Arina.id-Dunia seni Tanah Air kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Nasirun, salah satu maestro seni rupa Indonesia meninggal dunia, Sabtu pagi, 1 Agustus 2026. Seniman kelahiran Cilacap yang kini menetap di Yogyakarta itu meninggal di rumah sakit setelah mengalami sesak napas.
Jumaldi Alfi Chaniago, sahabat mendiang mengatakan menerima kabar Nasirun dibawa ke rumah sakit dini hari pukul 02.00 WIB. Keluhannya, almarhum mengalami sesak napas yang cukup berat. Setelah menerima kabar dini hari itu, empat jam kemudian, sekitar pukul 05.50 WIB, kabar duka datang kepada Alfi.
Berdasarkan informasi dari keluarga, Nasirun telah mengalami sesak napas selama tiga hari terakhir. Namun, seperti yang selama ini dikenalnya, Nasirun tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya kepada orang lain. Bahkan, Alfi baru mengetahui sahabatnya itu mengidap pneumonia dan penyakit asam lambung.
“Jadi memang kalau sesaknya itu kata keluarga tiga hari ini udah sesak, cuman kan hilang timbul,” katanya sambil menambahkan kalau ia bertemu terakhir kali dengan mediang pada Jumat sore kemarin, 31 Juli 2026. Demikian penjelasan Alfi seperti dikutip dari Antara, Minggu 2 Agustus 2026.
Selama ini Nasirun dikenal sebagai seniman sederhana dan ramah, meskipun reputasinya telah mendunia. Ia juga dikenal tidak pernah merepotkan orang lain. Ketenarannya tidak serta merta mengubah cara ia memandang sesama. Namanya boleh melanglang dunia melalui karya-karyanya, tetapi kehidupannya tetap membumi.
Karya-karya Nasirun
Karya-karya Nasirun dapat dipetakan dalam beberapa periode signifikan. Pada era 1990-an, ia banyak mengeksplorasi figur manusia, topeng, dan isu kemiskinan melalui gaya ekspresionistik. Karya seperti Gayuh Buli-Buli (1992) menjadi salah satu tonggak awal yang terdokumentasi secara kuratorial.
Memasuki periode 2000-an, Nasirun mulai mendominasi kanvas berukuran besar dengan tema wayang dan moralitas. Karya monumental seperti Sumantri Dadi Rojo dan Kabotan Sungu (2000) menunjukkan kepiawaiannya mengolah cerita lokal untuk membicarakan dinamika kekuasaan dan beban kehidupan modern.
Pada dekade 2010-an, spektrum karyanya meluas ke arah satire politik dan dunia seni. Judul-judul seperti Calon Presiden Seni Rupa Indonesia (2011), Begawan Google (2012), dan Sultan Seni Rupa (2014) mencerminkan respons kritisnya terhadap perubahan zaman. Ia juga mulai bereksperimen dengan medium non-konvensional, seperti instalasi wayang dalam botol (Between Worlds, 2013) dan penggunaan stempel antik.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah daftar karya Nasirun yang telah teridentifikasi beserta medium dan ukurannya:
Dalam praktik terbarunya menuju tahun 2025-2026, Nasirun semakin intensif menggunakan benda temuan (found objects) dan memorabilia. Pameran Memorabilia (2025) memperlihatkan bagaimana ia merespons objek sehari-hari seperti blawong keris, stempel logam, hingga payung tua, yang dipadukan dengan lukisan figuratif-naratif khasnya.image widgetwidget gambar.



Comments are closed.