Wed,15 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Carlo Ginzburg dan Seni Mencurigai Masa Silam

Carlo Ginzburg dan Seni Mencurigai Masa Silam

carlo-ginzburg-dan-seni-mencurigai-masa-silam
Carlo Ginzburg dan Seni Mencurigai Masa Silam
service

Carlo Ginzburg wafat di Bologna pada 17 Juni 2026 dalam usia 87 tahun, tetapi perkara yang ia buka belum selesai. Sejarawan Italia itu berpulang tatkala dunia makin cepat menulis vonis, makin cepat melupakan korban, dan makin mudah percaya kepada dokumen resmi. Di tengah zaman seperti itu, warisan Ginzburg terasa seperti teguran pelan: sejarah yang terlalu rapi patut dicurigai.

Ginzburg lahir di Turin, 15 April 1939, yang tumbuh dalam lingkungan keluarga intelektual anti-fasis. Ayahnya, Leone Ginzburg, adalah aktivis anti-fasis yang meninggal akibat kekerasan rezim Nazi, sedangkan ibunya, Natalia Ginzburg, masyhur sebagai salah satu penulis penting Italia.

Nama Ginzburg menempati posisi penting dalam historiografi modern karena ia menjadi salah satu figur utama dalam perkembangan mikrohistori, yaitu pendekatan yang menelusuri peristiwa kecil, tokoh pinggiran, dan jejak arsip yang tampak semenjana untuk memahami struktur sosial, budaya, dan kekuasaan yang lebih luas. 

Ginzburg menempuh pendidikan di Pisa dan kemudian mengajar di sejumlah lembaga akademik terkemuka, antara lain Universitas Bologna, University of California, Los Angeles, serta Scuola Normale Superiore. Karya terkenalnya, The Cheese and the Worms, mengkaji dunia pemikiran Domenico Scandella atau Menocchio, seorang penggiling gandum dari Friuli pada abad ke-16 yang berhadapan dengan pengadilan Inkuisisi. Melalui karya itu, juga lewat The Night Battles, Clues, Myths, Emblems, Signs, Ecstasies, serta History, Rhetoric, and Proof, Ginzburg menunjukkan bahwa sejarah tidak semata-mata dibentuk oleh raja, negara, perang, dan tokoh besar. Sejarah juga hidup dalam suara orang biasa, terutama mereka yang kerap tersisih oleh arsip dan bahasa kekuasaan.

Kita sering menerima sejarah sebagai senarai nama besar. Presiden. Raja. Menteri. Jenderal. Paus. Partai. Negara. Perang. Revolusi. Angka pertumbuhan. Program pembangunan. Dari sekolah sampai media, kita terbiasa melihat masa lalu dari ruang depan kekuasaan. Di sana bahasa tampak bersih. Keputusan tampak masuk akal. Korban tampak sebagai akibat samping yang tidak perlu terlalu lama dibicarakan.

Ginzburg memilih jalan liyan. Ia tidak memulai sejarah dari podium. Ia masuk ke ruang yang lebih gelap: arsip pengadilan, catatan interogasi, suara terdakwa, kesaksian yang retak, dan kalimat orang biasa yang nyaris hilang. Ia tahu dokumen tidak turun dari langit. Dokumen punya pemilik, tujuan, bahasa, dan kepentingan. Tetapi ia juga tahu, justru di dalam dokumen yang mencurigakan itu, suara manusia yang kalah kadang masih bisa terdengar.

Dalam pengantar The Cheese and the Worms, Ginzburg mengingat masa awalnya sebagai sejarawan. Ia belajar dari berkas Inkuisisi untuk menyelamatkan serpihan budaya petani yang dianiaya, dilupakan, dan hampir terhapus (Ginzburg, 2013, hlm. 12-13). Kalimat itu menjelaskan seluruh hidup intelektualnya. Ia tidak hanya mencari fakta. Ia mencari manusia yang disingkirkan oleh cara sejarah bekerja.

Menocchio dan Bahaya Orang yang Berpikir

Tokoh paling terkenal dalam warisan Ginzburg bukan raja. Bukan filsuf besar. Bukan pemimpin gereja. Namanya Domenico Scandella. Orang memanggilnya Menocchio. Ia hidup di Friuli pada abad ke-16. Ia bekerja sebagai penggiling gandum. Ia membaca beberapa buku. Ia bercakap dengan tetangga. Ia menafsirkan Tuhan, dunia, gereja, dan hidup dengan caranya sendiri. Ia bukan orang besar menurut ukuran sejarah resmi. Justru karena itu ia penting.

