Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Di Tengah Euforia Festival Coachella, Ada Krisis Kemanusiaan yang Tidak Boleh Dilupakan

Di Tengah Euforia Festival Coachella, Ada Krisis Kemanusiaan yang Tidak Boleh Dilupakan

di-tengah-euforia-festival-coachella,-ada-krisis-kemanusiaan-yang-tidak-boleh-dilupakan
Di Tengah Euforia Festival Coachella, Ada Krisis Kemanusiaan yang Tidak Boleh Dilupakan
service

Saatnya kita mulai meninggalkan artis yang tidak berpihak pada kemanusiaan. Ajakan itu beredar di lini pribadi saya. 

Bagaimana kita menyikapinya?

Festival Coachella Valley Music and Arts Festival selalu dipasarkan sebagai ruang kebebasan—tempat di mana musik, ekspresi diri, dan keberagaman budaya bertemu tanpa batas. 

Namun dibalik citra itu, Coachella justru memperlihatkan wajah lain dari industri seni global: sebuah ruang yang tidak pernah benar-benar netral, yang terhubung erat dengan kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan. 

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak eskalasi kekerasan di Gaza dan Palestina secara umum, festival ini semakin disorot karena tetap memberi panggung pada artis-artis yang dianggap pro-Zionisme, bekerja sama dengan brand global yang dituding memiliki keterkaitan dengan Israel, dan pada saat yang sama meminggirkan suara-suara solidaritas terhadap Palestina.

Kontradiksi ini menjadi semakin tajam ketika kita melihat bagaimana publik tetap merayakan Coachella sebagai ajang hiburan semata. 

Ribuan orang datang, jutaan lainnya menonton siaran langsung, membicarakan outfit, tren, dan line-up artis tanpa mempertanyakan konteks politik yang melingkupi festival tersebut. Di sinilah letak persoalan: ketika kekerasan global berlangsung secara nyata, bagaimana mungkin sebuah ruang budaya sebesar Coachella tetap dianggap netral?

Coachella bukan hanya festival musik. Ia adalah bagian dari industri hiburan global yang sangat besar, yang melibatkan sponsor korporasi, platform digital, dan jaringan bisnis internasional. Pilihan artis dan mitra brand bukan sekadar soal estetika atau selera musik, tetapi juga keputusan ekonomi dan politik. 

Baca Juga: Rich Brian, NIKI, dan 88Rising di Panggung Coachella: Pelajaran Bagi Musisi Bangun Audiens di Kancah Global

Ketika festival ini tetap mengundang artis-artis yang tidak mengkritik—atau bahkan dianggap mendukung—Israel, hal itu tidak bisa dilepaskan dari struktur kekuasaan yang lebih luas. Bahkan, Coachella sendiri berada dalam ekosistem industri yang selama ini dikritik karena memiliki kedekatan dengan kepentingan politik tertentu, termasuk yang dianggap pro-Israel oleh sebagian aktivis.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana publik tetap menggemari artis-artis tersebut tanpa refleksi kritis. 

Imbauan boikot terhadap figur publik yang dianggap mendukung Israel telah beredar luas, terutama di media sosial. Kampanye solidaritas global menyerukan agar konsumsi budaya—termasuk musik—tidak dilepaskan dari etika kemanusiaan. Tetapi dalam praktiknya, banyak orang tetap mendengarkan, membeli tiket, dan merayakan artis favorit mereka, seolah-olah posisi politik artis tersebut tidak relevan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi budaya sering kali lebih didorong oleh kedekatan emosional daripada kesadaran politik. Kita tumbuh bersama lagu-lagu tertentu, mengaitkannya dengan pengalaman personal, dan membangun identitas melalui musik. Namun justru karena itulah, kita menjadi enggan untuk mengkritik artis yang kita sukai. Kritik terasa seperti pengkhianatan terhadap diri sendiri. Padahal, di sinilah letak tantangannya: apakah kita berani mempertanyakan sesuatu yang kita cintai, ketika kita tahu ada ketidakadilan yang terlibat?

Di tengah situasi ini, muncul pula suara-suara perlawanan dari dalam panggung Coachella sendiri. 

