“Laki-laki lebih memilih membakar kerajaan daripada melihat perempuan duduk di Iron Throne.”
Kalimat yang diucapkan Rhaenys Targaryen kepada Rhaenyra dalam serial House of the Dragon bukan sekadar dialog dramatis dalam serial fantasi. Kalimat tersebut merefleksikan persoalan yang masih relevan hingga hari ini. Ketika perempuan memasuki ruang kekuasaan, mereka kerap menghadapi penolakan yang tidak semata-mata didasarkan pada kapasitas. Melainkan pada jenis kelamin dan peran gender mereka.
Musim kedua House of the Dragon kembali memperlihatkan bahwa perang saudara Targaryen atau Dance of the Dragons bukan hanya kisah perebutan Iron Throne. Di balik konflik keluarga itu, terdapat pertarungan mengenai siapa yang dianggap memiliki legitimasi untuk memimpin. Pertanyaan tersebut tidak hanya hidup di Westeros, tetapi juga masih menjadi perdebatan dalam banyak ruang politik di dunia nyata.
Serial House of the Dragon memperlihatkan cara sistem patriarki bekerja mempertahankan kekuasaan. Bukan dengan selalu menolak perempuan secara terang-terangan. Melainkan melalui tradisi, norma, dan tafsir mengenai siapa yang dianggap pantas menjadi pemimpin.
Sejak awal cerita House of the Dragon, Raja Viserys I Targaryen secara terbuka menunjuk putrinya, Rhaenyra Targaryen, sebagai pewaris sah Iron Throne. Para bangsawan dari berbagai wilayah bahkan diminta mengucapkan sumpah setia untuk mengakui keputusan tersebut.
Baca Juga: Novel Makhluk Bumi: Saat Rahim, Patuh, dan Luka Jadi Medan Kontrol atas Tubuh Perempuan
Secara politik, posisi Rhaenyra seharusnya tidak lagi diperdebatkan. Namun setelah Viserys wafat, sebagian anggota Dewan Kecil justru menobatkan Aegon II sebagai raja. Keputusan itu bukan karena Rhaenyra kehilangan haknya, melainkan karena Aegon adalah laki-laki.
Di titik inilah House of the Dragon memperlihatkan cara patriarki bekerja. Keputusan seorang raja dapat diabaikan ketika perempuan menjadi pihak yang memperoleh keuntungan dari keputusan tersebut.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah Rhaenyra adalah pewaris yang sah. Persoalannya adalah apakah masyarakat Westeros bersedia menerima perempuan sebagai penguasa tertinggi.
Patriarki dalam serial ini tidak selalu tampil dalam bentuk kebencian terhadap perempuan. Ia hadir melalui keyakinan yang diwariskan turun-temurun bahwa kepemimpinan adalah wilayah laki-laki. Tradisi kemudian menjadi pembenaran untuk mengesampingkan hak perempuan, bahkan ketika aturan yang berlaku justru mendukung mereka.
Konflik yang dialami Rhaenyra juga memperlihatkan standar berbeda antara perempuan dan laki-laki dalam memperebutkan kekuasaan.
Sepanjang cerita, kehidupan pribadi Rhaenyra menjadi bahan perdebatan. Keabsahan anak-anaknya dipersoalkan. Setiap keputusan politiknya diawasi dengan lebih ketat. Bahkan kehidupan dan tubuhnya sebagai perempuan dijadikan dasar untuk mempertanyakan kelayakannya sebagai calon penguasa.
Sebaliknya, Aegon II yang digambarkan sebagai sosok impulsif dan tidak bertanggung jawab tetap memperoleh legitimasi dari sebagian elite kerajaan. Berbagai kesalahan dan perilakunya tidak serta-merta menghapus anggapan bahwa ia lebih pantas menjadi raja karena berjenis kelamin laki-laki.
Baca Juga: ‘My Crazy Feminist Girlfriend’ Menantang Male Gaze Asia Timur dan Panik Maskulin Atas Feminisme
Perbedaan perlakuan ini menunjukkan standar ganda yang juga masih ditemukan dalam kehidupan nyata. Perempuan yang berada di ruang publik sering kali dinilai bukan hanya berdasarkan kemampuan memimpin, tetapi juga dari kehidupan pribadi, ekspresi emosi, penampilan, hingga bagaimana mereka menjalankan peran domestik. Sementara laki-laki lebih sering dinilai berdasarkan jabatan, kewenangan, dan keputusan politiknya.
Akibatnya, perempuan bukan hanya dituntut menjadi pemimpin yang kompeten. Mereka juga harus terus-menerus membuktikan bahwa mereka layak memimpin.
Perdebatan antara Team Black dan Team Green sering dipahami sebagai pertarungan dua kubu keluarga Targaryen. Namun jika dilihat lebih jauh, konflik tersebut juga merupakan perdebatan mengenai legitimasi kekuasaan.
