Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bersama Menyemai Ingatan

Bersama Menyemai Ingatan

bersama-menyemai-ingatan
Bersama Menyemai Ingatan
service

Merawat ingatan soal kejahatan kemanusiaan di Indonesia adalah kerja sunyi. Negara tidak menyediakan ruangnya, institusi pendidikan tidak mengajarkannya, dan masyarakat dibentuk untuk menjauhinya.


Minggu siang, 21 September 2025, saya bertamasya bersama sembilan kawan ke tiga kuburan massal 1965 di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Suradi dan Sugiman, masing-masing berusia 60 dan 87, menemani kami. Keduanya warga setempat. Suradi adalah penjaga makam, sementara Sugiman adalah saksi kejahatan kemanusiaan yang terjadi enam dekade silam. Mereka bercerita soal situasi sosial dan politik saat itu, serta pembantaian yang melahirkan kuburan-kuburan massal di sana.

Sugiman masih ingat betul. Kala itu semua warga desa ketakutan, hanya bisa bersembunyi di rumah masing-masing pada malam-malam yang kerap diselingi suara tembakan.

Bella, salah satu anak muda yang hadir, begitu terkesan dengan kisah Sugiman, bukan hanya karena apa yang ia lalui, tapi juga caranya menuturkan kembali dengan begitu santai.

“Yang paling nempel di ingatanku adalah bagaimana [beliau] menceritakan pengalaman 1965-nya dengan sangat chill, entah karena sudah berdamai atau justru karena ingin menutupi perasaannya,” kata Bella, 22 tahun.

“Keren sekali mereka survive dari masa kelam.”

Saya dan teman-teman di Bersemai Sekebun (dikenal juga sebagai Semai), kumpulan orang muda di Semarang yang tertarik belajar isu-isu kemanusiaan, rutin mengadakan kunjungan situs dan temu penyintas atau saksi pelanggaran HAM semacam ini setiap beberapa bulan. Sepanjang 2025 lalu, kegiatan ini kami jalankan empat kali. Kami menyebutnya Tamasya Taman Bunga.

Tamasya Taman Bunga terinspirasi dari praktik perawatan yang dilakukan Mia Bustam selama menjadi tahanan politik Orde Baru di Kamp Plantungan, Kabupaten Kendal. Di sana, ia telaten mengurus berbagai tanaman dan menata taman dalam keseharian.

Merawat taman bukan sekadar kerja fisik untuk mengisi waktu di Kamp Plantungan. Ini juga menjadi cara Mia Bustam menyembuhkan diri, sekaligus membangun solidaritas dengan sesama tahanan politik perempuan. Di taman bunga, mereka merajut hubungan emosional, berusaha menjaga jiwa tetap utuh meski hidup dalam penindasan dan pengawasan ketat.

Dengan semangat serupa, Bersemai Sekebun menginisiasi Tamasya Taman Bunga. Tidak hanya sebagai tur sejarah, kegiatan ini juga dirancang agar bisa menjadi ruang pertemuan, berbagi empati, dan bertukar pandangan dan refleksi tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Harapannya, dapat terbangun dialog antara generasi muda dan mereka yang bersinggungan langsung dengan narasi masa lalu dan pelanggaran HAM yang tidak pernah diselesaikan. Peserta didorong untuk bertanya dan berefleksi, serta memahami bahwa memori bukan sekadar catatan. Ia adalah proses yang terus bergerak dan membentuk cara kita membaca kehidupan hari ini.

Sebagai komunitas orang muda, Bersemai Sekebun percaya bahwa solidaritas lintas generasi adalah kunci untuk merawat ingatan. Ingatan publik bukan semata soal arsip atau museum, melainkan bagaimana generasi hari ini menghubungkan diri dengan masa lalu secara jujur dan terbuka, dengan keberpihakan pada korban.

Ini penting karena kekerasan 1965 telah merembes ke seluruh sendi kehidupan masyarakat Indonesia, memengaruhi bukan hanya penyintas dan keluarganya, tapi juga mereka yang tidak punya hubungan langsung dengan peristiwa tersebut.

Saya sendiri tidak berasal dari keluarga penyintas, dan mulanya cukup kesulitan memahami apa yang terjadi pada dan pasca-1965. Saya kerap bertanya-tanya. Mengapa isu ini sangat sensitif? Mengapa begitu tabu untuk membicarakannya?

Apalagi, referensi yang saya temukan dahulu utamanya adalah buku-buku hasil produksi Orde Baru, yang cenderung berfokus pada Jakarta dan mengambil perspektif militer. Di buku-buku itu tidak dijelaskan bahwa kejahatan kemanusiaan 1965 bukan hanya tentang pemenjaraan dan pembunuhan massal, tapi juga proyek pemiskinan, penghancuran komunitas dan pengetahuan lokal, serta penghapusan jaringan intelektual yang berpengaruh panjang pada generasi setelahnya.

