Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Cerita Bunda Hamil setelah 8 Tahun Menanti, Bayinya Ternyata Tumbuh di Luar Rahim

Cerita Bunda Hamil setelah 8 Tahun Menanti, Bayinya Ternyata Tumbuh di Luar Rahim

cerita-bunda-hamil-setelah-8-tahun-menanti,-bayinya-ternyata-tumbuh-di-luar-rahim
Cerita Bunda Hamil setelah 8 Tahun Menanti, Bayinya Ternyata Tumbuh di Luar Rahim
service

Jakarta

Kehamilan menjadi salah satu momen yang dinantikan banyak pasangan, terlebih bagi mereka yang telah lama menunggu hadirnya momongan. Namun, perjalanan menuju kelahiran seorang anak tidak selalu berjalan sesuai harapan, Bunda.

Ada kalanya, kabar bahagia tentang kehamilan justru diiringi dengan kondisi tak terduga. Hal itulah yang dialami seorang Bunda bernama Michelle Olarinde. Perempuan dari Nigeria ini menjalani kehamilan di luar rahim, namun bayinya tetap bisa diselamatkan oleh tim dokter.

Kisah Bunda hamil usai 8 tahun menanti

Bagi Olarinde, perjalanan menjadi seorang ibu sudah dimulai jauh sebelum ia hamil. Setelah bertahun-tahun berharap memiliki momongan, ia mendapatkan kehamilan dan mengharapkan semuanya berjalan normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, semua berubah total saat ia mendapati bayinya tumbuh di luar rahim. Kondisi tersebut mengharuskannya dirawat di rumah sakit selama tiga bulan dan membutuhkan tim spesialis multidisiplin untuk memantau kondisi hingga dokter menganggapnya aman untuk melahirkan.

Olarinde mengatakan bahwa ia mengetahui dirinya hamil melalui test pack, pada tanggal 8 November 2025. Ia lalu memberi tahu dokternya, Dr. Babatunde Bamidele, Bunda. Sang dokter lantas menyarankannya untuk menunggu dua minggu lagi sebelum melakukan USG.

Hasil USG pertama tidak sesuai harapan. USG tersebut menunjukkan tidak ada kehamilan di dalam rahimnya. Dokter menduga tes dilakukan terlalu dini sehingga kehamilan belum terdeteksi. Dokter lalu menyarankannya untuk kembali dua minggu kemudian.

Olarinde kembali, tetapi USG kedua menghasilkan hasil yang sama. Kemudian dilakukan tes darah dan hasilnya mengkonfirmasi bahwa ia hamil. Namun, USG selanjutnya tetap gagal menemukan kehamilan tersebut.

“Saya menunggu, mengulangi USG, dan hasilnya masih menunjukkan tidak ada apa pun. Saya memberi tahu dokter Bamidele lagi dan beliau meminta saya untuk melakukan tes darah. Tes darah menunjukkan saya hamil, tetapi USG berikutnya masih menunjukkan tidak ada apa pun,” katanya, dilansir The Guardian Nigeria.

“Saya khawatir karena tes darahnya positif dan saya sudah mengalami gejala kehamilan seperti muntah, sakit kepala, dan sebagainya, namun hasil USG terus menunjukkan tidak ada apa-apa. Saya tahu saya hamil karena saya bisa merasakan gejalanya.”

Olarinde mengatakan bahwa dia berdoa kepada Tuhan agar mengungkapkan apa yang tidak dapat dilihat oleh para dokter. Doanya pun terkabul pada pemeriksaan berikutnya, Bunda.

Pemeriksaan USG yang lebih detail mengungkapkan bahwa kehamilan tersebut tidak berada di dalam rahim, melainkan tumbuh di perutnya atau dikenal kehamilan abdominal. Saat itu, kehamilannya sudah mencapai usia 20 minggu.

Setelah mengetahui hasilnya, Olarinde dirujuk ke Lagos University Teaching Hospital (LUTH) untuk perawatan spesialis. Ketika dokter melakukan pemindaian menyeluruh lainnya, ia menemukan bahwa bayi Olarinde sebenarnya ada tetapi tidak di dalam rahim.

Olarinde lalu dirawat pada tanggal 8 April 2026. Dokter menjelaskan bahwa kehamilannya sangat langka, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan ketat. Pada setiap tahapan penting, tim medis mengevaluasi kembali situasinya, menyeimbangkan risiko bagi ibu dengan peluang bayi untuk bertahan hidup.

“Mereka bilang jika ada bahaya pada usia kehamilan 24 minggu, mereka akan menggugurkan kandungan untuk menyelamatkan nyawa saya. Ketika saya mencapai usia kehamilan 24 minggu, tidak ada bahaya, jadi mereka terus memantau,” ungkap Olarinde.

“Pada usia kehamilan 27 minggu, mereka bilang jika ada bahaya, mereka akan menggugurkan bayi dan menempatkannya di inkubator. Tidak terjadi apa-apa. Pada usia kehamilan 30 minggu, saya masih kuat. Pada usia kehamilan 32 minggu, sama saja. Kemudian, pada usia kehamilan 34 minggu, setiap kali bayi bergerak, saya mulai merasakan sakit yang hebat dan saya dilarikan ke ruang operasi,” sambungnya.

Meskipun diberitahu bahwa kehamilannya berisiko tinggi, Olarinde mengatakan rasa takut tidak pernah menguasainya karena dia percaya Tuhan memiliki tujuan di balik kehamilan tersebut. Saat dokter mengungkap kondisi janinnya, ia semakin yakin untuk melanjutkan kehamilan.

Sebelum operasi persalinan, konsultan, dokter, dan perawat berkumpul. Mereka berhasil menyelamatkan nyawa Olarinde dan bayi di dalam kandungannya.

“Saya ingat melihat banyak dokter, konsultan, dan perawat yang hadir sepenuhnya. Bahkan dokter yang tidak saya kenal pun datang sebelum operasi. Itu memberi saya kegembiraan dan kepercayaan diri,” kata Olarinde.

“Ketika saya mendengar bayi saya menangis setelah operasi, saya hanya berkata, ‘Terima kasih, Tuhan. Kita berhasil’,” lanjutnya.

Kehamilan di luar rahim

Kondisi yang dialami Olarinde disebut juga kehamilan di luar rahim atau kehamilan ektopik. Ini merupakan kondisi medis berbahaya di mana sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim, paling sering di tuba fallopi.

Kehamilan ektopik dapat menyebabkan pendarahan internal yang parah jika tuba falopi pecah. Selama periode ini, nyeri tajam atau kram terasa di perut bagian bawah atau panggul.

Meskipun jarang terjadi, kondisi ini tetap menjadi salah satu bentuk kehamilan yang paling berbahaya karena plasenta dapat menempel pada organ, ligamen, dan pembuluh darah yang tidak dirancang untuk mendukung kehamilan. Bahaya terbesar sering kali bukanlah proses melahirkan bayi, melainkan penanganan plasenta.

Angka kematian janin pada kehamilan abdominal dilaporkan berkisar antara 40 persen hingga 90 persen, sehingga keberhasilan persalinan yang melibatkan ibu dan anak sangat jarang terjadi.

Demikian cerita Bunda hamil setelah 8 tahun menanti dan mengetahui bahwa bayinya ternyata tumbuh di luar rahim. Semoga informasi ini bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.