Sudah lihat tren komentar “sepakat” yang lagi menjamur? Bayangkan, kamu sebagai perempuan sedang serius menjelaskan tentang suatu hal, lalu seorang laki-laki memotongmu dengan kata, “Sepakat.” Tapi dia nggak betul-betul sepakat; kata itu digunakannya untuk bikin kita berhenti bicara.
Fenomena ini lahir dari potongan video YouTube Najwa Shihab berjudul ‘Enaknya Jadi Laki-Laki’. Najwa bilang laki-laki nggak akan sanggup jadi perempuan karena dunia ini berat, dan Ge Pamungkas langsung jawab ‘Sepakat’ dengan cepat. Nah, momen inilah yang dipotong warganet dan diartikan kalau laki-laki mending “iya-iya” saja daripada debat panjang sama perempuan.
Kemudian banyak laki-laki membalas pakai kata “sepakat” di video perempuan yang lagi mengeluh. Bahkan sengaja bikin video memotong pembicaraan pacar mereka cuma buat bahan lucu-lucuan. Video ini sudah diunggah cukup lama, tepatnya pada 28 Desember 2023. Namun entah mengapa baru sekarang momentumnya meledak dan menjadi viral di media sosial.
Padahal kalau ditonton utuh, Ge Pamungkas dan David Nurbianto selama diskusi mendengarkan para perempuan dengan empati. Mereka tidak defensif berlebihan. Bahkan ada kesepakatan (yang beneran sepakat) pada beberapa poin soal stigma yang memberatkan perempuan. Tapi warganet laki-laki malah ramai-ramai bilang “terima kasih” ke Ge, seolah dia baru saja membagikan life hack kalau capek debat sama perempuan cukup bilang “sepakat” biar masalah cepat selesai.
Baca Juga: Benarkah Laki-laki Kurang Ekspresif Dalam Relasi Pertemanan? Membaca Stigma Maskulin Lewat Tren TikTok
Banyak laki-laki menertawakan momen ketika Najwa tetap bicara meski Ge sudah bilang sepakat. Kata mereka, “Dikasih kata sepakat aja masih panjang, apalagi kalau kita jawab nggak?” Ini menunjukkan bahwa dalam pikiran banyak laki-laki, satu kata ‘sepakat’ seharusnya sudah cukup menjadi tombol stop untuk semua penjelasan perempuan.
Dalam episode itu, Najwa Shihab, Alissa Wahid, Ira Noviarti, Tasya Farasya, Rina Nose, David Nurbianto dan Ge Pamungkas membahas realitas yang dirasakan perempuan di dunia yang masih sangat maskulin. Mereka ngobrol selama lebih dari satu jam tentang berbagai hal yang dirasakan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya: istri yang dilarang menyetir karena pernah sekali menabrak. Sementara suami kalau pernah menabrak, apakah bisa dilarang menyetir lagi? Atau soal stigma-stigma dan ketakutan-ketakutan yang tidak pernah dirasakan laki-laki, sehingga membuat hidup laki-laki lebih mudah.
Label “cerewet” adalah senjata klasik patriarki. Perempuan yang mengungkapkan ketidakpuasan, mengingatkan, atau sekadar bercerita dianggap berlebihan.
Kamu pernah dengar bahwa perempuan bicara 20.000 kata sehari, sementara laki-laki hanya 7.000 kata? Louann Brizendine mempopulerkan klaim itu dalam bukunya The Female Brain yang terbit tahun 2006. Tapi ketika para peneliti mulai mencari dari mana angka itu berasal, mereka tidak menemukan studi yang mendukungnya. Artinya, ya, itu sekadar mitos biologi.
Mungkin sulit (atau tidak mau tahu?) bagi laki-laki untuk memahami bahwa perempuan terpaksa ngomong berkali-kali karena masalahnya tidak kunjung selesai. Entah itu soal pembagian tugas rumah atau ketidakadilan di tempat kerja. Maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan perempuan adalah terus bersuara.
Perempuan yang vokal, mengungkapkan ketidakpuasan, atau sekadar banyak bicara sering digambarkan di film-film sebagai perempuan menyebalkan yang mengganggu ketenangan laki-laki. Suara mereka dianggap melengking, berisik, dan berlebihan, sehingga kehadirannya menjadi sumber konflik atau bahan komedi. Sebaliknya, laki-laki yang bicara panjang lebar jarang sekali dicap cerewet.
Baca Juga: Di Balik Tren “Outfit Anti Catcalling”, Ada Realitas Sulitnya Perempuan Memiliki Ruang Aman
Bahkan sejak kita masih kecil, alam bawah sadar kita sudah disuapi dengan citra bahwa perempuan adalah sumber kebisingan. Contoh paling klasik adalah karakter ibu pemilik Tom dalam serial Tom and Jerry. Ia kerap muncul tanpa wajah, tapi suaranya melengking keras, suka mengomel, dan mengancam Tom dengan sapu.
Di Indonesia, ada sitkom Bajaj Bajuri. Karakter Emak (mertua Bajuri, diperankan Nani Wijaya) menjadi ikon mertua cerewet yang judes, dominan, suka mengomel, dan terus-menerus mengkritik menantunya.
Kata ‘sepakat’ bukan satu-satunya. Sebelumnya ada pelabelan “Gender War” (Perang Gender). Setiap kali perempuan mengangkat diskursus tentang ketidakadilan sistemik yang ia alami, laki-laki dengan cepat akan menuduhnya sedang memicu perpecahan antar gender. Istilah ini bahkan masih muncul sampai sekarang dalam berbagai diskursus tentang ketimpangan gender.
