Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Cara Melatih Anak Berpikir Kritis di Era AI, Orang Tua Bisa Lakukan Ini

Cara Melatih Anak Berpikir Kritis di Era AI, Orang Tua Bisa Lakukan Ini

cara-melatih-anak-berpikir-kritis-di-era-ai,-orang-tua-bisa-lakukan-ini
Cara Melatih Anak Berpikir Kritis di Era AI, Orang Tua Bisa Lakukan Ini
service

Jakarta

Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin mudah diakses, anak-anak perlu dibekali kemampuan berpikir kritis. Tujuannya agar mereka tidak mudah menerima informasi begitu saja, Bunda.

Ya, beragam informasi kini dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, tidak semuanya benar atau dapat dipercaya.

Orang tua memiliki peran penting dalam melatih anak berpikir kritis agar bisa mengambil kesimpulan berdasarkan alasan yang logis. Dalam hal ini, orang tua bisa mengajarkan anak kemampuan untuk berhenti sejenak, mengamati, dan berpikir sebelum mencari jawaban.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baru-baru ini, penulis Prerna Wadhawan berbagi pendekatan menarik untuk melakukan hal tersebut. Dilansir Times of India, Wadhawan menyebutnya sebagai salah satu hal yang ia ajarkan kepada anak-anaknya dan sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Untuk melatih anak berpikir kritis, Wadhawan memanfaatkan momen sederhana, seperti saat berkendara naik mobil dengan anak. Metodenya sangat sederhana, yakni amati sesuatu, ajukan pertanyaan, dan tahan diri untuk tidak langsung memberikan jawabannya.

Sebagai contoh, sebuah goresan pada mobil dapat memicu penyelidikan. Siapa yang menggoresnya? Mungkinkah itu disebabkan oleh koin? kunci? atau paku? Apakah itu terjadi secara tidak sengaja atau disengaja? Benda apa yang cukup keras untuk menggores logam?

Satu pengamatan sederhana tiba-tiba berkembang menjadi percakapan tentang jenis material, perilaku manusia, bukti, asumsi, dan kemungkinan. Bunda tidak perlu meminta satu jawaban pasti pada anak, karena itulah pelajarannya.

Jangan menjawab setiap pertanyaan anak

Dalam mengasah kemampuan berpikir kritis anak, Wadhawan mengatakan dirinya juga mengikuti satu aturan, yakni “Saya tidak pernah memberikan jawaban langsung”.

Jika ia tidak mengetahui sesuatu, maka ia dengan senang hati mencari tahu jawabannya bersama anak-anak menggunakan berbagai sumber. Namun, alih-alih langsung memberikan penjelasan, ia justru mengarahkan mereka menuju jawaban melalui pertanyaan lain. Tujuannya adalah menjadikan rasa ingin tahu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pentingnya melatih anak berpikir kritis

Penelitian menunjukkan bahwa pertanyaan “mengapa?” yang tiada henti dari anak bukan sekadar fase yang harus dilalui orang tua. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari cara anak belajar.

Penelitian tentang rasa ingin tahu anak yang diterbitkan dalam Current Opinion in Behavioral Sciences menunjukkan bahwa upaya mencari penjelasan memainkan peran penting dalam proses belajar Si Kecil. Saat anak menjumpai hal yang tidak mereka pahami, pertanyaan dapat membantu mereka mencari informasi yang dibutuhkan untuk memahami dunia.

Rasa ingin tahu alami tersebut adalah sesuatu yang patut dijaga. Jadi, orang tua tidak sekadar memuaskan pertanyaan anak dengan jawaban yang instan.

Di sinilah pembahasan mengenai AI dan anak-anak memerlukan sudut pandang yang lebih mendalam, Bunda. AI pada dasarnya bukanlah musuh bagi kemampuan berpikir mandiri.

Faktanya, anak yang sudah terbiasa mempertanyakan, menyelidiki, membandingkan, dan menguji informasi berpotensi memanfaatkan AI sebagai sarana belajar yang efektif.

Berikut rumus yang benar untuk melatih anak berpikir kritis:

  • Anak mengamati terlebih dulu > muncul pertanyaan > berpikir > menyelidiki > menggunakan AI > memverifikasi.

Bahaya baru dapat muncul ketika urutan proses tersebut terbalik, yakni:

  • Muncul pertanyaan > bertanya pada AI > menyalin jawaban > beralih ke hal lain.

Ingat ya, cara mendidik anak mandiri di era AI bukan dengan melarang mereka menggunakan AI. Tapi, Bunda perlu memastikan bahwa sebelum beralih ke mesin, anak tahu cara mengandalkan pikiran mereka sendiri terlebih dahulu.

Itulah cara melatih anak berpikir kritis di era AI. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.