Shoujo manga adalah komik Jepang yang ditujukan untuk pembaca perempuan berumur 10- 18 tahunan.
Fokus utamanya adalah hubungan sehari-hari, relasi personal, juga kisah cinta remaja.
Dalam bahasa Jepang, shoujo berarti “anak perempuan”. Genre ini umumnya memang ditujukan untuk remaja perempuan.
Dari perspektif perempuan, shoujo memberikan perspektif yang memberikan narasi perempuan yang menantang standar tradisional yang melemahkan mereka.
Ceritanya hampir selalu berkisar pada relasi cinta remaja, dituturkan dari sudut pandang tokoh perempuan, seperti degup jantung cinta pertama, kebingungan menghadapi teman sekolah yang disukai, atau cara agar orang yang disukai menyadari perasaan cinta si tokoh perempuan.
Bahkan dalam Sailor Moon yang terkenal karena menampilkan pahlawan perempuan yang menyelamatkan dunia, kisah cinta Usagi dengan Tuxedo Mask tetap menjadi pusat cerita.
Dalam industri manga Jepang, terdapat beberapa klasifikasi genre berdasarkan target demografis. Kodomomuke ditujukan untuk anak-anak. Shounen untuk remaja laki-laki, biasanya berfokus pada action, petualangan, dan persahabatan. Shoujo untuk remaja perempuan, menekankan percintaan, drama emosional, dan perkembangan karakter.Seinen untuk laki-laki dewasa, dengan tema dunia pekerjaan dan kehidupan yang kompleks. Josei untuk perempuan dewasa, mengeksplorasi romansa dan kehidupan kerja dengan pendekatan yang lebih realistis.
Baca Juga: Kritik Dimulai dari Komik, Budaya Populer Memantik Perlawanan Terhadap Rezim
Berbeda dengan manga lainnya, shoujo memiliki ciri khas visual yang mudah dikenali: karakter dengan mata besar dan ekspresif, banyak gambar bunga, visual yang lembut dan menggugah perasaan, serta fokus pada perkembangan emosi dan hubungan antar karakter. Di sana hampir selalu, tokoh perempuan jatuh cinta pada laki-laki yang dingin, tenang, atau tampak tak peduli. Istilah sekarang dikenal dengan nonchalant.
Seperti Honey Lemon Soda, manga populer karya Mayu Murata, yang merepresentasikan elemen-elemen khas shoujo ini.
Kisahnya tentang Uka Ishimori, seorang remaja perempuan yang baru pindah sekolah. Dia pemalu dan tertutup karena orang tuanya sangat protektif, ditambah traumanya menjadi korban perundungan. Dan Kai Miura, seorang pemuda populer dan riang yang digambarkan seperti soda yang segar. Uka, yang terisolasi dan tidak bahagia, perlahan-lahan diselamatkan oleh kehadiran dan kebaikan Kai, yang dengan sabar membantunya membuka diri, mengajari Uka melawan pembully, dan akhirnya mencicipi rasa manis dari cinta pertama yang layaknya lemon madu, manis, segar, dan menggugah semangat.
Penulis sangat pintar menggambarkan karakter Uka yang pemalu, seperti mudah salting, suka ngefreeze kayak batu, dan wajah yang selalu merah dengan mata berkaca-kaca setiap berinteraksi dengan Kai. Karakter seperti ini mungkin relate dengan remaja perempuan yang mengalami masalah dengan hubungan sosial, apalagi dengan pola asuh dari orangtua yang protektif.
Baca Juga: Film ‘Para Perasuk’: Dari Agensi Guru Asri Kita Membaca Kisah Perempuan, Tanah, dan Spiritualitas
Latar belakang Uka sebagai korban perundungan, yang menyebabkan karakternya menjadi pemalu dan menarik diri juga bisa menjadi perwakilan bagi korban perundungan lainnya. Karakter Uka yang gugup dan pemalu serta Kai yang populer dan bijaksana ternyata sangat disukai pembaca. Per Juli 2024, manga ini telah terjual lebih dari 13 juta eksemplar. Kesuksesannya melahirkan adaptasi film live-action (2021) dan anime (2025).
Manga Jepang mengalami ledakan popularitas dan penyebaran yang sangat masif di Indonesia pada dekade 1990-an. Jauh sebelum serial anime seperti Dragon Ball atau Sailor Moon menghiasi layar kaca, komik-komik (dulu belum mengenal istilah manga) cetaknya telah lebih dulu beredar dan membangun basis penggemar yang setia. Komik-komik Jepang ini dalam sekejap memenuhi rak-rak toko buku sampai kios-kios majalah kala itu.