Melalui Menocchio, Ginzburg menunjukkan bahwa orang biasa tidak hanya mengalami sejarah. Mereka juga menafsirkan sejarah. Mereka membaca dunia. Mereka menyusun makna. Mereka menyerap gagasan dari buku, khotbah, percakapan, cerita rakyat, pengalaman kerja, dan ingatan kampung. Mereka mungkin salah. Mereka mungkin ragu. Mereka mungkin silang selimpat. Tetapi mereka berpikir.

Inkuisisi tidak menghukum Menocchio karena ia punya tentara. Ia tidak memimpin pemberontakan. Ia tidak menguasai kantor, mimbar, atau istana. Ia berbahaya karena ia berani menafsirkan. Ia mengambil hak yang biasanya dimonopoli orang berwenang: hak menjelaskan dunia.

Di sinilah The Cheese and the Worms menjadi buku yang mengganggu. Ginzburg tidak memperlakukan Menocchio sebagai bahan belas kasihan. Ia tidak menjadikannya patung orang kecil yang suci. Ia membacanya sebagai manusia yang utuh. Ia punya keberanian, tetapi juga ketakutan. Ia punya gagasan, tetapi juga kebingungan. Ia bisa tajam, bisa ceroboh, bisa keras kepala. Di tangannya, Menocchio tidak menjadi simbol kosong. Ia tetap manusia.

Catatan dua persidangan Menocchio membuka sebagian isi pikirannya, dari bacaan, perasaan, imajinasi, sampai kemarahannya kepada otoritas agama (Ginzburg, 2013, hlm. 24-25). Sumber itu lahir dari lembaga yang hendak menghukumnya. Namun Ginzburg membacanya dengan cara berbeda. Ia tidak ikut menjadi hakim. Ia menjadi pendengar yang sabar.

Arsip yang Menyimpan Luka

Arsip sering membuat kita merasa aman. Ada nomor perkara. Ada tanggal. Ada nama pejabat. Ada tanda tangan. Ada cap lembaga. Semua tampak sah. Tetapi sejarah tidak boleh berhenti pada rasa aman itu.

Ginzburg tahu bahwa suara orang teraniaya jarang datang kepada kita dalam keadaan murni. Suara itu melewati pertanyaan penyidik, catatan notaris, tekanan batin, ancaman hukuman, dan bahasa lembaga yang lebih kuat. Dalam kasus Menocchio, suara terdakwa bahkan hampir selalu hadir melalui saringan orang yang mengadilinya (Ginzburg, 2013, hlm. 13-15). Maka, membaca arsip berarti membaca hubungan kuasa.

Itu pelajaran penting bagi Indonesia. Kita punya banyak dokumen yang terlihat antun, tetapi menyimpan luka. Laporan penertiban sering tidak menceritakan malam ketika keluarga kehilangan rumah. Data pembangunan sering tidak menunjukkan siapa yang kehilangan tanah. Catatan keamanan sering tidak memberi ruang kepada rasa takut warga. Buku pelajaran sering menyebut stabilitas, tetapi tidak menjelaskan harga yang dibayar orang yang dibungkam.

Bahasa resmi punya cara sendiri untuk membuat penderitaan terdengar wajar. Orang digusur disebut direlokasi. Warga dipaksa patuh disebut ditertibkan. Kelompok yang dicurigai disebut dibina. Hutan yang hilang disebut alih fungsi. Tanah yang dirampas disebut pengadaan lahan. Kata-kata ini tidak selalu bohong. Tetapi kata-kata ini sering terlalu bersih untuk menampung pengalaman manusia.

Ginzburg mengajari kita membaca kata-kata seperti itu dengan menaruh syak. Bukan untuk menolak semua dokumen. Bukan untuk memuja cerita lisan tanpa bukti. Walakin untuk bertanya: siapa yang berbicara di sini? Siapa yang dipaksa diam? Siapa yang hanya muncul sebagai kategori? Siapa yang berubah dari manusia menjadi berkas.

Mikrohistori Bukan Urusan Kecil

Banyak orang menyebut Ginzburg sebagai pelopor mikrohistori. Sebutan itu tepat, tetapi mudah disalahpahami. Mikrohistori bukan kesenangan akademik terhadap hal kecil. Mikrohistori adalah cara masuk ke persoalan besar melalui celah yang tampak sempit.

