● Kebencian digital dapat dinormalisasi melalui meme, candaan, slogan, dan pengulangan.
● Kecemasan sosial, lingkungan, media sosial, dan keluarga membentuk prasangka kaum muda.
● Melawan diskriminasi membutuhkan bahasa tandingan yang sederhana, dekat, dan manusiawi.
Di era digital ini, kebencian tidak selalu tampak dalam bentuk makian—bisa juga dalam bentuk meme, candaan, slogan, atau satu kata yang terus diulang sampai terdengar biasa.
Kalimat “Jadi apa pun asal jangan jadi boti” pada konser Hindia dan .Feast pada 21 Juni 2026 bisa jadi contoh nyata. Potongan ucapan itu kemudian menyebar di media sosial dan memicu beragam respons warganet.
Sayangnya, suara yang paling nyaring justru bukan suara yang membela martabat manusia, melainkan suara yang menertawakan mereka yang dilabeli “boti”. Bahkan sampai muncul seruan “Anti-Boti Indonesia”.
Istilah “boti” merupakan label sosial yang merendahkan sekaligus memberi vonis. Ada ekspresi gender yang dianggap salah, menyimpang, dan lucu untuk dihina. Seolah-olah mereka sah dijadikan target bersama.
Fenomena ini patut dilihat lebih serius. Ketika penghinaan dikemas sebagai humor dan diulang bersama-sama, prasangka tidak lagi tampak seperti kebencian, melainkan sesuatu yang terasa normal, bahkan menjadi bagian dari identitas kelompok. Ini menunjukkan indikasi menguatnya konservatisme diskriminatif (pandangan berdasarkan nilai-nilai tradisional yang kaku) di kalangan anak muda.
Karena bentuknya yang ringan (seperti dibungkus dengan humor), narasi kebencian pada mereka yang disebut “boti” tampak tidak berbahaya. Padahal efeknya bisa fatal. Gerakan ini sangat mungkin bisa memicu persekusi terhadap kelompok minoritas gender.
Read more: Pride Month: mengapa kelompok LGBTQ belum bebas dari diskriminasi dan persekusi?
Dari kecemasan menjadi kambing hitam
Riset tentang politik anti-gender di Korea Selatan tahun 2025 menunjukkan hubungan antara ketidakamanan ekonomi, politik sayap kanan, dan meningkatnya seksisme di kalangan laki-laki muda.
Namun, ketidakamanan ekonomi tidak otomatis membuat seseorang menjadi diskriminatif. Prasangka menguat ketika kecemasan tersebut bertemu dengan norma tradisional tentang keluarga, maskulinitas, dan kehidupan yang dianggap “normal”.
Konteks Korea Selatan tentu tidak bisa begitu saja disalin ke Indonesia. Namun, penelitian tersebut memberi pelajaran penting: ketika orang merasa kehilangan kendali atas masa depan, politik moral dapat menawarkan rasa aman dengan menunjuk kelompok tertentu sebagai ancaman.
Dalam konteks “boti”, mekanisme serupa patut diperiksa lebih jauh. Kondisi sosial-ekonomi seperti lapangan kerja sulit, upah terasa tidak cukup, dan biaya hidup terus menekan membuat masa depan terasa tidak pasti bagi banyak anak muda.
Dalam kondisi seperti ini, kemarahan dapat dialihkan kepada kelompok yang dianggap melanggar norma gender.
Read more: Judith Butler: memahami gagasan filsafat bahwa gender tidak biologis, tapi performatif
Prasangka tidak muncul dari ruang kosong
Prasangka tidak selalu lahir dari keputusan sadar seseorang untuk membenci kelompok lain, tetapi dapat juga dipelajari dari lingkungan terdekat.
Penelitian terhadap remaja mayoritas di Swedia, menunjukkan bahwa orang tua, teman sebaya, dan lingkungan sekolah sama-sama berperan dalam perkembangan prasangka. Temuan ini menunjukkan bahwa cara kita melihat kelompok lain dibentuk melalui interaksi sosial sehari-hari.
Konteksnya memang berbeda dari Indonesia. Namun, logikanya relevan: kaum muda belajar tentang siapa yang dianggap “normal”, siapa yang dianggap “berbeda”, dan bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan kelompok yang berbeda tersebut.