Sebagai pembaca manga di era 90-an, saya tumbuh bersama tokoh-tokoh perempuan dengan beragam profesi dan karakter, serta cara mereka menghadapi hidup. Manga pertama saya berjudul Miss Modern dibuat oleh Waki Yamato. Tokoh utamanya adalah Benio, seorang gadis yang urakan, tidak suka diatur, dan menolak dijodohkan. Namun pada akhirnya, ia jatuh hati pada Shinobu, seorang tentara tampan yang pendiam.
Baca Juga: Jleb! Wuss! Dhuaar! Mengapa Komik Menciptakan Suara Dalam Bentuk Tulisan?
Kehidupan mereka berubah ketika Shinobu terluka dalam perang dan kehilangan ingatan. Ia kemudian dirawat oleh Larissa, seorang perempuan rapuh yang sakit-sakitan, dan dari situ kisah cinta segitiga yang rumit pun bermula.
Saya juga membaca Swan dibuat oleh Kyoko Ariyoshi, manga tentang Mary, penari balet berbakat yang harus menghadapi kenyataan pahit karena saudara kembarnya, Marie, yang lemah karena sakit, ternyata juga mencintai laki-laki yang sama dengannya.
Dari dua kisah itu, yang saya baca ketika masih duduk di sekolah dasar, saya sebagai remaja kala itu menarik kesimpulan bahwa laki-laki bisa begitu mudah kehilangan pendirian. Mereka bisa mengorbankan perempuan yang mereka cintai hanya karena merasa kasihan pada perempuan lain. Dan juga pelajaran-pelajaran lain, bahwa perempuan harus menunggu pasif untuk dicintai. Hal maksimal yang boleh dilakukan adalah berusaha dekat dengan laki-laki yang disukai seperti satu ekstrakurikuler bareng, atau memberi sinyal halus yang rentan disalahartikan bahkan diabaikan.
Dalam narasi shoujo, hanya laki-laki yang memiliki hak untuk memilih, mendekati, dan menyatakan cinta. Perempuan, meski digambarkan sebagai karakter yang kuat dalam aspek lain (seperti Benio yang urakan dan independen, atau Mary yang berbakat dalam balet), pada akhirnya harus menunggu untuk “dipilih” oleh laki-laki.
Padahal, Benio dalam Miss Modern bukanlah tokoh perempuan yang lemah. Dia berprofesi sebagai wartawan dan bisa menyelesaikan berbagai masalah. Salah satu bagian yang paling saya ingat adalah ketika Benio berusaha mendekati seorang penulis terkenal agar bisa mewawancarainya.
Awalnya ia mengira sang penulis itu angkuh, tetapi ketika akhirnya datang ke rumahnya, Benio justru kaget karena hidup si penulis itu sangat berantakan, kamarnya dipenuhi sampah, kecoa, dan lipas.
Baca Juga: Komik Digital Kartini, Masih Minimnya Tulisan tentang Kekritisan Kartini
Adegan ini bukan hanya membuat saya terbahak-bahak, tetapi juga menempel kuat di ingatan, bahwa beginilah mungkin kehidupan seorang penulis di balik reputasinya. Namun yang menjadi inti cerita malah kisah percintaan Benio, bukan petualangannya menjadi wartawan.
Manga pada masa itu benar-benar sedang hits. Saat jam istirahat di sekolah, kami sering berkumpul di kelas untuk membaca, lalu saling bertukar pinjam, dan membicarakan kisah-kisah yang baru saja kami baca. Rasanya seperti dunia kecil yang hanya dimiliki oleh kami, para remaja perempuan. Ketika Swan, bagian dari serial Mari Chan tengah populer, hampir semua teman saya mendadak bercita-cita menjadi penari balet. Kami menirukan gerakan, membayangkan diri di panggung, dan larut dalam impian yang dipicu oleh lembar-lembar manga itu.
Bagi banyak remaja perempuan tahun 1990-an, shoujo memberi pelajaran tentang cinta yang mungkin tidak didapat dari orangtua atau sekolah. Tetapi di sisi lain, shoujo juga menanamkan di benak remaja perempuan bahwa seakan-akan kebahagiaan hidup seorang perempuan hanya bisa dicapai lewat cinta romantis.
Dalam banyak shoujo manga, bahkan ketika tokoh perempuan digambarkan kuat, cerdas, dan mandiri seperti Benio di Miss Modern atau Usagi di Sailor Moon, cerita pada akhirnya hampir selalu diarahkan ke persoalan cinta romantis.
Baca Juga: Tren Komentar “Sepakat”, Bukti Laki-Laki Lebih Suka “Iyain Aja” Ketimbang Memahami Posisi Perempuan
Elizabeth Brake dalam bukunya Minimizing Marriage: Marriage, Morality, and the Law menyebut pola ini sebagai bagian dari amatonormativity, yaitu keyakinan bahwa hidup seseorang baru dianggap lengkap ketika ia memiliki hubungan romantis heteroseksual yang berujung pernikahan jangka panjang.
