Tue,8 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Halaqah Kubra KUPI Petakan Isu dan Arah Gerakan Menuju Kongres III

Halaqah Kubra KUPI Petakan Isu dan Arah Gerakan Menuju Kongres III

halaqah-kubra-kupi-petakan-isu-dan-arah-gerakan-menuju-kongres-iii
Halaqah Kubra KUPI Petakan Isu dan Arah Gerakan Menuju Kongres III
service

Mubadalah.id – Ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Halaqah Kubra Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2025 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 12–14 Desember 2025. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan gerakan keulamaan perempuan setelah Kongres KUPI II di Jepara sekaligus menyusun proyeksi gerakan menuju Kongres KUPI III.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya membahas berbagai persoalan yang dihadapi perempuan dan kelompok rentan. Mereka juga melihat kembali kerja-kerja gerakan, mengidentifikasi tantangan yang masih dihadapi, serta merumuskan isu yang dinilai penting untuk dibawa ke pembahasan Kongres KUPI III.

Ketua Panitia Halaqah Kubra, Dr. Iklilah Muzayyanah DF, mengatakan proses tersebut berlangsung melalui perjumpaan peserta dengan latar belakang yang beragam. Perbedaan pengalaman, pengetahuan, lingkungan sosial, hingga perspektif menjadi bagian dari dinamika selama halaqah.

Hal itu disampaikan Iklilah saat menjelaskan kembali proses dan hasil Halaqah Kubra dalam acara launching hasil Halaqah Kubra di UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Selasa (8/9/2026).

Menurut Iklilah, hasil yang lahir dari Halaqah Kubra bukan merupakan gagasan satu orang atau satu kelompok. Kesepakatan tersebut terbentuk melalui proses bersama yang memungkinkan peserta menyampaikan pengalaman, mendiskusikan persoalan, menguji gagasan, dan menentukan sejumlah isu yang dianggap penting bagi keberlanjutan gerakan.

Mempertemukan Beragam Latar Belakang

Halaqah Kubra dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai konstituen gerakan KUPI. Peserta berasal dari pesantren, perguruan tinggi, majelis taklim, komunitas dan organisasi sosial keagamaan, serta kelompok orang muda.

Halaqah Kubra 2025 melibatkan peserta dari 25 provinsi. Dalam proses refleksi dan proyeksi yang berlangsung selama dua hari, tercatat 214 peserta terlibat. Sementara pada hari pertama, forum publik diikuti lebih dari 500 peserta.

Keragaman tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam proses Halaqah Kubra. Peserta membawa pengalaman dan persoalan yang tidak selalu sama. Pengalaman pengelola pesantren, misalnya, tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman akademisi di perguruan tinggi. Begitu pula persoalan yang dihadapi komunitas dan organisasi sosial keagamaan dapat berbeda dengan tantangan yang dihadapi orang muda.

Perbedaan tersebut membuat proses menemukan kesepakatan tidak selalu berlangsung sederhana. Peserta perlu mendengarkan berbagai pengalaman, memahami konteks persoalan, dan mencari titik temu di antara gagasan yang berkembang.

Karena itu, Halaqah Kubra tidak hanya sebagai forum penyampaian pendapat. Peserta KUPI ajak untuk menjalani proses deliberasi untuk melihat kembali pengalaman gerakan, mengidentifikasi persoalan yang kami anggap penting, dan menentukan isu yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan menuju Kongres KUPI III.

Dalam proses tersebut, perbedaan pandangan tidak sebagai hambatan yang harus kita hilangkan. Sebaliknya, perbedaan menjadi bagian dari proses untuk memperkaya cara pandang sebelum sebuah kesepakatan kami rumuskan.

Membaca Masa Lalu dan Menyiapkan Masa Depan

Rangkaian Halaqah Kubra berlangsung dalam tiga tahapan yang saling berkaitan. Hari pertama sebagai ruang untuk melihat posisi gerakan keulamaan perempuan dalam konteks Indonesia sekaligus membaca perjalanan sejarah gerakan perempuan.

Forum publik pada hari pertama menjadi pintu masuk untuk melihat perkembangan gerakan, pengalaman para konstituen, serta posisi KUPI dalam menghadapi berbagai perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Pada hari kedua, peserta memasuki proses refleksi terhadap perjalanan gerakan setelah Kongres KUPI II di Jepara. Peserta diajak melihat kembali berbagai kerja yang telah KUPI lakukan, capaian yang telah KUPI peroleh, serta persoalan yang masih membutuhkan perhatian.

Refleksi tersebut menjadi penting karena perjalanan sebuah gerakan tidak hanya ditentukan oleh agenda yang berhasil dilaksanakan. Evaluasi terhadap kerja yang telah dilakukan juga diperlukan untuk mengetahui bagian mana yang perlu dilanjutkan, diperkuat, atau dikembangkan.

Hari ketiga kemudian kami arahkan pada proyeksi. Setelah membaca pengalaman masa lalu dan kondisi gerakan saat ini, peserta diajak membicarakan arah gerakan ke depan.