Jika ejekan terhadap ekspresi gender tertentu terus-menerus hadir di lingkungan keluarga, pertemanan, atau komunitas, candaan semacam itu dapat kehilangan sifat “luarnya” sebagai penghinaan, lalu menjadi bahasa yang dianggap normal.
Read more: Akibat stigma terhadap LGBTQ+, perempuan menjadi korban pernikahan ‘kamuflase’
Saat algoritma membuat kebencian terlihat populer
Media sosial kemudian mempercepat proses tersebut.
Di X, TikTok, dan Instagram, sebuah sikap dapat berubah menjadi angka—melalui likes, shares, views, dan komentar. Angka-angka itu tidak hanya menunjukkan berapa banyak orang yang melihat sebuah konten, tetapi juga dapat menciptakan kesan bahwa sebuah pandangan didukung banyak orang.
Masalahnya, popularitas bukanlah ukuran kebenaran. Ketika ribuan orang mengulang lelucon atau penghinaan yang sama, seseorang bisa merasa bahwa dirinya tidak sedang melakukan diskriminasi, melainkan hanya mengikuti apa yang dianggap lucu oleh kelompoknya.
Candaan membuat batas antara “bercanda” dan “membenci” menjadi kabur. Ketika ada yang memprotes, pelaku dapat dengan mudah berlindung di balik kalimat, “Kan cuma bercanda.”
Padahal, pengulangan membuat sebuah label semakin akrab. Sesuatu yang awalnya terasa kasar bisa berubah menjadi bahasa sehari-hari. Dari sinilah prasangka dapat bergerak dari candaan menuju normalisasi.
Identitas “kita” dan “mereka”
Persoalan yang lebih dalam adalah bagaimana identitas kelompok dibentuk. Studi tentang keluarga kulit putih di Amerika Serikat (AS) menemukan hubungan antara pewarisan pesan mengenai identitas rasial dengan orientasi politik anak muda, termasuk konservatisme dan dukungan terhadap kelompok kanan-jauh.
Konteks rasial AS jelas berbeda dari persoalan gender di Indonesia. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa identitas politik dan cara memandang kelompok lain dapat dibentuk melalui pesan yang diwariskan dalam keluarga.
Di Indonesia, pesan semacam itu bisa hadir dalam bahasa moral yang jauh lebih sederhana: bela agama, jaga keluarga, lawan penyimpangan. Pesan tersebut mudah dipahami, mudah diingat, dan mudah dipertentangkan dengan gambaran tentang “mereka” yang dianggap mengancam nilai kelompok.
Ketika identitas dibangun dengan cara demikian, merendahkan kelompok lain bukan lagi sekadar tindakan individual, tetapi dapat menjadi cara menunjukkan bahwa seseorang berada di pihak “kita”.
Melawan diskriminasi
Melawan diskriminasi tidak cukup dengan memarahi mereka yang ikut menyebarkan tren tersebut. Menyebut mereka bodoh, sesat, atau tidak toleran justru berisiko memperlebar jarak antarwarga—bahkan konflik sosial.
Yang dibutuhkan adalah bahasa tandingan yang sama dekatnya dengan kehidupan mereka.
Kita perlu mengatakan secara sederhana bahwa seseorang tidak menjadi lebih bermoral karena berhasil mempermalukan orang lain. Menertawakan seseorang tidak membuat kelompok kita lebih kuat. Berbeda dari kita tidak otomatis berarti mengancam kita.
Bahasa seperti “inklusi”, “keberagaman”, dan “nondiskriminasi” tetap penting. Namun, jika ingin menjangkau anak muda di ruang digital, pesan tersebut perlu diterjemahkan menjadi bahasa yang lebih manusiawi, sederhana, dan mudah dibagikan. bisa diberikan contohnya ga ya? yg sederhana itu yg kayak gimana? supaya pembaca ada gambaran gitu
Hari ini yang diburu mungkin mereka yang disebut “boti”. Besok, targetnya bisa kelompok lain: perempuan yang dianggap terlalu bebas, kelompok agama minoritas, aktivis yang terlalu kritis, atau seniman yang dianggap kelewat berani.
Target kebencian dapat berganti. Mekanismenya tetap sama.
Ukuran moral sebuah generasi bukanlah seberapa keras mereka mampu menunjukkan siapa yang dianggap menyimpang. Justru seberapa mampu mereka menahan diri untuk tidak menjadikan manusia lain sebagai bahan hinaan.





Comments are closed.