Bincangperempuan.com- Memiliki buah hati adalah dambaan bagi sebagian pasangan. Kehadiran anak kerap dipandang sebagai kelanjutan alami dari pernikahan, sebuah fase hidup yang dianggap sudah sewajarnya. Namun di tengah perubahan gaya hidup, tuntutan ekonomi, dan realitas relasi modern, keputusan memiliki anak tak lagi sesederhana mengikuti alur yang diharapkan lingkungan.
Kira-kira di usia berapa sebaiknya memiliki anak? Apakah kesiapan benar-benar ditentukan oleh umur, atau justru oleh faktor lain seperti kondisi mental, finansial, dan relasi pasangan? Tak kalah penting, apakah selisih usia orang tua dan anak akan berdampak pada pola pengasuhan dan dinamika keluarga di kemudian hari?
Kapan Waktu Ideal Punya Anak?
Menurut survei internasional yang dilakukan Pew Research, ketika responden di 18 negara ditanya tentang usia ideal untuk memiliki anak pertama, mayoritas menjawab di rentang 25–29 tahun. Dari keseluruhan responden, rata-rata usia ideal berada di angka 26,1 tahun. Temuan ini kerap dianggap sebagai semacam kesepakatan global mengenai waktu yang dinilai paling pas untuk memulai peran sebagai orang tua.
Menariknya, temuan tersebut sejalan dengan pandangan masyarakat di Indonesia. Survei yang sama menunjukkan bahwa mayoritas responden Indonesia juga menganggap usia 25–29 tahun sebagai waktu paling ideal untuk memiliki anak pertama. Sekitar 58 persen responden memilih rentang usia ini. Sementara itu, sekitar seperempat responden menilai usia 20–24 tahun juga masih tergolong baik. Adapun pilihan usia di luar rentang 20-an relatif kurang diminati, menandakan bahwa usia muda ekstrem maupun terlalu matang belum dianggap ideal oleh sebagian besar masyarakat.
Baca juga: Ketika Ibu Jeda Sejenak dari Beban Pengasuhan
Kenapa 25-29 Dianggap Ideal?
Anak pertama dianggap paling ideal lahir ketika orang tua berada di usia 25–29 tahun. Hal ini berkaitan dengan pola pernikahan yang umumnya terjadi di awal usia 20-an, tetapi diikuti dengan keputusan menunda memiliki anak sampai kondisi finansial, emosional, dan relasi dirasa lebih stabil.
Dari sisi kesehatan, terutama bagi perempuan, berbagai sumber medis menyebutkan bahwa meskipun tingkat kesuburan cukup tinggi pada usia remaja, kehamilan di bawah usia 20 tahun kerap dihadapkan pada tantangan yang lebih besar. Minimnya pengalaman hidup, keterbatasan sumber daya ekonomi, serta stigma sosial membuat kehamilan di usia sangat muda tidak bisa menjadi pilihan ideal. Selain itu, risiko komplikasi kehamilan serius juga lebih tinggi pada kelompok usia ini, dan kembali meningkat pada usia akhir 30-an. Risiko lain seperti anemia, kelahiran mati, hingga kelainan bawaan juga cenderung lebih besar.
Dengan mempertimbangkan kesiapan fisik, mental, dan emosional, usia 25–30 tahun sering disebut sebagai rentang yang relatif ideal untuk hamil. Meski begitu, hal ini tidak berarti kehamilan sehat tidak mungkin terjadi setelah usia 30 atau bahkan 40 tahun. Inilah alasan mengapa banyak ahli menegaskan bahwa tidak ada satu usia terbaik yang berlaku mutlak bagi semua orang.
Jika dilihat dari sisi biologis semata, usia awal 20-an mungkin menjadi periode dengan tingkat kesuburan tinggi dan risiko komplikasi yang relatif rendah. Namun, keputusan untuk memiliki anak seharusnya tidak hanya didasarkan pada faktor biologis. Perjalanan menuju orang tua adalah proses yang sangat personal. Pendekatan terbaik adalah memilih waktu yang terasa paling tepat bagi diri sendiri dan keluarga yang ingin dibangun.
Age Gap & Pengasuhan: Apa Dampaknya?
Pertanyaan soal selisih usia antara orang tua dan anak sering muncul bersamaan dengan diskusi tentang waktu ideal memiliki anak. Kekhawatirannya beragam mulai dari apakah orang tua yang terlalu muda akan kurang matang, atau sebaliknya, apakah orang tua yang terlalu tua akan kesulitan mengikuti dinamika anak.