Persoalan apa yang akan menjadi perhatian? Tantangan apa yang perlu dijawab? Dan bagaimana gerakan keulamaan perempuan dapat terus relevan dengan kebutuhan masyarakat?

Dengan alur tersebut, Halaqah Kubra tidak hanya menjadi forum evaluasi. Pertemuan itu juga menjadi bagian dari proses menyiapkan bahan menuju Kongres KUPI III.

Lima Ruang Khidmah KUPI

Untuk membaca persoalan secara lebih kontekstual, peserta Halaqah Kubra dikelompokkan ke dalam lima ruang khidmah KUPI. Kelima ruang tersebut meliputi pesantren, perguruan tinggi, majelis taklim, komunitas dan organisasi sosial keagamaan, serta orang muda.

Pengelompokan tersebut memungkinkan peserta membahas persoalan berdasarkan pengalaman masing-masing ruang. Setiap kelompok kemudian harus mengidentifikasi dan menyepakati tiga isu pokok yang penting untuk mendapat perhatian dalam Kongres KUPI III.

Proses perumusan isu tersebut mereka lakukan dalam satu hari penuh. Setiap ruang membawa pengalaman dan persoalan yang berkembang di lingkungannya masing-masing.

Dari ruang pesantren, misalnya, muncul perhatian terhadap persoalan kedaulatan tubuh, krisis air, penanaman pohon dan sampah, serta disfungsi keluarga.

Sementara itu, ruang perguruan tinggi mengangkat persoalan ekologi berbasis budaya dan kearifan lokal, pengasuhan dalam perspektif KUPI, serta perkawinan yang tidak dicatat.

Ruang majelis taklim mengidentifikasi persoalan ekonomi komunitas dan kesadaran ekologis. Dari ruang komunitas dan organisasi sosial keagamaan, muncul perhatian terhadap pemenuhan hak dasar perempuan dan kelompok rentan, keadilan dan lingkungan, serta pemenuhan hak lansia.

Adapun kelompok orang muda membawa isu kekerasan dalam rumah tangga, persoalan kehidupan digital, serta kerusakan ekologis.

Berbagai isu tersebut menunjukkan luasnya persoalan yang menjadi perhatian gerakan keulamaan perempuan. Isu perempuan dan kelompok rentan tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan persoalan keluarga, pendidikan, ekonomi, lingkungan, kebijakan, budaya, teknologi, dan pemahaman keagamaan.

Karena itu, proses perumusan isu dalam Halaqah Kubra tidak berhenti pada penyusunan daftar persoalan. Peserta juga perlu melihat hubungan antara satu persoalan dengan persoalan lainnya agar arah gerakan dapat merespons masalah secara lebih utuh.

Dinamika dalam Proses Menemukan Kesepakatan

Iklilah mengatakan keberagaman peserta menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan Halaqah Kubra. Forum tersebut tidak hanya membutuhkan jumlah peserta yang besar, tetapi juga berupaya menghadirkan keterwakilan dari berbagai ruang dan jaringan yang menjadi bagian dari gerakan KUPI.

Pemilihan peserta karena itu menjadi bagian penting dari proses persiapan. Halaqah Kubra bukan forum yang KUPI buka dengan pola yang sama seperti kongres. Peserta kami pilih dengan mempertimbangkan kebutuhan untuk menghadirkan pengalaman dan perspektif dari berbagai ruang khidmah.

Meski demikian, keterwakilan tersebut tidak berarti setiap peserta dapat sepenuhnya mewakili seluruh kepentingan dalam ruangnya. Keragaman pengalaman di dalam setiap kelompok tetap menjadi bagian dari dinamika pembahasan.

Dalam kondisi seperti itu, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Proses menemukan kesepakatan membutuhkan waktu, keterbukaan untuk mendengarkan, serta kesediaan untuk mengoreksi dan mengembangkan gagasan.

Bagi gerakan sosial, proses tersebut menjadi bagian penting yang sering kali tidak terlihat dari luar. Kerja gerakan tidak hanya berupa aksi publik atau agenda besar, tetapi juga mencakup proses mendengarkan, merumuskan, mendiskusikan, mengoreksi, dan menyatukan gagasan.

Halaqah Kubra memperlihatkan bahwa kesepakatan tidak harus berangkat dari keseragaman pandangan. Kesepakatan dapat kita bangun dari perbedaan yang kami kelola melalui dialog dan proses bersama.

Semangat Kolektif di Tengah Keterbatasan

Selain dinamika dalam pembahasan, penyelenggaraan Halaqah Kubra juga menghadapi tantangan dalam hal sumber daya. Menghadirkan peserta dari berbagai daerah membutuhkan persiapan dan dukungan yang tidak sedikit.

Keterbatasan pendanaan menjadi salah satu tantangan dalam proses penyelenggaraan. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan kerja bersama yang berbagai pihak telah lakukan.

