Jakarta, NU Online
Kesadaran Nahdlatul Ulama (NU) terhadap pentingnya sektor kesehatan terus mengalami penguatan dalam satu dekade terakhir. Dari pengembangan klinik hingga rumah sakit, NU kini membidik peran yang lebih besar dalam pelayanan kesehatan nasional melalui penguatan fasilitas kesehatan, konsolidasi tenaga medis, dan pemanfaatan jaringan pesantren sebagai basis layanan kesehatan masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU), Muhammad S. Niam menyampaikan bahwa perhatian NU terhadap bidang kesehatan mulai dirumuskan secara lebih serius sejak Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-33 di Jombang pada 2015.
Dalam Muktamar tersebut, lahir sejumlah rekomendasi penting, antara lain penguatan layanan kesehatan NU melalui pendirian klinik, rumah sakit, layanan kesehatan masyarakat, serta penguatan peran tenaga kesehatan NU.
Selain itu, direkomendasikan pembentukan Badan Pelaksana Kesehatan, penguatan balai pengobatan berbasis pesantren, serta perhatian terhadap sistem jaminan kesehatan nasional agar semakin berpihak kepada masyarakat.
Niam mengatakan, pasca-Muktamar Jombang, perkembangan fasilitas kesehatan NU mulai menunjukkan kemajuan. RSNU DIY diresmikan PBNU pada 2018, sementara RSNU Pasuruan mulai dirintis pada tahun yang sama dan resmi berdiri pada 2026. Pada saat yang sama, konsolidasi dokter dan tenaga kesehatan NU juga semakin kuat melalui kehadiran PDNU.
“Kepengurusan PBNU era 2015-2021 terhadap kesehatan masyarakat cukup kuat, mendorong kebangkitan RSNU, serta berdirinya PDNU,” ujar Niam kepada NU Online, Sabtu (8/8/2026).
Ia menambahkan, pada masa kepengurusan PBNU 2021 hingga sekarang, penguatan sektor kesehatan semakin diperluas melalui pembenahan tata kelola, inventarisasi fasilitas kesehatan dan rumah sakit, serta penentuan akreditasi PWNU dan PCNU berdasarkan kemampuan mendirikan dan mengelola fasilitas kesehatan.
“Hal ini merupakan peluang terjadinya lompatan besar NU dalam program bidang kesehatan,” tegasnya.
Niam menyampaikan bahwa saat pandemi Covid-19, PDNU membangun jaringan vaksinasi, edukasi kesehatan berbasis pesantren, layanan ambulans, bantuan oksigen, hingga kampanye protokol kesehatan.
“Pada saat pandemi Covid-19 PDNU bersama RMI, Garakan Ayo Mondok, Gusdurian, dan Satgas RMI berjuang bersama-sama membentengi ulama dan pengasuh pesantren-pesantren NU se-Indonesia dengan berbagai macam kegiatan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa aplikasi SalamDoc juga diluncurkan untuk membantu pesantren menanggulangi wabah Covid-19.
Niam juga menyampaikan bahwa hingga kini, PDNU aktif menyelenggarakan seminar kesehatan, vaksinasi, penanggulangan stunting, kesehatan ibu-anak, kesehatan pesantren, dan kesehatan preventif.
“Dalam kegiatan kebencanaan, PDNU membentuk Nahdlatul Ulama Rescue (NUR). Bekerja sama dengan Lazisnu, lembaga penanggulangan bencana NU maupun pemerintah, PDNU hadir dan aktif membantu BNPB dalam beberapa bencana nasional di Indonesia,” tuturnya.
Niam menilai pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat layanan kesehatan primer. “NU juga dapat membuat pesantren sebagai basis primary care menjadi pusat promotif-preventif, klinik primer, pos kesehatan, edukasi stunting, vaksinasi, kesehatan mental, dan telemedicine desa. Ini kekuatan unik yang tidak dimiliki banyak organisasi lain,” tegasnya.





Comments are closed.