Semua berubah setelah saya ambil bagian di kerja-kerja Bersemai Sekebun.

Embrio Bersemai Sekebun muncul pada 2019, saat empat orang muda bergerak mendokumentasikan narasi para penyintas 1965 di Jawa Tengah. Mereka adalah Adiyat Jati Wicaksono, Albertus Arga Yuda Prasetya, Alhilyatiz Zakiyah Filaily, dan Muhammad Solekhan.

Hasil kerja mereka kemudian diwujudkan dalam serangkaian kegiatan, termasuk penerbitan zine, pameran arsip, serta pertemuan antara para penyintas dan orang-orang muda di Semarang. Saat itulah saya mulai terlibat.

Setelah bertemu dengan para penyintas dan mendengar langsung kisah mereka, saya menemukan lapisan-lapisan lain yang tidak pernah dibahas di buku-buku terbitan Orde Baru atau di diskusi-diskusi sebelumnya tentang 1965.

Selama ini, fokus diskusi sering mengarah pada tanggung jawab negara dan proses yudisial. Namun, lewat cerita para penyintas, kekerasan 1965 juga hadir sebagai pengalaman yang sangat personal dan domestik. Ini kemudian membuat orang seperti saya, yang tidak memiliki ikatan keluarga dengan para korban, tetap bisa merasa terhubung.

Pembelajaran lintas generasi semacam ini yang kemudian terus diusahakan Bersemai Sekebun. Kami berusaha menciptakan ruang bagi para penyintas dan orang-orang muda untuk berdialog, saling mendengar, dan membangun relasi yang setara sehingga kedua pihak dapat berempati atas pengalaman masing-masing.

Penyintas tidak hanya diposisikan sebagai sumber informasi, tapi juga subjek yang memproduksi pengetahuan bersama. Mereka mendapat ruang untuk menuturkan kisahnya dan mengekspresikan diri. Dengan begitu, diharapkan mereka dapat merasa aman dan diakui pengalamannya sebagai korban pelanggaran HAM.

Di saat yang sama, orang muda yang mendengar langsung kisah para penyintas memperoleh pengetahuan dan perspektif baru tentang pelanggaran HAM berat di masa lalu, yang selama ini narasinya kerap didominasi negara dan para pelaku. Selain menumbuhkan rasa senasib dan solidaritas, pertemuan ini membantu generasi muda mengenali pola-pola impunitas yang masih bertahan hingga hari ini.

Tidak hanya soal tragedi 1965, kami juga mengeksplorasi isu penembakan misterius (Petrus) 1983-1985, utamanya setelah saya dan Arga mengikuti fellowship Asia Justice and Rights (AJAR) pada 2021.

Kami meletakkan fokus pada Kampung Barutikung di Semarang, yang mesti menanggung dampak sosial berkepanjangan karena stigma “kampung preman” yang dilekatkan padanya setelah peristiwa Petrus.

Di Barutikung, kami mengajak warga yang mendapat warisan stigma untuk terlibat aktif dalam memproduksi pengetahuan dengan membiarkan mereka memilih cerita yang bakal dibagikan. Dengan cara ini, mereka memahami bahwa pengalaman mereka tidak sekadar dikumpulkan, tetapi direproduksi bersama dan didistribusikan secara sadar, melalui cara-cara yang konsensual dan reflektif.

Relasi semacam ini membuat kami dan para penyintas (atau keluarganya) dapat saling memandang pengalaman masing-masing, serta berproses bersama melalui cerita yang dituturkan. Setiap perubahan setelah percakapan-percakapan tersebut, baik pada diri kami maupun penyintas, selalu kami catat dan refleksikan kembali bersama mereka.

Sebagai pendengar cerita pelanggaran HAM, kami menyadari kewajiban untuk menjaga, merawat, dan memperlakukan cerita tersebut sebagai pengetahuan yang memiliki kuasa. Karena itu, keterbukaan dengan para penyintas menjadi penting, bukan hanya untuk membangun kepercayaan, tapi juga sebagai cara kami untuk tetap berkemanusiaan.

Sebab setiap cerita tidak hanya menuntut untuk didengarkan. Ia juga menuntut keadilan.

Komunitas Bersemai Sekebun menemui dan mendengarkan langsung kisah saksi tragedi 1965 sebagai upaya memproduksi pengetahuan bersama, serta melawan impunitas dan narasi sejarah versi negara. (Project M/Candra Firmansyah)

Merangkul Generasi Muda

Peran orang muda sangat penting dalam upaya menghentikan impunitas.

Generasi yang lahir setelah Reformasi memang tidak mengalami langsung kekerasan Orde Baru. Namun, mereka masih menyaksikan bentuk-bentuk kekerasan negara yang tetap bekerja hingga hari ini, yang bahkan berlangsung semakin konsisten.

Di titik ini, generasi muda, termasuk kami, memegang peran untuk menjaga ingatan tetap hidup dan mencegah pola kekerasan serupa terulang kembali.