Pertanyaan penting yang muncul dari membaca shoujo manga adalah, apakah remaja perempuan memang secara alami lebih tertarik pada kisah cinta, atau mereka dibentuk untuk tertarik pada cinta?
Brake menjelaskan bahwa industri pernikahan seperti majalah, film, dan iklan secara aktif membentuk aspirasi perempuan, agar melihat pernikahan dan cinta romantis sebagai puncak kebahagiaan dan pencapaian dewasa. Sementara itu, bell hooks dalam Communion: The Female Search for Love menjelaskan bagaimana sejak kecil perempuan diajarkan untuk mendefinisikan dirinya melalui kemampuan dicintai oleh orang lain, khususnya laki-laki.
Baca Juga: Coffee Shop di Semarang Objektifikasi Perempuan: Pentingnya Promosi Gak Cuma Ngejar Sensasi
Proses sosialisasi ini dimulai sejak masa remaja, di mana remaja perempuan belajar bahwa identitas dan harga dirinya sangat terkait dengan status hubungan romantis mereka. Kedua pemikiran ini menunjukkan bahwa ketertarikan perempuan pada cinta bukanlah sekadar naluri alami saja, melainkan hasil sosialisasi dan tekanan kultural yang terus-menerus menempatkan cinta romantis sebagai pusat kehidupan perempuan.
Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hormonal selama pubertas secara alami meningkatkan minat terhadap hubungan romantis dan keintiman. Namun, bagaimana cinta itu diekspresikan, apakah berupa obsesi cerita romantis, fantasi tentang pacar cool, atau pesta pernikahan impian sangat ditentukan oleh budaya.
Yang paling relevan dengan analisis shoujo manga adalah konsep Brake tentang bagaimana amatonormativity menghasilkan pengorbanan hubungan lain seperti persahabatan demi cinta romantis. Bahkan ketika perempuan punya karier, bakat, atau mimpi besar, semuanya sering dikorbankan demi cinta sejati.
Konstruksi sosial yang kuat melalui media, keluarga, teman sebaya, menciptakan lingkungan di mana remaja perempuan merasa bahwa pencapaian akademik, pengembangan bakat, persahabatan, atau ambisi karir menjadi hal nomor sekian dibandingkan dengan mendapatkan perhatian romantis.
Shoujo bisa memperkuat dan menyebarkan nilai-nilai amatonormatif ini kepada generasi muda. Setiap kali seorang pembaca shoujo menyaksikan protagonis yang “berhasil” mendapatkan laki-laki impiannya setelah perjuangan panjang, mereka sedang dididik bahwa hidup yang bermakna harus berpuncak pada pencapaian romantis.
Seperti halnya ucapan Uka dalam hati: “Bagiku Kai Miura adalah segalanya, kutukanku sudah lepas berkat honey lemon soda” memperkuat pesan bahwa keberadaan perempuan hanya lengkap setelah diselamatkan laki-laki.
Baca Juga: Novel ‘Di Tanah Lada’: Saat Rumah Tak Jadi Ruang Aman Bagi Anak
Perbedaan yang mencolok terlihat ketika kita membandingkan media yang ditargetkan untuk remaja perempuan (shoujo) dengan yang ditargetkan untuk remaja laki-laki (shounen).
Shounen manga mengutamakan tema-tema seperti petualangan, heroisme, persahabatan, kompetisi olahraga, dan pengembangan kekuatan atau keterampilan. Contohnya Dragon Ball, salah satu shounen paling populer. Fokus cerita ada pada perjalanan Goku mencari bola naga, bertarung dengan musuh-musuh, dan menjalin ikatan persahabatan dengan para sahabatnya.
Kisah cintanya dengan Chi-Chi hanya muncul sekilas dan tidak pernah menjadi inti cerita. Goku berjanji akan menikahi Chi-Chi tanpa memahami arti kata tersebut, mengira itu adalah makanan. Bertahun-tahun kemudian, ketika Chi-Chi menagih janji ini di turnamen bela diri, Goku tetap bingung tetapi menepati janjinya. Setelah menikah dan memiliki anak, Goku tetap lebih tertarik pada latihan dan bertarung daripada menghabiskan waktu bersama keluarga.
Kontras ini menunjukkan bagaimana media membentuk ekspektasi gender yang berbeda. Remaja laki-laki melalui shounen manga diajarkan bahwa prioritas utama mereka seharusnya adalah pengembangan diri, pencapaian tujuan, persahabatan dengan sesama laki-laki, dan menghadapi tantangan.
Hubungan romantis, jika ada, digambarkan sebagai bonus atau konsekuensi alami dari menjadi karakter yang kuat dan sukses, bukan sebagai tujuan utama atau sumber identitas.
Shoujo Manga Sedikit Berevolusi, tapi Tetap dengan Elemen Lama
Sekarang shoujo manga mengalami perkembangan yang menarik namun masih mempertahankan elemen-elemen klasiknya.
