Bincangperempuan.com- Dalam masa pendekatan atau PDKT, hubungan memang sering belum memiliki status yang jelas. Kalian mungkin belum resmi berpacaran, tetapi sudah terbiasa saling memberi perhatian. Lalu suatu waktu, hubungan itu mulai terasa renggang. Komunikasi berkurang, bahkan bisa saja sudah lama tidak berbicara secara langsung.
Namun tiba-tiba dia muncul lewat media sosial. Dia sering memberi reaksi pada cerita di Instagram, mengirim reels lucu, atau membalas story dengan komentar singkat yang tidak begitu relevan. Komunikasi tetap ada, tetapi tidak pernah berkembang menjadi percakapan yang serius. Tidak ada pembahasan tentang kehidupan masing-masing, apalagi tentang kejelasan hubungan.
Pernah mengalami hal tersebut? Hati-hati, bisa jadi kamu sedang menikmati remah-remah perhatian alias breadcrumbing.
Apa Itu Breadcrumbing?
Melansir Psychology Today, breadcrumbing adalah istilah untuk menggantung seseorang dengan potongan-potongan kecil komunikasi tanpa pernah benar-benar berkomitmen pada sebuah hubungan. Saat ini, “remah-remah” komunikasi itu umumnya terjadi secara daring tetapi tidak pernah mengajak bertemu atau membicarakan arah hubungan secara serius. Hubungan pun berhenti di tempat.
Kondisi yang serba tidak jelas ini bisa terasa membingungkan dan menyakitkan bagi pihak yang menerima. Sambil berharap hubungan akan berkembang, orang yang “digantung” bisa menjadi bingung terkait apa yang sebenarnya terjadi atau kapan harus mengakhiri hubungan tersebut.
Breadcrumbing biasanya terjadi dalam hubungan romantis, tetapi pola ini juga bisa muncul dalam hubungan pertemanan atau bahkan profesional.
Istilah ini bersifat populer dan bukan istilah resmi dalam psikologi. Namanya diambil dari dongeng terkenal Hansel and Gretel, ketika kedua tokoh meninggalkan jejak remah roti untuk menemukan jalan pulang. Dalam konteks hubungan, remah itu berupa perhatian kecil yang membuat seseorang tetap mengikuti jejak, berharap ada arah yang jelas.
Istilah breadcrumbing mulai dikenal sekitar tahun 2010 dalam dunia kencan. Dalam Urban Dictionary, breadcrumbing dijelaskan sebagai tindakan memberi perhatian secukupnya agar harapan seseorang terhadap hubungan tetap hidup. Perilaku tidak berkomitmen ini juga pernah disebut sebagai “Hansel and Greteling.”
Sebelum media sosial hadir, perilaku ini sebenarnya sudah ada. Dulu kita mengenalnya sebagai menggantung hubungan atau memberi harapan palsu. Bedanya, kini semua itu terjadi lewat notifikasi, pesan singkat, dan algoritma.
Baca juga: Ketika Punya Pacar Tak Lagi Jadi Kebanggaan
Tanda-Tanda Breadcrumbing
Mendapat breadcrumbing bisa membuat seseorang bingung. Kita jadi bertanya-tanya, “sebenarnya dia masih memikirkan aku atau tidak?” Perhatian kecil yang muncul sesekali membuat situasi terasa tidak jelas. Karena itu, memahami tanda-tandanya penting agar kita bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Beberapa tanda yang umum antara lain:
- Komunikasi yang tidak konsisten dan sulit ditebak.
- Hanya berinteraksi lewat pesan atau media sosial, tetapi jarang atau tidak pernah mengajak bertemu.
- Tidak menepati rencana yang sudah dibuat.
- Percakapan dangkal, tanpa keterbukaan atau pembahasan serius tentang kehidupan masing-masing.
- Hubungan terasa tidak seimbang; perhatian yang diberikan tidak sebanding dengan yang diterima.
- Lebih fokus pada aspek fisik atau godaan ringan dibanding membangun hubungan yang utuh.
