Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Khutbah Jumat: Bijak Menggunakan AI, Tetap Jaga Akal, Kejujuran, dan Tanggung Jawab

Khutbah Jumat: Bijak Menggunakan AI, Tetap Jaga Akal, Kejujuran, dan Tanggung Jawab

khutbah-jumat:-bijak-menggunakan-ai,-tetap-jaga-akal,-kejujuran,-dan-tanggung-jawab
Khutbah Jumat: Bijak Menggunakan AI, Tetap Jaga Akal, Kejujuran, dan Tanggung Jawab
service

AI dapat memberikan banyak manfaat. Namun, seperti teknologi lainnya, ia juga dapat digunakan secara keliru. Karena itu, umat Islam perlu menggunakannya dengan bijak, tetap menjaga kejujuran, amanah, akal sehat, dan tanggung jawab.

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Bijak Menggunakan AI, Tetap Jaga Akal, Kejujuran, dan Tanggung Jawab”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita mengingat kembali berbagai nikmat yang telah Allah swt karuniakan kepada kita. Nikmat kesehatan, keluarga, pekerjaan, ilmu pengetahuan, serta berbagai kemudahan hidup yang mungkin dahulu tidak pernah kita bayangkan.

Nikmat tersebut tidak cukup hanya kita syukuri dengan ucapan. Syukur juga berarti menggunakan apa yang Allah berikan kepada kita untuk jalan yang baik dan bermanfaat.

Pada kesempatan ini, khatib juga berwasiat kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya, “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah ayat 21)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam ayat lain, Allah juga memerintahkan kita untuk mencari wasilah atau jalan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.” (QS Al-Ma’idah ayat 35)

Di dalam kitab Tafsir Al-Ibriz Juz 6 halaman 288, KH Bisri Musthofa memaknai wasilah sebagai perantara. Yakni perantara untuk menuju ridha Allah dengan melakukan kebaikan dan amal saleh. Juga disertai dengan perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah. Dengan demikian, kita akan memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat.

Di antara nikmat yang dapat menjadi sarana dalam melakukan kebaikan adalah akal dan ilmu pengetahuan. Dengan akal, manusia belajar, menemukan, menciptakan, dan mengembangkan berbagai alat untuk memudahkan kehidupan.

Dahulu, misalnya, orang yang hendak menunaikan ibadah haji membutuhkan perjalanan yang sangat panjang dengan kapal laut. Sekarang, dengan pesawat terbang, perjalanan yang dahulu memakan waktu berbulan-bulan dapat ditempuh jauh lebih cepat.

Begitu pula dalam berkomunikasi. Dahulu, kabar dari keluarga yang tinggal jauh harus menunggu surat selama berhari-hari. Sekarang, dalam hitungan detik kita dapat berbicara dengan orang yang berada ribuan kilometer dari tempat kita berada.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita kembali berhadapan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Salah satunya adalah Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan, yang biasa disingkat AI.

Sebagian jamaah mungkin sudah menggunakannya setiap hari. Sebagian mungkin baru mendengar namanya. Tetapi sedikit atau banyak, teknologi ini akan semakin dekat dengan kehidupan kita.

AI dapat membantu seseorang menulis surat, menerjemahkan bahasa, mencari ide, merangkum dokumen, mengolah data, membuat gambar, membantu pekerjaan kantor, mendukung proses belajar, sampai memberikan berbagai informasi yang kita tanyakan.

Seorang pelajar dapat menggunakannya untuk membantu memahami pelajaran. Seorang guru dapat memanfaatkannya untuk menyiapkan bahan pembelajaran. Pedagang dapat menggunakannya untuk membuat promosi. Pekerja dapat terbantu dalam mengolah dokumen. Orang tua pun dapat menggunakannya untuk mencari informasi sehari-hari.

Dengan itu, teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Nilai baik dan buruknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari kemampuan berpikir yang Allah anugerahkan kepada manusia. Selama digunakan untuk tujuan yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama, teknologi dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Semangat menerima sesuatu yang baru dan bermanfaat ini selaras dengan apa yang disampaikan KH Achmad Siddiq dalam Al-Fikrah An-Nahdliyah (1969) halaman 15, yakni kaidah:

الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

Kaidah ini dimaknai KH. Achmad Siddiq adalah pedoman untuk menilai masa lalu dan merintis masa kini. Menilai masa lalu berarti mempertahankan nilai-nilai positif hasil pemikiran dan ijtihad generasi terdahulu. Sementara mengembangkan masa kini berarti menerima hal-hal baru yang bermanfaat, tidak bertentangan dengan Islam, serta mengembangkannya ke arah yang lebih baik.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Berangkat dari sini, persoalannya bukan apakah kita harus menerima atau menolak AI. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakannya. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu manusia justru membuat kita kehilangan sikap kritis, malas berpikir, mudah tertipu, atau bahkan menggunakannya untuk merugikan orang lain.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu kita jaga. Pertama, AI dapat memberikan jawaban dengan sangat cepat. Namun, cepat tidak selalu berarti benar. Sebuah jawaban dapat terdengar meyakinkan, tersusun dengan rapi, bahkan seolah-olah dilengkapi dengan sumber. Tetapi tetap saja manusia harus memeriksa kembali kebenarannya.

