Sun,30 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Tafsir AI atas Al-Qur’an tidak akurat, perlu hati-hati mengambil kesimpulan

Tafsir AI atas Al-Qur’an tidak akurat, perlu hati-hati mengambil kesimpulan

tafsir-ai-atas-al-qur’an-tidak-akurat,-perlu-hati-hati-mengambil-kesimpulan
Tafsir AI atas Al-Qur’an tidak akurat, perlu hati-hati mengambil kesimpulan
service

● Penggunaan AI untuk mencari informasi terkait hukum agama kian marak di Indonesia, termasuk di lingkungan kampus Islam.

● Studi membuktikan AI tidak layak menjadi alat bantu tafsir Al-Qur’an karena kerap menyalahi sumber dan konteks.

● AI memproses teks sebagai data statistik (token), sehingga rujukan asli tetap wajib diverifikasi.


Penggunaan AI untuk bertanya soal agama kian marak di Indonesia. Penelitian 2024 menunjukkan AI mendorong Muslim menjadi pengguna aktif dalam mencari jawaban atas persoalan agama. Kecenderungan tersebut adalah bagian dari pergeseran otoritas keilmuan di ruang digital.

Di bidang pendidikan, penggunaan AI juga terus meluas. Di kampus-kampus Islam, chatbot sering digunakan untuk membantu membuat rencana pembelajaran dan [mencari penjelasan bidang yang diajarkan], salah satunya dalam hal penafsiran ayat Al-Qur’an.

Sayangnya, hasil penelitian kami pada 2026 ini menunjukkan bahwa chatbot AI tidak layak dijadikan alat bantu tafsir Al-Qur’an.

Kami menguji tujuh model AI dengan menanyakan makna fī sabīlillāh dalam Q.S. al-Tawbah 9: 60, ayat yang membahas delapan golongan penerima zakat. Pertanyaan yang sama kami ajukan sebanyak empat kali kepada setiap model sehingga menghasilkan 28 jawaban, yang kemudian diperiksa oleh dua penilai independen.

Dari jawaban tersebut kami menemukan 248 kesalahan yang mencakup kesalahan atribusi pendapat, penyebutan pendapat yang sebenarnya diperselisihkan, serta penyamaan istilah yang memiliki konteks berbeda.

Macam-macam kesalahan tafsir AI

Frekuensi per kategori 'error' respons AI

Kategori ‘error’ respons AI/Author provided.

Berdasarkan hasil telaah kami, terdapat tiga ketidakakuratan jawaban AI yang paling banyak muncul:

1. AI keliru dalam membingkai konsep

Kesalahan ini paling dominan, mencapai 73 kasus (29,4%). Kesalahan semacam ini sulit dikenali, terutama bagi pemula, karena jawaban AI tampak seperti ringkasan tafsir daring. Namun, setelah dicocokkan dengan kitab rujukan, ditemukan pendapat mufasir yang tertukar, diperluas, atau perbedaan penting yang dilebur.

Misalnya, AI mengaitkan tafsir al-Ṭabarī tentang penerima zakat fī sabīlillāh dengan ketentuan dīwān (pejuang yang tidak memperoleh bagian dari daftar pembayaran negara). Padahal, ketentuan tersebut berasal dari Ibn Kaṡīr (ahli tafsir Al-Qur’an lainnya), sementara al-Ṭabarī hanya menjelaskannya sebagai al-ghāzī, orang yang pergi berperang.

2. AI mencantumkan sumber yang tidak dapat diverifikasi.

Kami menemukan 58 kasus fabrikasi sumber dan sitasi (23,4% dari seluruh kesalahan). Kesalahan ini sulit dikenali karena AI mencantumkan sumber, jilid, hingga halaman yang tampak valid. Namun, setelah dicek, sebagian tidak ditemukan atau tidak sesuai.

Misalnya, GPT-5.5 mencantumkan buku Tafsir al-Qurṭubī jilid 8 halaman 111–112, padahal pembahasan yang dimaksud berada di sekitar halaman 185.