Shoujo new age telah mengalami evolusi yang cukup nyata dalam cara merespons isu sosial, psikologis, sampai disabilitas. Meskipun tema dan representasi karakternya telah berkembang untuk mencerminkan audiens modern, pola dasar shoujo tetap bertahan. Ambil contoh A Sign of Affection yang dibuat oleh Suu Morishita. Tokoh utama Yuki Itose adalah disabilitas tuli.
Cerita tetap saja membangun narasi romantis dari sudut pandang Yuki, ketika ia perlahan mengenal Itsuomi yang menghargainya sebagai orang pada umumnya, bukan dikasihani karena disabilitas. Contoh lain A Condition Called Love yang dibuat Megumi Morino. Protagonisnya, Hotaru Hinase, awalnya bersikap apatis terhadap cinta. Ia tidak peduli pada romansa, fokus pada dirinya sendiri, dan merasa hubungan adalah beban.
Namun, seperti banyak shoujo klasik, tembok es nya perlahan luluh oleh rasa kasihan terhadap Hananoi yang baru diputuskan pacarnya. Hananoi yang perhatian pun mengajak Hotaru pacaran, lalu Hotaru memberinya kesempatan. Mungkin perbedaannya dengan shoujo klasik, cinta itu kini tidak lagi hadir sebagai takdir atau fantasi, melainkan sebagai pilihan sadar yang dibangun melalui komunikasi, saling pengertian, dan penghormatan terhadap identitas masing-masing seperti yang ditunjukkan Yuki dan Itsuomi.
Generasi yang tumbuh dengan akses unlimited terhadap manga digital menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Berbeda dengan era 90-an ketika akses manga masih terbatas manga fisik, kini remaja dapat mengonsumsi ratusan judul shoujo dalam seminggu melalui platform digital.
Baca Juga: ‘Yohanna’: Pergulatan Iman dan Perjalanan Kemanusiaan Seorang Suster yang Hambar
Pola-pola bermasalah dalam shoujo seperti idealisasi laki-laki yang dingin, toxic masculinity yang diromantisasi, dan menempatkan cinta sebagai validasi utama kini terinternalisasi dengan kecepatan yang lebih tinggi. Ketika seorang remaja membaca tentang protagonis shoujo yang “berhasil” menaklukkan hati laki-laki nonchalant setelah puluhan episode penderitaan, pesan yang tertanam adalah cinta sejati membutuhkan pengorbanan tanpa batas, dan laki-laki yang baik adalah yang sulit didapat. Protagonis perempuan memang kini lebih kuat dan memiliki ambisi, namun pada akhirnya tetap tidak lengkap tanpa validasi romantis dari laki-laki.
Kecepatan konsumsi ini membuat pesan-pesan amatonormatif tertanam lebih dalam, menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang hubungan romantis dan menempatkan pencarian cinta sebagai prioritas utama di atas pengembangan diri. Kontras dengan media yang ditargetkan untuk remaja laki-laki menunjukkan bahwa konstruksi gender dalam media sangatlah spesifik dan sengaja.
Pada akhirnya, tujuan kritik ini bukanlah untuk melarang remaja perempuan menikmati cerita cinta, tetapi untuk memastikan bahwa mereka memiliki akses pada berbagai macam narasi tentang apa artinya menjadi perempuan yang utuh dan bahagia.
Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah pengembangan literasi media yang kritis, terutama bagi remaja perempuan sebagai konsumen utama. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi dan mempertanyakan pesan-pesan yang tersembunyi dalam narasi romantis yang mereka konsumsi. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu menciptakan ruang diskusi yang aman untuk membahas dampak media terhadap pembentukan identitas dan ekspektasi hidup.
Selain itu, industri manga dan media perlu didorong untuk menciptakan narasi alternatif yang tidak semata-mata berpusat pada cinta romantis. Cerita tentang perempuan yang menemukan kebahagiaan melalui persahabatan, pencapaian akademik, kreativitas, atau kontribusi sosial sama validnya dengan cerita cinta. Representasi yang lebih beragam tentang cara hidup yang memuaskan akan memberikan pilihan yang lebih luas bagi remaja perempuan dalam membayangkan masa depan.
Baca Juga: Lika-Liku Pelajar SMA Mencapai Perguruan Tinggi Negeri: Burn Out, Diremehkan, Gak Mau Merepotkan Orang Tua
Cinta romantis dapat menjadi bagian dari kehidupan yang indah, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya jalan menuju kepenuhan hidup.
Shoujo manga akan terus berkembang, dan kita berharap evolusi tersebut tidak hanya terbatas pada representasi yang lebih beragam, tetapi juga pada narasi yang benar-benar membebaskan perempuan muda dari belenggu amatonormativity.




Comments are closed.