Jakarta, Arina.id — Umat Islam dari seluruh dunia tengah menjalankan ibadah haji 2026.
Selama ini perhatian terhadapt para jemaah haji biasanya hanya tertuju dalam kaitannya dengan kesehatan fisik, padahal persoalan psikologi mereka juga tak bisa diabaikan.
Akademisi UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Kunafi, menilai Kesehatan psikologis jamaah haji perlu menjadi perhatian serius di tengah kompleksitas pelaksanaan ibadah haji modern.
Menurutnya, pendekatan psikoterapi Islam dapat menjadi solusi untuk membantu jemaah menghadapi tekanan mental selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dalam tulisannya berjudul Mengatasi Masalah Psikologis Selama Hajj, Peran Psikoterapi Islam di laman resmi UIN Suska, Kunafi menjelaskan bahwa psikoterapi Islam merupakan formulasi kenabian yang terintegrasi dengan pendekatan psikologi modern untuk membantu umat mengatasi persoalan emosional dan spiritual. Pendekatan tersebut dinilai relevan diterapkan dalam konteks ibadah haji yang tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga ketahanan mental dan spiritual.
“Haji memiliki makna tauhid yang sangat penting dan mendalam bagi umat Islam. Namun perjalanan haji juga tidak lepas dari berbagai tekanan psikologis yang dialami sebagian jamaah,” tulis Kunafi dikutip Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan, jemaah haji kerap menghadapi kecemasan terkait perjalanan panjang, kepadatan manusia, transportasi, penginapan, hingga cuaca ekstrem di Arab Saudi. Selain itu, muncul pula kekhawatiran spiritual, seperti rasa takut tidak mampu menjalankan rangkaian ibadah dengan sempurna.
Menurut Kunafi, situasi tersebut dapat memicu stres, kelelahan emosional, bahkan depresi, terutama bagi jamaah lanjut usia atau mereka yang belum siap menghadapi perubahan lingkungan dan budaya yang berbeda.
“Lingkungan yang tidak familiar, budaya dan bahasa yang berbeda juga dapat membuat jamaah merasa tersesat dan sendirian,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai psikoterapi Islam penting diterapkan sebagai bentuk pendampingan mental jamaah. Melalui pendekatan ini, jamaah dibantu memahami emosinya, membangun mekanisme coping, serta memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Kunafi menjelaskan, psikoterapi Islam dapat dilakukan di berbagai tempat, seperti masjid, pusat komunitas, maupun rumah sakit, dengan pendampingan terapis yang memahami nilai-nilai Islam dan kondisi psikologis jamaah.
Ia menyebut terdapat sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan jamaah untuk menjaga kesehatan mental selama berhaji. Salah satunya adalah berbicara dengan orang lain mengenai perasaan dan tekanan yang dialami.
“Dengan berbicara tentang perasaan, seseorang lebih berpeluang mengatasi masalah secara tepat,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya doa, tawakal, sabar, zikir, dan istighfar sebagai sarana menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Swt
Kunafi juga mengingatkan pentingnya dukungan sosial antarsesama jemaah selama di Tanah Suci. Menurutnya, kebersamaan dan saling membantu dapat mengurangi tekanan psikologis yang muncul selama menjalankan ibadah.
Tak kalah penting, ia meminta jemaah tetap menjaga kesehatan fisik melalui pola makan sehat, istirahat cukup, dan olahraga ringan agar kondisi emosional tetap stabil.
“Tubuh juga memiliki hak yang harus dijaga selama menjalankan ibadah,” ujarnya mengutip hadits Nabi Muhammad Saw.
Kunafi menegaskan, jemaah tidak perlu ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami gangguan psikologis selama berhaji. Menurutnya, psikoterapi Islam dapat membantu jamaah menjalani ibadah dengan lebih tenang, khusyuk, dan bermakna secara spiritual.





Comments are closed.