Untuk menjangkau generasi muda, Bersemai Sekebun kerap memulainya lewat cara-cara pertemanan: nongkrong, lalu pelan-pelan membicarakan impunitas dari hal-hal yang dekat dan personal, tanpa nada menggurui. Kami juga menggunakan media sosial, terutama Instagram, serta situs web untuk membagikan berbagai produk pengetahuan.

Yasin Fajar adalah salah satu orang muda yang berhasil kami jangkau dengan cara-cara tersebut. Ia mulanya melihat unggahan kami di Instagram tentang rencana diskusi mengenai dialog lintas generasi dalam pemaknaan HAM. Namun, ia baru benar-benar terlibat setelah seorang teman mengajaknya mengikuti Tamasya Taman Bunga. Pertemuan dan dialog dengan penyintas meninggalkan kesan mendalam pada dirinya.

“Saya dapat membangun pengetahuan terkait pelanggaran HAM melalui pengalaman personal dari penyintas sebagai subjek yang mengalami langsung. Pengetahuan tersebutlah yang dijadikan pijakan untuk memastikan kejadian-kejadian itu tidak terulang lagi,” kata Yasin, 23 tahun.

Selain konten media sosial, Bersemai Sekebun juga kerap memakai lagu, film, kartu pos, dan stiker sebagai medium kampanye isu-isu kemanusiaan. Karya-karya kami pun beberapa kali hadir dalam pameran dan berbagai acara seni. Lewat cara-cara itu, kami mencoba mendekatkan isu HAM ke keseharian banyak orang.

Kerja-kerja kolektif seperti yang dilakukan Bersemai Sekebun muncul karena negara gagal menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM. Kami percaya bahwa percakapan tentangnya perlu terus dibangun. Dari percakapan itulah kita bisa membongkar praktik represif negara serta mengungkap struktur kekuasaan yang dipelihara dari generasi ke generasi.

Kerja-kerja merawat ingatan, mendengarkan penyintas, dan menantang narasi negara memang tidak pernah dirancang untuk menjadi sangat populer. Negara tidak menyediakan ruangnya, institusi pendidikan tidak mengajarkannya, dan masyarakat dibentuk untuk menjauhinya.

Tidak semua orang siap mengambil posisi keberpihakan, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena struktur yang kita hadapi memang dirancang untuk membuat orang menjauh. Kesepian ini bukan kebetulan, tapi secara politis juga merupakan produk dari impunitas yang terus dipertahankan.

Sedikitnya orang yang terlibat dalam kerja-kerja semacam ini mencerminkan bagaimana kekuasaan bekerja. Semakin kecil ruang bagi memori alternatif, semakin mudah bagi negara mempertahankan versi sejarahnya sendiri. Ketika tidak banyak yang peduli, semakin mudah pula kekerasan lama dikubur dan kekerasan baru dibiarkan terjadi.

Kesunyian ini menunjukkan bahwa politik ingatan bukan soal masa lalu belaka, tapi juga soal siapa yang diuntungkan ketika masyarakat melupakan. Kesunyian menjadi tanda bahwa negara berhasil menciptakan jarak antara generasi muda dan sejarah kekerasannya.

Dalam beberapa kesempatan, kami mendapati beberapa penyintas yang bahkan tidak pernah menceritakan apa yang mereka alami kepada anak dan cucunya. Kami pun tidak selalu paham mengapa mereka memilih berbagi kepada kami, alih-alih kepada keluarga sendiri.

Namun, justru itu membuat kami merasa bahwa setiap cerita yang dipercayakan harus dijaga. Tanggung jawab itulah yang membuat kerja-kerja yang kerap dianggap sunyi ini terus berlangsung. Ketika hanya sedikit orang yang bersedia berada di ruang ini, ruang ini justru semakin penting untuk dipertahankan.

Kerja-kerja Bersemai Sekebun semakin menemukan urgensinya dalam situasi politik hari ini, ketika rezim tengah berupaya merombak narasi besar sejarah nasional.

Soeharto dan Sarwo Edhie, orang-orang yang bertanggung jawab atas gelombang kekerasan anti-komunis sejak 1965, malah diberikan gelar pahlawan nasional. Ini melemahkan upaya rekonsiliasi dan mengabaikan kewajiban moral serta institusional negara untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan masa lalu. Ini pun menegaskan betapa negara tidak serius menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.

Yang pasti, ketika negara terus memproduksi sejarah “resmi” untuk menutupi kekerasan, warga harus memproduksi pengetahuan untuk mengungkapnya.

Ingatan ini harus terus dirawat.


Pujo Nugroho adalah community organizer di Bersemai Sekebun, kumpulan orang muda yang bergerak di Semarang dan sekitarnya dalam mendokumentasikan dan mengarsipkan kisah penyintas pelanggaran HAM, serta memfasilitasi pembelajaran lintas generasi, termasuk melalui pelatihan, pameran seni dan arsip, diskusi publik, dan format kreatif lainnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.