Semangat kolektif menjadi salah satu kekuatan yang memungkinkan kegiatan tetap berjalan. Dukungan tidak hanya datang dalam bentuk sumber daya, tetapi juga melalui keterlibatan banyak orang dalam menyiapkan dan menjalankan agenda.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan gerakan tidak hanya sebagai rumusan gagasan. Gerakan juga membutuhkan relasi, rasa memiliki, kesediaan untuk bekerja bersama, dan keterlibatan berbagai pihak.

Dalam konteks Halaqah Kubra, semangat tersebut terlihat dari keterlibatan peserta dan jaringan yang datang dari berbagai daerah untuk mengikuti proses refleksi dan proyeksi gerakan.

Hasil Halaqah Tidak Berhenti sebagai Dokumen

Iklilah menegaskan proses Halaqah Kubra tidak berhenti ketika pertemuan tiga hari tersebut selesai. Hasil yang telah dirumuskan masih perlu dibaca kembali, diperdalam, dan dibicarakan dalam ruang-ruang lain.

Dengan demikian, hasil Halaqah Kubra tidak berhenti sebagai dokumen pertemuan. Berbagai isu yang telah muncul perlu terus kami bicarakan di tengah jaringan KUPI sehingga dapat kita uji dan perkaya melalui pengalaman masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Halaqah Kubra menjadi salah satu jembatan menuju Kongres KUPI III. Forum ini menyediakan gambaran awal mengenai persoalan yang dirasakan oleh berbagai konstituen gerakan.

Namun, rumusan tersebut masih terbuka untuk kami perdalam. Proses menuju Kongres KUPI III akan menjadi rangkaian perjumpaan yang memungkinkan berbagai isu tersebut kita bahas lebih luas.

Majelis Musyawarah KUPI melalui lembaga-lembaga penyangga gerakan juga merencanakan rangkaian halaqah komunitas dan halaqah pra-nasional di berbagai wilayah. Selain itu, akan melakukan ruang-ruang perjumpaan dengan aktivis dan ulama perempuan.

Rangkaian tersebut kami harapkan dapat memperkaya sekaligus mempertajam isu yang telah muncul dalam Halaqah Kubra sebelum dibawa menjadi bagian dari pembahasan Kongres KUPI III.

Menjaga Gerakan Tetap Terhubung dengan Masyarakat

Halaqah Kubra 2025 menjadi salah satu tahapan dalam perjalanan gerakan keulamaan perempuan dari Kongres KUPI II menuju Kongres KUPI III. Pertemuan tersebut menghubungkan pengalaman gerakan yang telah berlangsung dengan agenda yang akan datang.

Proses itu menunjukkan bahwa perjalanan menuju kongres tidak dimulai ketika peserta memasuki ruang kongres. Sebelumnya, terdapat proses panjang untuk mendengarkan pengalaman, membaca perubahan sosial, mengidentifikasi persoalan, dan menyusun agenda bersama.

Dari lima ruang khidmah, muncul beragam persoalan yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Kedaulatan tubuh, keluarga, perkawinan, ekologi, hak kelompok rentan, lansia, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kehidupan digital menjadi bagian dari perhatian peserta.

Keberagaman isu tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kerja keulamaan perempuan berhadapan dengan persoalan yang semakin kompleks. Persoalan sosial tidak dapat dibaca hanya dari satu bidang karena satu masalah sering kali berkaitan dengan masalah lainnya.

Karena itu, proses deliberasi menjadi bagian penting dalam memastikan agenda gerakan tidak terlepas dari pengalaman masyarakat. Gagasan yang dirumuskan dalam ruang gerakan perlu terus dihubungkan dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Halaqah Kubra menjadi ruang untuk menjalankan proses tersebut. Peserta datang dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda, membawa persoalan dari ruang masing-masing, lalu membicarakannya dalam satu forum.

Dari proses itu kemudian lahir sejumlah kesepakatan awal yang akan menjadi bahan bagi perjalanan berikutnya menuju Kongres KUPI III.

Perjalanan Gerakan

Bagi Iklilah, proses tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan gerakan. Halaqah Kubra bukan titik akhir, melainkan salah satu tahapan untuk memastikan gerakan terus memiliki ruang dialog dan mampu merumuskan respons terhadap perubahan masyarakat.

Dengan demikian, perjalanan dari Halaqah Kubra menuju Kongres KUPI III tidak hanya berbicara tentang persiapan sebuah forum besar. Di dalamnya terdapat proses untuk menjaga agar berbagai pengalaman, suara, dan persoalan dari konstituen gerakan tetap terhubung dalam agenda bersama.

Ratusan peserta yang berkumpul selama tiga hari di Yogyakarta membawa suara dari ruang yang berbeda. Melalui proses dialog, suara-suara tersebut dipertemukan, dipertajam, dan dirumuskan menjadi sejumlah agenda yang akan terus dibicarakan.

Proses itu masih panjang. Namun, Halaqah Kubra 2025 telah menjadi salah satu pijakan untuk melanjutkan perjalanan gerakan keulamaan perempuan menuju Kongres KUPI III. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.