Arina.id – Di lantai atas Masjid Nabawi Madinah, Wahid sesekali melirik Aplikasi Nusuk pada layar smartphone. Layar terus menyala jangan sampai mati. Azan belum dimulai, artinya masih ada waktu beberapa menit berburu “petir” pada Nusuk, sebuah fitur allert izin kilat masuk Raudhah–lokasi makbul buat berdoa yang lokasinya di antara mimbar dan Makam Nabi Muhammad SAW.
“Alhamdllah sudah tiga kali bisa masuk Raudhah. Semuanya mandiri lewat ‘Petir’ Nusuk itu mas. Tapi untung-untungan. Ini lagi mantau semoga bisa lagi habis salat Jumat nanti,” kata jemaah 31 tahun asal Babat Lamongan Jawa Timur itu, Jumat 8 Mei 2026.
Istilah “petir” dalam Nusuk ini sedang populer di kalangan jemaah haji Indonesia. Sebenarnya ini bukan petir betulan, namun hanya sebuah simbol atau logo petir pada jam-jam pembukaan masuk Raudhah. Hanya saja, logo petir ini kemunculannya acak, tergantung ketersediaan kuota pada saat itu.

Foto ( Logo Petir pada Fitur Jam Masuk Raudhah )
Fitur tanda petir tersebut memungkinkan jemaah masuk Raudhah pada saat itu juga atau di hari yang sama tanpa mengikuti antrean panjang. Secara sistem, tanda petir ini muncul berdasarkan akses lokasi smartphone , waktu shalat, dan ketersediaan kuota. Bila kuota penuh, tanda pada fitur waktu bukan “petir” melainkan “jam pasir”.

Foto ( Saat Jam Masuk Raudhah Penuh )
Bagaimana cara berburunya? Cukup buka aplikasi Nusuk, lalu klik fitur Raudhah, lalu pantau terus jadwal masuknya. Bila pada fitur waktu muncul tanda petir, berarti pada hari itu juga ada kuota yang kosong. Kemudian klik dan daftar segera, lalu tunggu verifikasinya.
Kembali ke cerita, tidak banyak jemaah haji seberuntung Wahid yang tiga kali mendapat petir. Banyak di antara mereka mengaku baru sekali masuk Raudhah, terutama para lansia yang kurang familiar dengan Nusuk. Biasanya mereka masuk Raudhah secara berkelompok dikoordinir petugas haji: petugas sektor, KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah), atau petugas jaga di Nabawi.
Namun ada juga kisah jemaah yang sama sekali belum masuk Raudhah. Kisah tiga Inaq (ibu), jemaah haji asal NTB ini misalnya. Selama di Madinah mereka belum pernah masuk ke Raudhah. Bahkan mereka mengaku tidak tahu bagaimana cara masuk ke sana. Setiap pagi hingga petang sering berusaha menjejalkan badan pada antrean, tapi selalu gagal. “Kok sulit dek, bagaimana caranya? Kami selalu diusir, katanya kuotanya penuh.”
Saat ditanya apakah tidak ada yang mengkoordinir, dari petugas haji atau KBIHU-nya? Mereka kompak menjawab tidak pernah menerima informasi semacam itu. “Tidak tahu, tidak pernah (menerima pemberitahuan pendaftaran masuk Raudhah).”
Lalu soal Nusuk? Ummi, sebut saja namanya demikian, salah satu dari ketiga Inaq-Inaq itu menjawab: “Belum pernah mendengar Nusuk”. Ia kemudian berbicara mewakili ketiganya, bahwa belum mendownload aplikasi, sehingga sama sekali tidak tahu ada fitur “petir” seperti yang ramai dibicarakan jemaah-jemaah lain.
Berbeda kisahnya dengan jemaah lebih muda. Selain Wahid, ada pula kisah Fonda, jemaah asal Surabaya. Ia sudah empat kali masuk Raudhah. Sekali masuk melalui rombongan, tiga kali masuk secara instan memanfaatkan “sambaran petir”.
Fonda cukup beruntung, sampai-sampai Gembos, kawannya sama-sama jemaah asal Surabaya yang duduk di sebelah berseloroh: “Aku aja satu kali, kamu sudah empat kali? Itu tandanya kamu disayang Rasulullah, dipanggil terus,” katanya disusul tawa.
Begitulah, jemaah haji muda memang lebih familiar dengan Aplikasi Nusuk ini. Mereka umumnya, daripada menunggu rombongan yang waktunya lama, lebih memilih keberuntungan sendiri melalui fitur petir tersebut.
Maka menjadi wajar bila kemudian di sekitar Masjid Nabawi pada musim haji ini akan banyak dijumpai jemaah kongkow-kongkow asyik memantau layar smartphone mereka selepas salat berjamaah di pelataran Nabawi atau teras-teras hotel sebelah masjid. Mereka akan menghabiskan waktu menunggu si “petir” muncul.





Comments are closed.