Band The Strokes, misalnya, pada Sabtu 18 April 2026 muncul di panggung Coachella dengan video yang menampilkan hancurnya sekitar 30 universitas di Palestina dan Iran akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel selama beberapa tahun belakangan. Bagian terakhir dari penampilan lagu mereka ‘Oblivius‘ juga menampilkan Universitas Al-Israa di Gaza, yang dibombardir Israel pada 2024.

Menurut pengamatan warganet, klip-klip video penampilan The Strokes di Coachella yang dibagikan di media sosial diblokir dengan alasan copyright.

Baca juga: Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’

Salah satu contoh lainnya adalah penampilan grup hip-hop Irlandia Kneecap yang secara terbuka menyuarakan “Free Palestine” dan mengecam serangan Israel di Gaza. Mereka menampilkan pesan visual yang menyebut bahwa Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina dan bahwa kekerasan tersebut didukung oleh pemerintah Amerika Serikat. Aksi ini memicu kontroversi besar, menunjukkan bahwa bahkan di ruang yang diklaim sebagai “bebas”, ekspresi politik tetap dipolitisasi.

Lebih jauh, grup ini juga menuduh bahwa sebagian pesan mereka tidak ditayangkan dalam siaran resmi Coachella. Beberapa momen penting dari penampilan mereka—termasuk visual dan pernyataan politik—dilaporkan tidak muncul dalam livestream resmi festival. Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menunjukkan bagaimana kurasi konten dilakukan secara selektif. Suara yang menentang kekuasaan tidak diberi ruang yang sama dengan suara yang lebih “aman” atau sesuai dengan kepentingan industri.

Tidak hanya Kneecap, beberapa artis lain juga menyuarakan solidaritas terhadap Palestina di Coachella, baik melalui simbol, lirik, maupun pernyataan langsung di panggung. Seperti Green Day, yang pada tahun 2025 tampil di Coachella dengan lirik yang disesuaikan dengan krisis kemanusiaan di Palestina. Vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong mengubah sepenggal lirik ‘Jesus of Suburbia’ menjadi, “Runnin’ away from pain, like the kids from Palestine. Tales from another broken home.”

Atau Saint Levant, rapper yang pernah menghabiskan kehidupan masa kecil di Gaza dan menandai debut kariernya di panggung Coachella 2024. Di sana, ia membagikan banyak cerita mengenai perjalanan hidupnya yang lahir di Yerusalem, menghabiskan masa kecil di Gaza, hingga harus mengungsi ke Yordania pada 2007. Levant juga menyanyikan dua lagu yang berkaitan dengan Palestina di Coachella, yaitu ‘Deira’ dan ‘From Gaza with Love’.

Baca Juga: “Perkosaan Massal Mei ’98 Bukan Rumor”: Gugatan Ditolak PTUN, Keadilan untuk Perempuan Dikhianati di Hari Kartini 

Juga vokalis band Wednesday, Karly Hartzman, yang di panggung Coachella 2026 ini juga terang-terangan menyerukan kecamannya terhadap kebijakan imigrasi Amerika Serikat serta desakan pembebasan Palestina. “F*CK ICE and Free Palestine!” seru Karly Hartzman. Sejumlah musisi dan artis lainnya juga menyuarakan kecaman terhadap AS-Israel dan mendesak keadilan bagi Palestina di panggung Coachella dari tahun ke tahun.

Namun respons terhadap mereka seringkali jauh lebih keras dibandingkan terhadap artis yang memilih diam. 

Kritik, ancaman, hingga tekanan profesional menjadi konsekuensi yang harus mereka hadapi. Ini menunjukkan adanya standar ganda: berbicara tentang keadilan dianggap kontroversial, sementara diam terhadap kekerasan dianggap normal.

Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa seni tidak pernah netral. Musik, seperti bentuk seni lainnya, selalu lahir dari kondisi sosial tertentu. Ia mencerminkan nilai, ideologi, dan relasi kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Menganggap seni sebagai sesuatu yang “murni” dan terlepas dari politik justru menutupi fakta bahwa seni sering digunakan untuk mempertahankan atau menantang kekuasaan.

Baca juga: Bridgerton Season 4, Kisah Cinta Yang Melegitimasi Ketimpangan Kelas dan Rapuhnya Kedaulatan Perempuan

Argumen bahwa kita harus memisahkan karya dari artis sering digunakan untuk membenarkan konsumsi budaya tanpa refleksi etis. Namun, argumen ini problematis. Artis bukan hanya pencipta karya, tetapi juga individu dengan platform dan pengaruh besar. Apa yang mereka katakan—atau tidak katakan—memiliki dampak nyata. Ketika seorang artis memilih untuk diam dalam situasi ketidakadilan, diam tersebut bukanlah netralitas, melainkan posisi politik.