Tokoh-tokoh seperti Corlys Velaryon, Rhaenys Targaryen, Jacaerys Velaryon, hingga Daemon Targaryen mendukung Rhaenyra karena menganggap keputusan Raja Viserys harus dihormati. Mereka melihat bahwa persoalan utamanya bukan sekadar jenis kelamin Rhaenyra. Melainkan konsistensi terhadap keputusan, hukum, dan sumpah yang telah diucapkan para bangsawan.
Sebaliknya, Team Green memanfaatkan tradisi bahwa pewaris laki-laki lebih utama dibandingkan perempuan. Tradisi tersebut kemudian dijadikan dasar moral dan politik untuk membenarkan pengambilalihan takhta.
Konflik ini memperlihatkan bahwa patriarki tidak selalu bekerja melalui kekerasan atau larangan yang terang-terangan. Ia juga bekerja melalui narasi bahwa laki-laki secara alamiah lebih pantas memimpin. Ketika narasi tersebut diterima sebagai sesuatu yang wajar, hak perempuan menjadi lebih mudah diperdebatkan.
Baca Juga: Film Horor ‘Hokum’ Menunjukkan Laki-Laki Lebih Menyeramkan daripada Penyihir
Yang menarik, Rhaenys sendiri menjadi pengingat bahwa persoalan ini telah berlangsung jauh sebelum Rhaenyra. Ia pernah menjadi kandidat untuk menduduki Iron Throne, tetapi akhirnya tersingkir karena keputusan politik yang lebih mengutamakan pewaris laki-laki.
Pengalaman Rhaenys membuat pernyataannya kepada Rhaenyra terasa lebih kompleks. Ia bukan hanya berbicara sebagai seorang perempuan yang melihat perempuan lain berjuang mendapatkan takhta. Ia juga berbicara sebagai seseorang yang pernah mengalami sendiri ketika hak perempuan dapat dikalahkan oleh tradisi patriarkal.
Meski berlatar dunia fantasi, House of the Dragon menghadirkan refleksi mengenai bagaimana sistem patriarki memengaruhi distribusi kekuasaan.
Dalam berbagai negara, perempuan yang memasuki dunia politik masih menghadapi hambatan yang berbeda dibandingkan laki-laki. Mereka lebih sering dipertanyakan mengenai kemampuan mengambil keputusan, dianggap terlalu emosional, atau dinilai berdasarkan kehidupan personalnya. Tidak jarang, keberhasilan perempuan dipandang sebagai pengecualian. Sementara keberhasilan laki-laki dianggap sesuatu yang wajar.
Melalui karakter Rhaenyra, serial ini memperlihatkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar tentang satu individu. Ia menggambarkan betapa sistem sosial dapat membuat perempuan harus bekerja lebih keras hanya untuk memperoleh pengakuan yang sama.
Iron Throne dalam House of the Dragon pada akhirnya tidak hanya menjadi simbol kekuasaan politik. Tetapi juga simbol perebutan ruang yang selama ini didominasi laki-laki.
Baca Juga: Film Ladies First (2026): Ketika Laki-Laki Merasakan Jadi Si “Nomor Dua”
Tentu, Rhaenyra bukanlah tokoh tanpa kekurangan. Ia membuat keputusan yang kontroversial dan tidak selalu benar. Namun, kekurangan tersebut tidak otomatis menghapus fakta bahwa ia adalah pewaris yang secara resmi ditunjuk oleh Raja Viserys I.
Di sinilah serial tersebut menjadi menarik jika dibaca melalui perspektif feminis. Memperjuangkan kesetaraan bukan berarti menganggap perempuan selalu benar atau perempuan yang berada dalam posisi kekuasaan tidak boleh dikritik. Persoalannya adalah apakah kritik terhadap perempuan diberikan dengan standar yang sama seperti kepada laki-laki.
Pertanyaan yang diajukan serial ini kepada penonton bukan sekadar siapa yang paling layak menduduki Iron Throne. Pertanyaannya adalah mengapa ketika seorang perempuan memiliki hak yang sama, hak tersebut justru lebih mudah diperdebatkan.
Melalui kisah Rhaenyra, House of the Dragon mengingatkan bahwa patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk larangan eksplisit. Ia dapat bekerja melalui tradisi, tafsir, dan standar ganda yang membuat perempuan harus terus membuktikan dirinya agar dianggap layak memimpin.
Karena itu, konflik perebutan takhta di Westeros bukan hanya tentang naga, perang, atau ambisi keluarga. Ia juga menjadi cermin bagaimana perempuan masih menghadapi tantangan untuk memperoleh legitimasi di ruang publik. Meski berlatar dunia fantasi, pertanyaan yang diajukan serial ini tetap relevan. Ketika perempuan memiliki hak yang sama untuk memimpin, mengapa mereka masih harus bekerja lebih keras agar dipercaya?
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
(sumber foto: HBO)





Comments are closed.