Jadi, kita harus waspada, jangan setiap informasi yang muncul di layar langsung dianggap sebagai kebenaran. Jika berkaitan dengan kesehatan, tanyakan kepada tenaga kesehatan. Jika berkaitan dengan hukum, tanyakan kepada pihak yang memahami hukum. Jika berkaitan dengan agama, rujuklah kepada ulama dan sumber-sumber keagamaan yang dapat dipercaya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Teknologi dapat membantu kita mencari informasi, tetapi ia tidak menghilangkan kewajiban manusia untuk berpikir, belajar, bertanya, dan mempertimbangkan akibat dari sebuah keputusan.

Terlebih dalam persoalan agama. Jangan sampai seseorang bertanya kepada AI mengenai hukum agama, kemudian menerima jawabannya begitu saja tanpa memastikan sumber, dalil, dan konteksnya. AI dapat menjadi alat bantu. Tetapi kemampuan menimbang benar dan salah tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kedua, kemudahan teknologi juga menghadirkan ujian terhadap kejujuran kita. Seorang pelajar dapat meminta AI mengerjakan tugasnya. Seorang pekerja dapat mengaku membuat sesuatu yang sebenarnya seluruhnya dibuat oleh orang atau mesin lain. Seseorang dapat membuat gambar atau suara palsu untuk mengesankan seolah-olah orang lain mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakannya.

Bahkan, teknologi dapat digunakan untuk membuat berita palsu, foto palsu, rekaman suara palsu, atau berbagai bentuk penipuan. Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin penting pula kejujuran manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya, “‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga,” (HR Muslim)

Hadits ini menjadi pedoman yang sangat penting pada zaman sekarang. AI boleh membantu kita bekerja, tetapi jangan sampai digunakan untuk menipu. AI boleh membantu pelajar memahami pelajaran, tetapi jangan sampai membuatnya tidak lagi mau belajar. AI boleh membantu seseorang menulis, tetapi jangan sampai ia mengambil karya orang lain lalu mengakuinya sebagai hasil pikirannya sendiri. Teknologi boleh membantu pekerjaan kita, tetapi tanggung jawab atas pekerjaan itu tetap berada pada diri kita.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ketiga, hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjaga amanah. Banyak layanan teknologi bekerja dengan mengolah informasi yang kita masukkan. Karena itu, jangan sembarangan memasukkan data pribadi, dokumen rahasia, informasi keluarga, data pekerjaan, atau rahasia orang lain ke dalam layanan digital yang belum kita pahami keamanannya.

Seorang pegawai, misalnya, jangan sembarangan memasukkan dokumen internal tempat kerjanya. Seorang pengurus organisasi tidak boleh memasukkan data anggota tanpa pertimbangan. Begitu pula data keluarga, nomor identitas, informasi keuangan, atau percakapan pribadi.

Sesuatu yang dipercayakan kepada kita tetap merupakan amanah, sekalipun kita sedang menggunakan teknologi untuk mempermudah pekerjaan. Kemudahan tidak boleh membuat kita kehilangan kehati-hatian.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Keempat, AI dapat digunakan untuk dua tujuan yang sangat berbeda. AI dapat membantu seorang guru membuat bahan pelajaran. Tetapi ia juga dapat dipakai untuk membuat kabar bohong. AI dapat membantu pedagang membuat iklan. Tetapi ia juga dapat dipakai untuk menipu calon pembeli. AI dapat membantu seseorang memahami tulisan dalam bahasa asing. Tetapi ia juga dapat dipakai untuk membuat fitnah atau memalsukan suara dan gambar seseorang.

Di sinilah akhlak manusia menjadi penting. Jangan sampai kita hanya bertanya, “Apakah teknologi ini bisa melakukan sesuatu?” tetapi lupa bertanya, “Apakah sesuatu itu baik untuk dilakukan?” Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, kemampuan untuk membedakan yang benar dan yang salah, serta kebijaksanaan dalam menggunakan setiap nikmat yang diberikan-Nya.

Semoga teknologi yang ada di tangan kita menjadi jalan untuk memperbanyak kebaikan, memudahkan pekerjaan, memperluas ilmu, dan memberikan manfaat kepada sesama. Jangan sampai ia justru menjadi jalan untuk berbuat dosa dan merugikan orang lain. Amin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. 

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ

Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.