Belum lagi tren komentar “Women” lengkap dengan emotikon cangkir kopi. Komentar seperti itu menjadi sebuah ungkapan yang mereduksi segala tindakan atau logika perempuan sebagai sesuatu yang konyol. Tidak masuk akal, dan cukup ditertawakan saja sambil menyeruput kopi.
Dan jangan lupa dengan “Not All Men“. Alih-alih mendengarkan inti masalah yang sedang dibicarakan, banyak laki-laki justru sibuk melakukan defensif diri dengan menegaskan bahwa tidak semua laki-laki seperti itu. Tindakan ini secara instan membelokkan diskusi. Perempuan yang awalnya sedang menuntut keadilan, tiba-tiba dipaksa harus sibuk menenangkan perasaan laki-laki yang merasa tersinggung. Sehingga akhirnya masalah utama yang ia suarakan menguap begitu saja.
Linguis feminis Cheris Kramarae dalam Muted Group Theory menyebutnya sebagai “pembungkaman struktural”. Suara perempuan diterjemahkan ulang melalui kerangka makna laki-laki, sehingga pengalaman yang nyata terdengar seperti keluhan, kritik yang valid terdengar seperti cerewet, dan pengakuan yang jujur malah dianggap drama.
Kramarae berargumen bahwa bahasa bukanlah alat komunikasi yang netral; bahasa adalah konstruksi laki-laki. Karena laki-laki yang secara historis menguasai ruang publik, politik, dan media, mereka pulalah yang menciptakan kosakata untuk mendefinisikan dunia.
Baca Juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!
Perempuan, dalam teori ini, adalah “kelompok yang dibungkam” (muted group). Bukan karena tidak bisa bicara (kita tahu betapa “berisiknya” perempuan menurut standar patriarki), tetapi karena pengalaman perempuan tidak terwakili dalam struktur bahasa dominan. Ketika mencoba menjelaskan rasa takutnya berjalan di trotoar yang gelap, atau beratnya beban domestik, perempuan seringkali harus menerjemahkan perasaan itu ke dalam bahasa yang bisa diterima laki-laki.
Ironi yang paling mencolok dalam politik bahasa patriarki adalah bagaimana laki-laki sering mempraktikkan bentuk “kecerewetan”, yaitu mansplaining. Mereka bisa berbicara panjang lebar, menyela, mengoreksi, atau memberikan penjelasan yang tidak diminta dalam rapat, ruang kelas, hingga percakapan santai, tanpa pernah dicap “cerewet”. Malah dianggap sebagai “berpengetahuan”, “tegas”, atau “berwawasan”, padahal sok tahu.
Namun, begitu perempuan melakukan hal yang persis sama, berbicara untuk meluruskan fakta, membagikan pengalaman, label “cerewet”, “nggak penting”, atau “terlalu banyak bicara” langsung dijatuhkan untuk mengembalikan perempuan ke posisi pendengar pasif.
Lebih absurd lagi, ketika seorang laki-laki dianggap “julid”, masyarakat malah menyebut “mulutnya kayak perempuan”. Menuduh perempuan secara natural bermulut jahat, seakan mereka lupa, isi pembicaraan di tongkrongan laki-laki toksik seperti apa. Cerewet atau julid menjadi insult yang sengaja difemininkan agar terdengar lebih menghina.
Laki-laki sering kali merasa bahwa mereka adalah standar normal dalam berkomunikasi: singkat, padat, dan logis. Maka, gaya komunikasi perempuan yang berpikir jauh ke depan, memperhatikan detail emosional, dan mewaspadai pola-pola, dianggap sebagai keribetan. Perempuan bisa saja bicara banyak karena mengelola banyak hal yang tidak terlihat oleh laki-laki seperti ketakutan, pengabaian, dan sebagainya.
Baca Juga: Tren TikTok “I Couldn’t Resist, She Provoked Me”: Anjing Saja Bisa, kok Laki-laki Tidak?
Audre Lorde pernah menulis: “It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences (Bukan perbedaan yang memecah belah kita. Ketidakmampuan kitalah untuk mengenali, menerima, dan merayakan perbedaan-perbedaan tersebut)”
Laki-laki sering bilang bahwa perempuan itu sulit dipahami, tapi mereka sendiri menolak untuk memahami posisi dan kesulitan perempuan. Jurnal American Psychological Association menyebutnya sebagai willful ignorance atau ketidaktahuan yang disengaja: sebuah strategi defensif yang menyamar sebagai kepolosan. Ketidakpahaman diposisikan sebagai sifat alamiah. Misalnya dengan bilang, “Ya, memang dasarnya perempuan makhluk yang rumit,” sebagai pilihan untuk tidak mendengarkan secara aktif dan empatik.
Tidak ada yang salah dari bicara banyak atau mengekspresikan pikiran secara detail. Bicara adalah cara manusia bertukar gagasan, membangun empati, dan menyelesaikan masalah. Masalahnya, budaya kita sering kali melihat jumlah kata perempuan sebagai gangguan. Padahal itu adalah upaya terus-menerus untuk meminta pengakuan dalam situasi yang tidak banyak memberi ruang bagi perempuan.
Betapa indahnya jika kata “sepakat” itu beneran digunakan sesuai maknanya. Penghapusan total pernikahan di bawah umur demi masa depan anak perempuan yang lebih cerah? Sepakat. Belanja anggaran negara untuk pembalut gratis? Sepakat. Ruang publik yang aman dari pelecehan? Sepakat. Hingga pembagian beban kerja domestik yang setara agar perempuan tidak perlu lagi “cerewet” mengingatkan hal yang sama berulang kali? Sepakat.
Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih manusiawi jika laki-laki berhenti menggunakan kata tersebut untuk membungkam, dan mulai menggunakannya untuk berkolaborasi. Bagaimana, sepakat?




Comments are closed.