Sebuah penelitian mencatat bahwa usia ayah yang lebih tua sedikit berkaitan dengan peningkatan risiko mutasi genetik tertentu. Meski demikian, efek ini relatif kecil dan tidak serta-merta berdampak signifikan pada kecerdasan, kepribadian, atau kualitas hidup anak secara umum. Artinya, usia biologis memang punya pengaruh, tetapi bukan faktor dominan yang menentukan hasil pengasuhan.
Yang lebih berperan adalah kesiapan emosional dan sosial orang tua, termasuk kemampuan mengelola stres, membangun relasi yang sehat, serta menyediakan lingkungan yang aman dan suportif bagi anak.
Baca juga: Kenapa Laki-laki Bangga Punya Banyak Pasangan, Tapi Perempuan Tidak?
Faktor Lain yang Lebih Membentuk Pola Pengasuhan
Selain usia, kualitas pengasuhan anak lebih banyak ditentukan oleh kesiapan orang tua dalam menjalani peran tersebut. Salah satu faktor kunci adalah tingkat stres dan rasa percaya diri orang tua, atau parental self-efficacy. Studi di wilayah Jabodetabek menunjukkan bahwa ayah yang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya sebagai orang tua cenderung mengalami tingkat stres yang lebih rendah, bahkan ketika harus mengasuh lebih dari satu anak. Kondisi psikologis ini berpengaruh langsung pada pola interaksi sehari-hari, mulai dari cara berkomunikasi, merespons emosi anak, hingga pengambilan keputusan dalam pengasuhan.
Rasa percaya diri ini tidak muncul begitu saja. Tetapi dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman, dan kesiapan mental—yang idealnya mulai dipelajari sejak sebelum menikah. Oleh karena itu penting mempelajari pemahaman dasar tentang perkembangan anak, manajemen emosi, pembagian peran dalam rumah tangga, hingga cara menyelesaikan konflik. Tanpa kesiapan ini, tekanan pengasuhan berisiko memicu stres berkepanjangan yang berdampak pada relasi orang tua dan anak.
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah kesiapan finansial. Realitasnya, membesarkan anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama pada dua tahun pertama kehidupan. Pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti susu, imunisasi, perawatan kesehatan, hingga perlengkapan bayi kerap melampaui perkiraan awal pasangan. Tidak sedikit orang tua yang baru menyadari besarnya beban finansial setelah anak lahir, yang kemudian berujung pada stres rumah tangga dan ketegangan dalam pengasuhan.
Kesiapan finansial di sini bukan berati memiliki penghasilan besar, melainkan kemampuan merencanakan, mengelola, dan berkomunikasi soal keuangan bersama pasangan. Sama seperti kesiapan mental, literasi keuangan keluarga dan diskusi terbuka tentang pembagian tanggung jawab juga menjadi bagian dari kesiapan parenting yang sering luput dibicarakan sebelum menikah.
Pada akhirnya, usia hanyalah angka jika kesiapan belum ada. Sebaliknya, ketika seseorang atau pasangan telah siap secara emosional, strategis, dan sumber daya, waktu yang mereka pilih untuk memiliki anak—apa pun angkanya—bisa menjadi waktu yang tepat.
Referensi:
- Arslan, R. C., Penke, L., Johnson, W., Iacono, W. G., & McGue, M. (2014). The effect of paternal age on offspring intelligence and personality when controlling for parental trait levels. PLoS ONE, 9(2), e90097. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0090097
- Dylan, M., & Lentari, F. R. M. (2022). Pengasuhan di masa early childhood: Fathering self-efficacy dan parenting stress pada ayah yang memiliki anak lebih dari satu. Jurnal Ilmu Perilaku, 5(2), 123–137. https://doi.org/10.25077/jip.5.2.123-137.2021
- Pew Research Center. (2025, March 19). What is the best age to have a first child?
https://www.pewresearch.org/global/2025/03/19/what-is-the-best-age-to-have-a-first-child/ - Nova IVF Fertility. (n.d.). Best age to get pregnant. https://www.novaivffertility.com/fertility-help/best-age-to-get-pregnant
- Parents. (n.d.). The best age to get pregnant, according to moms. https://www.parents.com/getting-pregnant/age/timing/the-best-age-to-get-pregnant-according-to-moms/





Comments are closed.