Bincangperempuan.com- Pada akhir Januari 2026, udara di sekitar halaman Kantor Wali Kota Bengkulu mendadak berubah. Aroma birokrasi yang kaku dan rapi seketika tergilas oleh bau busuk yang menyengat tajam. Puluhan sopir truk pengangkut sampah yang biasanya bekerja dalam diam sebelum matahari terbit, memilih jalur perlawanan dengan menumpahkan muatan sampah rumah tangga dari bak truk mereka tepat di pusat kekuasaan kota.
Aksi nekat ini dipicu oleh akses jalan menuju TPA Air Sebakul yang hancur lebur bak kubangan lumpur, diperparah dengan fakta ironis bahwa kawasan raksasa itu hanya dioperasikan oleh satu unit ekskavator untuk melayani 200 armada truk setiap harinya.
Alih-alih merangkul warganya yang frustrasi, respons awal dari internal Pemda Kota justru melaporkan para pahlawan kebersihan ini ke polisi. Sebuah blunder yang memicu amarah publik, memaksa sang Wali Kota akhirnya turun gunung menjanjikan perombakan dari hulu ke hilir dengan suntikan dana miliaran rupiah.
nji manis Wali Kota tersebut memang sempat menjadi angin surga. Namun, realitas data menampar keras. Bayangkan, 99,98% sampah di Kota Bengkulu masih berstatus belum terkelola. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup mengonfirmasi rapor merah ini: hampir seluruh kabupaten dan kota di Bengkulu masih terjebak pada sistem open dumping (pembuangan terbuka), tak terkecuali Kota Bengkulu.
Kondisi ini tak luput dari radar pusat. Dalam Rakornas Pengelolaan Sampah 2026, Kementerian Lingkungan Hidup menyentil keras dan menuntut transformasi tata kelola menyeluruh. Praktik open dumping dinilai sudah usang dan mengkhianati prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan.
Jerit Warga Sekitar Akibat Darurat Sampah
Namun, jauh dari hiruk-pikuk balai kota, di Air Sebakul, realitasnya jauh lebih muram. Bayangkan sebuah kawasan pembuangan raksasa yang harus menelan limbah dari ratusan ribu penduduk kota, namun hanya dioperasikan oleh satu unit eskavator yang kesepian. Mesin tunggal yang malang ini dipaksa menjadi pahlawan super: meratakan gunungan sampah, menambal jalan yang rusak, hingga menarik truk-truk yang terperosok di tengah lumpur.
Namun, ketika musim hujan tiba, neraka kecil itu menjadi semakin sempurna. Dari 200 armada truk yang lalu-lalang setiap harinya, tak sedikit yang harus menyerah pada kondisi lapangan. Tanpa tambahan alat berat jenis dozer, sampah tak lagi bisa didorong ke belakang. Limbah itu meluber, menelan badan jalan aspal, dan mengubah TPA menjadi labirin maut yang menjijikkan. Di tengah sengkarut manajemen kota yang gagap, ratusan keluarga mempertaruhkan nyawa dan masa depan mereka.
Bau menyengat adalah hal pertama yang menyergap paru-paru begitu pintu rumah Leli dibuka. Dari teras kediamannya di RT 23 Kelurahan Sukarami, siluet raksasa gunungan sampah berdiri angkuh, seolah bersiap menelan apa saja yang ada di bawahnya. Selama sebelas tahun terakhir, perempuan berusia 33 tahun itu hidup, bernapas, dan membesarkan anak-anaknya berdampingan dengan limbah peradaban kota.
Bagi Leli dan tetangganya, sampah adalah paradoks yang kejam. Di satu sisi, ia adalah urat nadi ekonomi. Di sisi lain, ia adalah monster ekologis yang merenggut martabat dan kesehatan. Masyarakat sekitar kerap menelan pil pahit berupa stigma sosial; dicap secara sepihak sebagai “warga kumuh”. Namun, stigma hanyalah segores luka di permukaan. Bencana sesungguhnya mengalir senyap di bawah tanah yang mereka pijak setiap hari.
Meski warga telah mengebor sumur hingga kedalaman 85 meter, air yang keluar tak ubahnya racun yang disamarkan. Kasatmata air itu memang tampak jernih, tetapi ketika didiamkan, muncul endapan kuning, bau karat yang menyengat, dan kilau minyak di permukaannya. Itu adalah jejak lindi—air serapan dari jutaan ton sampah busuk—yang merembes dan mencemari pembuluh darah bumi. Untuk sekadar minum dan menanak nasi, warga terpaksa merogoh kocek ekstra untuk membeli air galon isi ulang.
Belum lagi lalat berpesta pora di dapur-dapur warga. Sementara anak-anak kerap terbangun dengan ruam merah di kulit yang diklaim petugas puskesmas sekadar “alergi biasa”.
“Kalau mau mengeluh, kami ini penghidupannya memang dari sampah. Tanpa ijazah ini mau kerja apa? Biaya sekolah anak, makan sehari-hari ya dari hasil mulung,” tutur Leli getir. Perut yang lapar memaksa mereka berdamai dengan racun.
Di tengah sengkarut masalah yang seolah tanpa ujung ini, masyarakat juga melakukan perlawanan lewat kreativitas. Para perempuan di Kelurahan Lempuing mulai merancang perlawanan lewat Bank Sampah Kreatif Berseri. Lebih gila lagi, seorang inovator lokal kini tengah menguji coba mesin penyulap sampah plastik tak berharga menjadi Petasol—bahan bakar minyak terbarukan yang bisa menghidupkan mesin diesel.
Lantas, mampukah manuver kreatif warga dan inovasi teknologi ini menyelamatkan Bengkulu dari darurat sampah? Atau ini hanya akan menjadi utopia di tengah carit-marutnya birokrasi dan minimnya infrastruktur? Bagaimana pula nasib para sopir dan warga yang hidup di dekat TPA seperti Leli ke depannya?
Baca selengkapnya liputan mendalam kolaborasi Bincang Perempuan, Tempo dan Teras.id dalam edisi Sampah Mengepung Bumi Rafflesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.