Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria

Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria

bukan-hanya-simbol-konservasi,-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria
Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria
service

Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan tanaman lain, membentuk lanskap kebun tetap teduh yang produktif. “Dulu, buah khas Muria ini belum banyak dibudidayakan,” ujar Huri, yang mulai menanam parijoto sejak 1996, Selasa (31/4/2026). Seringnya, warga memetik langsung di hutan, tanpa ada upaya serius untuk menanam atau mengelolanya sebagai sumber penghasilan. Seiring waktu, situasi berubah. Parijoto dikenal luas, terutama oleh para peziarah yang datang ke kawasan Gunung Muria. Buah kecil berwarna ungu kemerahan ini dipercaya punya nilai simbolik, bahkan dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari sini, permintaan mulai tumbuh. Melihat peluang itu, Huri bersama sejumlah petani mulai membudidayakan parijoto di kebun mereka. Menanamnya tak menebang pohon-pohon besar, melainkan memanfaatkan naungan alami yang ada. “Harus di bawah pohon, tidak bisa kena sinar matahari langsung.” Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Pola tanam ini menjadikan kebun parijoto tetap menyerupai hutan. Pepohonan seperti alpukat dan berbagai jenis kayu hutan dibiarkan tumbuh, menciptakan ekosistem yang mendukung keberlangsungan tanaman. Selain menjaga kesuburan tanah, cara ini juga membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan di lereng Muria. Berbeda dengan kopi yang hanya panen setahun sekali, parijoto fleksibel. Pada musim hujan, Huri bisa memetik buahnya hampir setiap hari. Hasil panen juga bisa langsung dijual pada wisatawan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.