Dalam industri seperti Coachella, hubungan antara karya, artis, dan kapital semakin tidak terpisahkan. Mendukung seorang artis berarti juga mendukung sistem yang memungkinkan mereka tampil—termasuk festival, sponsor, dan jaringan bisnis di belakangnya. Oleh karena itu, konsumsi musik bukan sekadar aktivitas personal, tetapi juga tindakan politik.

Perspektif feminisme membantu kita melihat persoalan ini dengan lebih tajam. Feminisme tidak hanya berbicara tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan bekerja dalam berbagai bentuk—termasuk kolonialisme, kapitalisme, dan militerisme. 

Dalam konteks Palestina, perempuan mengalami dampak yang berlapis: mereka menjadi korban kekerasan, kehilangan keluarga, dan hidup dalam kondisi yang tidak aman. Namun suara mereka seringkali tidak terdengar dalam narasi global.

Di sisi lain, industri hiburan global—termasuk Coachella—sering mereproduksi objektifikasi tubuh perempuan. Festival ini identik dengan estetika tertentu yang sangat dikomodifikasi, di mana tubuh perempuan menjadi bagian dari konsumsi visual. Brand-brand besar memanfaatkan citra ini untuk menjual produk, menciptakan standar kecantikan yang sempit, dan memperkuat logika kapitalisme.

Baca juga: Internalized Misogyny dalam Film Perselingkuhan Menjebak Kita Pada Narasi ‘Istri Sah vs Pelakor’

Ketika kita menghubungkan dua hal ini—penderitaan perempuan di wilayah konflik dan eksploitasi tubuh perempuan dalam industri hiburan—muncul kontradiksi yang tajam. Bagaimana mungkin industri yang di satu sisi mengeksploitasi tubuh perempuan, di sisi lain mengabaikan kekerasan yang dialami perempuan di Palestina? 

Feminisme mengajarkan bahwa kita tidak bisa melihat isu-isu ini secara terpisah. Mereka saling terhubung dalam sistem yang sama.

Lebih jauh, feminisme juga menekankan pentingnya solidaritas. Solidaritas bukan hanya soal empati, tetapi juga tindakan. Dalam konteks ini, menjadi kritis terhadap artis yang kita sukai adalah bagian dari praktik solidaritas. Ini bukan tentang membenci individu, tetapi tentang mempertanyakan sistem yang mereka representasikan.

Kita hidup di era di mana informasi tersedia secara luas. Kita tidak bisa lagi mengklaim ketidaktahuan. Ketika kita memilih untuk tetap mendukung artis yang memiliki posisi politik problematis, kita perlu menyadari bahwa pilihan tersebut memiliki konsekuensi. Ini bukan berarti kita harus berhenti menikmati musik, tetapi kita perlu mengembangkan kesadaran kritis tentang apa yang kita konsumsi.

Baca juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT

Coachella, dengan segala gemerlapnya, adalah cermin dari dunia yang kita tinggali. Dunia di mana hiburan, politik, dan kapital saling berkelindan. Dunia di mana suara keadilan seringkali dibungkam, sementara status quo dipertahankan. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi apakah seni itu politis, tetapi bagaimana kita—sebagai penonton—memposisikan diri kita.

Apakah kita akan terus menikmati tanpa bertanya? Ataukah kita berani menghadapi ketidaknyamanan, mempertanyakan pilihan kita, dan mengambil sikap? Dalam konteks genosida, ketidakadilan, dan penderitaan manusia, sikap netral bukanlah pilihan yang aman. Ia adalah bentuk keberpihakan.

Dan mungkin, justru di sinilah peran kita sebagai penikmat seni: bukan hanya untuk menikmati, tetapi juga untuk mengkritik, mempertanyakan, dan memilih dengan sadar. 

Karena pada akhirnya, seni bukan hanya tentang apa yang kita dengar—tetapi juga tentang nilai apa yang kita dukung.

(Editor: Luviana)

(Sumber Gambar: Percetakan Kain)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.