Dampak Breadcrumbing Terhadap Kesehatan Mental
Salah satu penelitian yang dikutip dalam Psychology Today terhadap 625 orang dewasa muda berusia 18 sampai 40 tahun membandingkan dampak ghosting dan breadcrumbing. Hasilnya menunjukkan bahwa breadcrumbing bisa memberi dampak yang bahkan lebih berat dibanding perilaku tidak berkomitmen lainnya. Beberapa dampak yang ditemukan antara lain:
1. Membuat orang sulit lepas dan terus menunggu
Breadcrumbing bekerja seperti semacam hadiah yang datangnya tidak pasti. Hari ini tidak ada kabar, besok tiba-tiba ada pesan atau tanda suka. Pola yang tidak menentu ini membuat seseorang terus menunggu dan berharap. Lama-lama, muncul dorongan untuk selalu mengecek ponsel atau menanti respons berikutnya.
2. Menimbulkan rasa tidak berdaya
Berbeda dengan ghosting yang langsung memutus komunikasi, breadcrumbing membuat hubungan terasa masih bisa diharapkan, tetapi tidak pernah jelas arahnya. Seseorang bisa terjebak dalam situasi menunggu tanpa kepastian. Ketidakjelasan yang terus berlangsung ini bisa menimbulkan rasa lelah secara emosional.
3. Memperpanjang rasa kesepian
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang mengalami breadcrumbing cenderung merasa lebih kesepian. Meski komunikasi kecil masih terjadi, mereka tetap merasa tidak benar-benar dilibatkan dalam kehidupan si pelaku. Ada interaksi, tetapi tidak ada kedekatan yang nyata.
Para peneliti menyebut bahwa baik ghosting maupun breadcrumbing sama-sama menimbulkan rasa ditolak. Namun, breadcrumbing terasa lebih menyakitkan karena berlangsung lama. Seseorang terus berada dalam posisi menunggu tanpa kejelasan.
Pengalaman ini bisa membuat seseorang merasa diremehkan, bergantung pada respons kecil, dan perlahan kehilangan rasa percaya diri.
Memang, tidak semua orang yang melakukan breadcrumbing berniat jahat. Ada yang ragu, tidak tegas, atau bingung dengan pilihan yang ada. Namun, apa pun alasannya, dampaknya tetap bisa melukai orang lain.
Baca juga: Cuma Temen, HTS, Situationship sampai FWB: Kenapa Hubungan Gen Z Penuh Label?
Kenapa Orang Melakukan Breadcrumbing?
Orang melakukan breadcrumbing karena berbagai alasan. Ada yang memang tidak ingin berkomitmen, tetapi juga tidak mau kehilangan seseorang yang masih memberi perhatian. Ada yang menikmati rasa diinginkan tanpa harus bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Ada juga yang bingung dengan perasaannya sendiri, ingin dekat tetapi mundur ketika hubungan mulai serius.
Namun dalam banyak kasus, ada unsur kontrol di situ. Perhatian yang diberikan secukupnya membuat orang lain tetap bertahan, tetap berharap, dan tetap tersedia. Dengan cara itu, pelaku tetap punya akses tanpa harus memberi kepastian.
Memang tidak semua breadcrumbing direncanakan sebagai manipulasi. Ada yang hanya tidak tegas atau menghindari percakapan jujur. Tetapi apa pun niatnya, hasilnya sama saja yaitu satu pihak berada dalam posisi menunggu, sementara pihak lain memegang kendali atas arah hubungan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat butuh kejelasan. Kalau sikapnya terus menggantung, wajar untuk bertanya secara langsung. Jika jawabannya tetap tidak jelas atau dia terus menghindar, tidak ada salahnya bersikap tegas. Kita tidak perlu bertahan dalam situasi yang membuat bingung dan merasa tidak dihargai. Kalau tidak ada kejelasan, tinggalkan. Menutup akses bukan tindakan berlebihan, itu bentuk menjaga diri.
Referensi:
- Psychology Today. (n.d.). Breadcrumbing https://www.psychologytoday.com/gb/basics/breadcrumbing
- Walker, V. (2021, August 4). The emotional pain of being breadcrumbed. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/400-friends-but-who-can-i-call/202108/the-emotional-pain-of-being-breadcrumbed





Comments are closed.