Thu,16 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Cendrawasih Papua di Balik Lahirnya Organisasi Konservasi Terbesar di Dunia

Cendrawasih Papua di Balik Lahirnya Organisasi Konservasi Terbesar di Dunia

cendrawasih-papua-di-balik-lahirnya-organisasi-konservasi-terbesar-di-dunia
Cendrawasih Papua di Balik Lahirnya Organisasi Konservasi Terbesar di Dunia
service

Burung Cendrawasih | Foto: Tim Laman


Tidak ada yang menduga bahwa obsesi kaum aristokrat Eropa terhadap burung dari hutan-hutan di Papua akan berbalik menjadi kekuatan yang mengubah sejarah konservasi dunia. Namun itulah yang terjadi, ketika kegilaan tren mode terhadap bulu cendrawasih justru melahirkan gerakan perlindungan satwa yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Pada paruh kedua abad ke-19, topi berbulu adalah simbol status tertinggi di kalangan perempuan kelas atas London, Paris, dan Amsterdam. Semakin rumit hiasannya, semakin tinggi prestise pemakainya. Dan tidak ada bulu yang lebih bergengsi dari bulu cendrawasih Papua, dengan gradasi warna keemasan dan lekukan plum yang tidak tertandingi oleh satwa manapun di bumi.

Permintaan yang terus membesar mendorong perdagangan lintas benua yang masif. Antara tahun 1905 hingga 1920, diperkirakan 30.000 hingga 80.000 kulit burung cendrawasih diekspor setiap tahun dari New Guinea menuju lelang bulu di London, Paris, dan Amsterdam. Satu dealer bulu di London pernah memasukkan pesanan tunggal sebanyak 6.000 kulit cendrawasih dalam sekali transaksi. Burung-burung itu diburu terutama saat musim kawin, ketika bulu jantan berada di puncak keindahannya.

Topi yang menggunakan burung sebagai aksesorisnya | Gambar Museum Victoria

info gambar

Topi yang menggunakan burung sebagai aksesorisnya | Gambar Museum Victoria

Papua, dengan hutan hujannya yang luas dan keanekaragaman hayati yang tidak tertandingi, menjadi sasaran utama perburuan. Dari pulau inilah, keindahan alam yang selama jutaan tahun berkembang dalam isolasi tiba-tiba harus berhadapan dengan hasrat konsumsi dunia modern.

Kemarahan yang Melahirkan Gerakan

Di Manchester, Inggris, seorang perempuan bernama Emily Williamson tidak bisa lagi diam menyaksikan apa yang terjadi. Pada tahun 1889, ia mengundang sekelompok perempuan ke rumahnya di Didsbury untuk menandatangani satu janji sederhana: “Wear No Feathers.” Dari pertemuan itu lahirlah Society for the Protection of Birds, sebuah organisasi yang kelak mendapat gelar Royal dari mahkota Inggris dan menjadi RSPB, atau Royal Society for the Protection of Birds.

GambarL Museum Victoria

info gambar

GambarL Museum Victoria

Williamson marah bukan hanya karena burung-burung itu mati. Ia marah karena tidak ada satu pun lembaga ilmiah yang bergerak. British Ornithologists Union, organisasi ornitologi terkemuka saat itu, hanya menerima anggota laki-laki dan memilih bungkam. Maka para perempuan itu bertindak sendiri.

Kelompok Williamson kemudian bergabung dengan gerakan serupa yang diinisiasi Eliza Phillips dari Croydon. Bersama Etta Lemon, yang dikenal sebagai “The Dragon” karena kegigihan kampanyenya, mereka membangun gerakan yang terus membesar. Pada 1904 organisasi ini mendapat Royal Charter. Pada 1921, perjuangan mereka membuahkan hasil pertama yang nyata: Importation of Plumage (Prohibition) Act disahkan, melarang impor bulu burung ke Inggris untuk keperluan fashion.

Warisan yang Melampaui Zaman

Yang membuat kisah ini luar biasa bukan hanya keberhasilannya, melainkan asal-usulnya. RSPB kini adalah organisasi konservasi alam terbesar di Eropa, dengan lebih dari satu juta anggota. Organisasi ini lahir bukan dari kepentingan ilmiah, bukan dari kebijakan pemerintah, melainkan dari kemarahan sekelompok perempuan Victorian terhadap industri mode yang memangsa keindahan alam Papua.

RSPB

info gambar

Burung cendrawasih sendiri, yang hampir punah akibat perburuan massal itu, kini menjadi simbol nasional Papua Nugini. Spesies Raggiana bird of paradise menghiasi bendera negara tersebut, sebuah pembalikan nasib yang dramatis dari komoditas fashion menjadi lambang identitas bangsa.

Di sisi Indonesia, burung cendrawasih dilindungi penuh sejak 1990. Namun tekanan terhadap habitatnya terus berlanjut, kali ini bukan dari perburuan bulu, melainkan dari deforestasi dan alih fungsi lahan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.