AI tidak sekadar keliru menjelaskan isi tafsir, tetapi juga dapat memberikan rujukan yang sangat spesifik meskipun tidak sesuai dengan sumber aslinya.

3. AI menambahkan nama tokoh yang sebenarnya tidak ada dalam sumber.

Kami menemukan 25 kasus (10,1%) kesalahan semacam ini. AI mencantumkan nama sahabat, tābi‘īn (periwayat), atau ulama yang seolah terdapat dalam riwayat, padahal tidak ditemukan dalam kitab rujukan.

Dalam kasus ini, AI membuat jawaban terlihat semakin meyakinkan dengan menghadirkan nama seorang tokoh yang sebenarnya tidak menjadi bagian dari sumber yang sedang dijelaskan.

Sebagai contoh, Claude Opus 4.8 menyebut Ibrāhīm al-Nakha‘ī dalam penjelasan al-Ṭabarī tentang fī sabīlillāh, meski namanya tidak ada dalam bagian tafsir yang dirujuk.

Selain tiga jenis ketidakakuratan di atas, kami menemukan kesalahan lain, seperti menyebut pendapat sebagai ijmāʿ (kesepakatan ulama dalam suatu hukum Islam) padahal terdapat perbedaan (22 kasus), menghilangkan batasan penting (9 kasus), memperluas makna di luar konteks zaman (5 kasus), dan menyederhanakan proses tafsir secara berlebihan (2 kasus). Totalnya mencapai 248 kesalahan dari 28 jawaban.

Apa yang menyebabkan jawaban AI tidak akurat?

Saat menerima pertanyaan, AI memecah teks menjadi unit kecil yang disebut token, lalu memprosesnya berdasarkan pola bahasa dari data dalam jumlah besar. AI kemudian memprediksi token berikutnya hingga membentuk jawaban.

pola chatbot menggali sumber dan melakukan tokenisasi

Proses chatbot AI menelusuri sumber dan menyusun jawaban. Author provided.

AI tidak membaca kitab tafsir seperti peneliti yang memeriksa halaman dan siapa yang menyampaikan pendapat, lalu membandingkannya dengan pendapat lain. Chatbot dengan pencarian web juga dapat mengambil informasi dari berbagai sumber daring, termasuk situs tafsir–seperti quran.ksu.edu.sa, shamela.ws, ketabonline.com, surahquran.com, quran-tafsir.net–dan Wikipedia.

Informasi tersebut kemudian diolah menjadi rangkaian token dan disusun sebagai jawaban yang dianggap paling sesuai. Cara AI memperlakukan teks sebagai token yang dapat diproses dan dirangkai kembali inilah yang kami sebut sebagai teks mati.

Pada proses ini, AI kerap mengalami apa yang disebut dengan “halusinasi”. Meski AI dapat mencantumkan kitab, mufasir (penafsir Al-Qur’an), kutipan, jilid, dan halaman, informasi tersebut tidak selalu sesuai dengan sumber asli. Akibatnya, kita sulit mengetahui asal-usul, periwayatan, konteks, dan perbedaan pendapat dalam suatu tafsir.

Menghidupkan kembali tradisi tafsir di era AI

Jika AI cenderung memperlakukan tafsir sebagai “teks mati”, maka yang perlu kita lakukan adalah kembali memposisikan teks tafsir sebagai “teks hidup”, sebuah budaya memahami dan meneliti yang telah diwariskan oleh para mufasir melalui tradisi tafsir.

Dalam tradisi ini, segala informasi yang kita peroleh, termasuk dari AI, perlu ditempatkan dalam proses mencari dan memahami pengetahuan. Informasi yang kita terima harus selalu kita periksa dengan hati-hati, menelusuri sumbernya, membaca konteksnya, dan membandingkannya dengan penjelasan lain sebelum mengambil kesimpulan.


Read more: Toleransi di ruang digital: Bagaimana tayangan Youtube ‘Login’ menggeser metode dakwah konvensional



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.