Ditulis oleh Pramirvan Datu •
KABARBURSA.COM – Pelaku pasar aset kripto dalam negeri, Indodax, menekankan bahwa disiplin manajemen risiko menjadi kunci utama bagi investor di tengah dinamika geopolitik global yang terus bergolak.
Vice President Indodax, Antony Kusuma menyatakan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah—mulai dari ketegangan antara AS-Israel hingga Iran sejak Sabtu 28 Februari 2026—telah menimbulkan dampak signifikan pada pasar kripto dunia, khususnya gejolak harga Bitcoin.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat terkoreksi ke level 63.100 dolar AS pada akhir pekan, melonjak ke 70.000 dolar AS di awal pekan, dan kini bergerak di kisaran 68.000 dolar AS. Kapitalisasi pasar kripto global saat ini mencapai sekitar 2,33 triliun dolar AS.
Pasar kripto yang beroperasi 24 jam selama tujuh hari menjadi barometer paling responsif dalam merefleksikan perubahan sentimen investor. Dalam kondisi ini, disiplin manajemen risiko serta perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi fondasi untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global.
Menurut Antony, volatilitas tinggi pada aset kripto mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro. Lonjakan serta koreksi harga dalam hitungan hari menunjukkan bahwa pasar sangat headline-driven. Sentimen global dan dinamika kebijakan kini menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto.
Pada fase awal gejolak, investor cenderung bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian pelaku pasar beralih ke aset yang lebih defensif.
Antony menekankan bahwa investor sebaiknya menghindari keputusan berbasis fear of missing out (FOMO). Diversifikasi portofolio dan manajemen risiko secara disiplin menjadi langkah paling rasional. Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, strategi diversifikasi banyak diterapkan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), serta aset berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sambil tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama.
Sejalan dengan itu, Indodax berkomitmen menjaga likuiditas, keamanan sistem, serta transparansi, sekaligus memperkuat edukasi risiko bagi member. Antony menambahkan, perusahaan terus mendorong investor untuk tetap rasional di tengah volatilitas pasar, melakukan riset mandiri (Do Your Own Research), dan menerapkan manajemen risiko ketat.
Dalam situasi pasar yang penuh tekanan makro, strategi investasi bertahap, seperti Dollar Cost Averaging (DCA), tetap menjadi opsi paling bijak untuk meredam fluktuasi dan memitigasi risiko volatilitas, ujarnya.(*)





Comments are closed.