Menocchio hanya satu orang. Namun dari hidup satu orang itu, Ginzburg membuka dunia abad ke-16: menyebarnya buku cetak, benturan Reformasi dan Kontra-Reformasi, budaya lisan petani, monopoli gereja atas pengetahuan, dan kekerasan lembaga keagamaan. Satu penggiling gandum memperlihatkan cara struktur besar bekerja dalam tubuh dan pikiran seseorang.

Carneiro dan Dias dalam buku Deciphering Carlo Ginzburg menempatkan karya Ginzburg dalam konteks mikrohistori Italia, perdebatan tentang objektivitas pengetahuan sejarah, dan percakapan dengan sejarah global (Carneiro & Dias, 2025, hlm. 2). Artinya, Ginzburg tidak mengecilkan sejarah. Ia mengecilkan pintu masuknya. Dari pintu kecil itu, ia melihat ruangan yang luas.

Cara ini berguna bagi kita. Indonesia sering berbicara dalam ukuran besar: pertumbuhan ekonomi, proyek strategis nasional, investasi, hilirisasi, swasembada, transformasi digital, pembangunan ibu kota, indeks demokrasi, angka kemiskinan. Semua angka itu penting. Akan tetapi angka tidak pernah cukup.
Satu keluarga yang kehilangan tanah dapat menjelaskan kelemahan bahasa pembangunan. Satu guru honorer yang bertahan dengan gaji kecil dapat memperlihatkan wajah sistem pendidikan. Satu warga pesisir yang kehilangan musim ikan dapat menerangkan perubahan iklim lebih dekat daripada grafik. Satu penyintas kekerasan politik dapat membongkar kegagalan rekonsiliasi yang hanya hidup di pidato.

Yang kecil tidak selalu benar. Tetapi yang kecil sering menunjukkan bagian kenyataan yang gagal ditangkap oleh kamera besar.

Membaca Lambat di Tengah Kebisingan

Ginzburg juga meninggalkan cara membaca. Ia membaca lambat. Ia tidak tergesa-gesa memutuskan. Ia mengikuti jejak kecil, perbedaan kata, celah ingatan, salah baca, metafora, dan detail yang tampak tidak penting. Dalam Deciphering Carlo Ginzburg, Carneiro dan Dias menyebut pembacaan seperti ini sebagai pembacaan melawan arah, against the grain, yakni membaca sumber tidak hanya menurut maksud pembuatnya, tetapi juga menurut kemungkinan yang disembunyikannya (Carneiro & Dias, 2025, hlm. 12).

Kita membutuhkan kebajikan itu sekarang. Ruang publik kita bergerak terlalu kunjung. Orang membaca judul berita, lalu marah. Orang menonton potongan video, lalu menghukum. Orang menemukan satu kalimat lama, lalu menghapus seluruh riwayat seseorang. Media sosial membuat setiap orang merasa seperti hakim. Algoritma memberi panggung kepada kemarahan yang singkat.

Ginzburg menawarkan latihan yang lebih musykil: menunda simpulan. Lihat sumbernya. Periksa bahasanya. Cari siapa yang tidak terdengar. Bedakan bukti dari rumor. Bedakan tafsir dari fitnah. Jangan memuja dokumen resmi, tetapi jangan juga membuang bukti hanya karena tidak sesuai dengan kemarahan kita.

Di sinilah Ginzburg tetap relevan bagi jurnalis, guru, dosen, aktivis, pejabat, dan pembaca biasa. Membaca lambat bukan gaya akademik. Membaca lambat adalah etika publik. Ia mencegah kita ikut menganiaya orang melalui kesimpulan yang malas.

Kebenaran Tanpa Kesombongan

Ginzburg tidak mengubah sejarah menjadi fiksi. Ia sadar bahwa masa lampau selalu datang melalui perantara. Namun ia tidak menyerahkan sejarah kepada relativisme. Ia tetap meminta bukti, ketelitian, dan pertanggungjawaban. Bagi Ginzburg, sejarah memang ditulis dengan bahasa, tetapi sejarah tidak boleh menjadi karangan bebas.

Sikap ini penting di tengah masa ketika banyak orang berkata semua hal hanya soal sudut pandang. Pernyataan itu terdengar terbuka, tetapi bisa berbahaya. Jika semua hanya sudut pandang, kebohongan dapat menyamar sebagai tafsir. Propaganda dapat mengaku sebagai versi lain. Kekerasan dapat menulis ulang dirinya sebagai ketertiban.

