Mon,25 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Denica Riadini-Flesch, Orang Indonesia Pemenang Pritzker Environmental Genius 2025: Lestarikan Lahan, Pemberdayaan Perempuan dan Dunia Mode

Denica Riadini-Flesch, Orang Indonesia Pemenang Pritzker Environmental Genius 2025: Lestarikan Lahan, Pemberdayaan Perempuan dan Dunia Mode

denica-riadini-flesch,-orang-indonesia-pemenang-pritzker-environmental-genius-2025:-lestarikan-lahan,-pemberdayaan-perempuan-dan-dunia-mode
Denica Riadini-Flesch, Orang Indonesia Pemenang Pritzker Environmental Genius 2025: Lestarikan Lahan, Pemberdayaan Perempuan dan Dunia Mode
service

  Dalam dunia yang ditentukan oleh berbagai eksploitasi alam, Denica Riadini-Flesch membuktikan bahwa dunia kreatif dapat dipadukan dengan upaya restorasi dan pelestarian alam. Ekonomi sekaligus wirausahawan asal Indonesia ini memenangkan Penghargaan Pritzker Emerging Environmental Genius 2025 dari UCLA atas keberhasilannya membangun rantai pasok “dari pertanian ke dunia mode busana”—sebuah sistem yang mampu meregenerasi lahan, mendorong pelestarian warisan budaya, dan upaya pemberdayaan para perempuan di pedesaan. Dari mimpi itu, Riadini lalu mendirikan SukkhaCitta, setelah ia ‘mengalami pencerahan’. Sebagai orang yang besar di Jakarta, ia pernah mengilusikan pertumbuhan ekonomi dalam sebuah garis lurus yang terus menanjak tanpa ada batas akhir. Namun pemikiran itu berubah sejak ia berkunjung ke sebuah desa tempat para perempuan bekerja keras selama berminggu-minggu untuk mengolah produk tekstil sintetis untuk mendapatkan upah minim. Saat itu ia menjumpai kenyataan dari seorang perempuan pekerja tekstil. “Rasanya tangan, mata, dan paru-paru saya terasa terbakar,” sebutnya mengulangi ucapan seorang ibu pekerja yang dijumpainya. Pernyataan itu mengungkapkan apa yang disebut Riadini sebagai “harga yang harus ditanggung oleh pekerja demi kenyamanan konsumen”. SukkhaCitta lalu berupaya membalikkan logika tersebut. Alih-alih membangun pabrik besar yang tersebar luas, produksi busana dilakukan di pekarangan dan pertanian kecil di Jawa, Bali, Flores, dan Timor Barat. Kapas ditanam di lahan campuran yang meregenerasi tanah; pewarna berasal dari daun nila dan mahoni; kain ditenun dengan menggunakan alat tenun tangan. Perusahaan ini sekarang telah memulihkan lebih dari 120 hektar lahan terdegradasi, mencegah lima juta liter limbah pewarna sintetik beracun mencemari sungai, dan meningkatkan pendapatan perempuan rata-rata sebesar 60 persen. Melalui Rumah SukkhaCitta, para…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.