanah longsor yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia kerap dipersepsikan sebagai dampak cuaca ekstrem semata. Namun, pandangan tersebut menyesatkan karena jejak kerusakan alam yang dibuat oleh manusia telah menciptakan kerentanan ekologis yang berujung pada bencana.

Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung Zaky Yamani menegaskan bahwa kerusakan lingkungan merupakan faktor utama yang sering diabaikan dalam membaca bencana ekologis. Menurutnya, hilangnya hutan dan rusaknya bentang alam akibat aktivitas manusia telah memutus sistem penyangga kehidupan.

“Kerusakan alam sudah pasti, tapi sering yang kita lupakan itu bagaimana dampak hilangnya hutan, atau besarnya alam,” ujar ujarnya dalam Acara Ekologi Dalam Krisis bertanjuk Bencana Ekologis dan Tanggung Jawab Manusia di Gramedia Matraman, Jakarta pada Sabtu (24/1/2026).

Ia mengatakan bahwa hanya manusia yang memiliki kemampuan sekaligus kecenderungan untuk merusak ruang hidup makhluk lain. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh satwa liar yang kehilangan habitatnya.

“Hanya manusia yang membuat binatang dan manusia lain jadi gelandangan. Karena binatang lain tidak ada yang membuat makhluk lain jadi gelandangan. Hanya manusia yang membuat orang lain sesama manusia dan binatang menjadi gelandangan,” katanya.

Fenomena munculnya satwa liar ke wilayah permukiman menjadi salah satu bukti nyata kerusakan ekologis. Zaky mencontohkan fenomena kemunculan satwa liar ke permukiman warga sebagai alarm krisis ruang hidup.

“Beberapa bulan lalu di Sumatra, ternyata masih ada harimau di Sumatra,” ujarnya.

Sementara itu, Ayu Welirang, penulis, menyoroti dampak lanjutan bencana banjir dan longsor yang kerap luput dari perhatian, yakni pencemaran laut akibat sampah yang terbawa aliran air.

Menurutnya, longsor dan hujan deras tidak hanya merusak wilayah daratan, tetapi juga memperparah krisis lingkungan di wilayah pesisir dan laut.

“Ketika longsor dan hujan gitu mungkin ada beberapa sampah yang terbawa sampai ke laut. Jadi efeknya akan lebih parah lagi ke laut,” kata Ayu.

Ia menjelaskan bahwa sampah, terutama plastik, akan terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia.

“Terus nanti bisa dimakan ikan, terus ikannya itu kita makan, jadi mikroplastiknya sampai ke kita,” ujarnya.

Menurut Ayu, persoalan ini menunjukkan bahwa dampak bencana ekologis bersifat berlapis dan jangka panjang. Ia menilai masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada negara untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin kompleks.

“Kita udah tidak bisa nunggu pemerintah untuk membuat suatu gerakan atau mungkin sesuatu yang lebih meng-enforce gitu ya,” katanya.

Ayu mendorong perubahan dimulai dari kesadaran individu dan komunitas, salah satunya melalui pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

“Jadi harus kembali ke kita. Nah, kita sendiri gimana caranya ya, kita memulai dengan hal kecil kayak kita mulai bikin konsumsi lokal,” ucap Ayu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.