Ginzburg memberi jalan yang lebih jujur. Curigai arsip, tetapi jangan tinggalkan bukti. Dengarkan korban, tetapi jangan menghapus kerumitan manusia. Kritik narasi besar, tetapi jangan kehilangan struktur. Tulis dengan empati, tetapi jangan mengorbankan ketepatan.

Itulah alasan Ginzburg tidak nyaman bagi penguasa dan juga tidak nyaman bagi romantisisme. Ia tidak membiarkan negara berbicara sendirian. Ia juga tidak membiarkan suara pinggiran berubah menjadi mitos baru yang kebal kritik. Ia meminta setiap suara diperiksa dengan serius.

Mencari Menocchio di Sekitar Kita

Setelah Ginzburg wafat, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya apa warisannya. Pertanyaan yang lebih dekat: siapa Menocchio kita?

Ia mungkin petani yang menolak kehilangan tanah, tetapi dituduh menghambat pembangunan. Ia mungkin perempuan adat yang mempertahankan hutan, tetapi dianggap menolak investasi. Ia mungkin guru honorer yang hidup dari gaji kecil, tetapi tetap mengajar anak-anak yang tidak pernah masuk berita. Ia mungkin warga bantaran sungai yang disebut penghuni liar, padahal kota tidak pernah memberi pilihan hidup yang layak. Ia mungkin keluarga korban kekerasan politik yang masih diminta diam demi nama baik bangsa.

Mereka tidak selalu menulis buku. Mereka mungkin hanya meninggalkan cerita keluarga, surat pendek, unggahan media sosial, kesaksian di forum kecil, atau ingatan yang makin rapuh. Tetapi dari sana sejarah dapat belajar. Syaratnya satu: kita mau mendengar dengan serius.

Mendengar dengan serius tidak sama dengan menyetujui semua hal. Orang biasa bisa galat. Korban bisa salah mengingat. Rakyat bisa membawa prasangka. Tetapi menganggap suara mereka tidak penting sejak awal adalah kesalahan yang lebih besar. Di situlah dosa sejarah besar bekerja: ia tidak selalu membunuh manusia. Kadang ia cukup mengecilkan manusia sampai suaranya tidak lagi dianggap pengetahuan.

Warisan yang Tidak Menenangkan

Arkian, Carlo Ginzburg tidak meninggalkan warisan yang menenangkan. Ia meninggalkan rasa curiga yang sehat. Setiap kali sejarah terdengar terlalu bersih, tanyakan siapa yang membersihkannya. Setiap kali negara berbicara atas nama rakyat, tanyakan rakyat yang mana. Setiap kali arsip terdengar terlalu lancar, tanyakan siapa yang gagap di dalamnya. Setiap kali angka terlihat meyakinkan, tanyakan pengalaman siapa yang hilang di baliknya.

Warisan itu bisa dipakai di ruang kelas, redaksi, kampus, museum, pengadilan, kantor desa, dan ruang rapat pemerintah. Sebelum menulis, tanyakan siapa yang belum terdengar. Sebelum mengutip dokumen, tanyakan siapa yang membuatnya. Sebelum menyebut warga terdampak, tanyakan nama mereka. Sebelum memuji pembangunan, tanyakan siapa yang kehilangan sesuatu.

Ginzburg telah pergi. Menocchio juga sudah lama mati. Walakin perkara yang mempertemukan keduanya masih hidup. Kekuasaan masih mencatat manusia dengan bahasanya sendiri. Sejarah besar masih sering memuja pemenang. Arsip masih sering meminta kita percaya tanpa bertanya. Ruang publik masih sering menghukum sebelum membaca.

Setiap zaman punya Inkuisisinya sendiri. Bentuknya tidak selalu ruang sidang agama. Ia bisa hadir sebagai birokrasi, algoritma, laporan keamanan, statistik pembangunan, buku pelajaran, dan bahasa media yang malas. Karena itu setiap zaman juga membutuhkan pembaca seperti Ginzburg: sabar, curiga, setia pada bukti, dan tidak rela membiarkan manusia berubah menjadi catatan kaki.

Sejarah yang baik tidak selalu datang dari suara paling keras. Kadang ia datang dari kalimat patah seorang tukang giling nan kalah. Ginzburg mendengarnya. Dosa kita dimulai ketika kita memilih tidak mendengar.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.