Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. DPR Ingatkan Risiko Penutupan Prodi Kampus, Minta Reformasi Perguruan Tinggi

DPR Ingatkan Risiko Penutupan Prodi Kampus, Minta Reformasi Perguruan Tinggi

dpr-ingatkan-risiko-penutupan-prodi-kampus,-minta-reformasi-perguruan-tinggi
DPR Ingatkan Risiko Penutupan Prodi Kampus, Minta Reformasi Perguruan Tinggi
service

Jakarta, NU Online 

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyoroti rencana evaluasi hingga penutupan program studi (prodi) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus dijalankan secara hati-hati, terbuka, dan berbasis kajian akademik yang kuat.

Ia mengakui bahwa penyesuaian pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri merupakan hal yang penting. Namun, ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak bisa diposisikan semata-mata sebagai penyedia tenaga kerja, melainkan memiliki mandat lebih luas dalam membangun peradaban dan pengetahuan.

“Setiap kebijakan terkait prodi harus berpijak pada kajian komprehensif, bukan sekadar merespons tren jangka pendek. Fungsi perguruan tinggi jauh lebih luas, termasuk pengembangan ilmu dasar, kebudayaan, dan daya kritis bangsa,” ujarnya dalam keterangan yang diterima NU Online Rabu (29/4/2026).

Dalam pandangannya, langkah yang lebih tepat bukanlah penutupan prodi secara besar-besaran, melainkan transformasi dan pembenahan menyeluruh. Program studi yang dinilai kurang relevan, menurutnya, perlu diperkuat melalui pembaruan kurikulum, pendekatan lintas disiplin, serta penyesuaian dengan potensi daerah dan kekayaan budaya setempat.

Hetifah juga mengingatkan bahwa dorongan efisiensi yang berlebihan dapat berdampak pada menyempitnya ruang pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu berpotensi melemahkan posisi perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya gagasan dan peradaban.

Ia pun menekankan pentingnya proses evaluasi yang dilakukan secara berkala, transparan, serta melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pelaku industri, hingga asosiasi profesi.

“Jika penyesuaian harus dilakukan, maka wajib disertai masa transisi yang adil, serta perlindungan penuh bagi mahasiswa dan dosen,” tegasnya.

Komisi X DPR RI disebut akan mengawal kebijakan tersebut agar berjalan secara terukur dan adil, sekaligus tetap berorientasi pada penguatan daya saing nasional tanpa mengorbankan keberlanjutan ilmu pengetahuan.

Sebelumnya, Kemendiktisaintek mengusulkan evaluasi hingga penutupan prodi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.

Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco, mengatakan langkah tersebut bertujuan mengatasi ketidakcocokan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan pasar kerja.

“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri.

Ia menambahkan, saat ini banyak perguruan tinggi membuka prodi berdasarkan minat pasar jangka pendek, sehingga terjadi kelebihan suplai lulusan di bidang tertentu.

“Akibatnya kelebihan suplai di situ. Saya bisa mengecek juga, misalnya tahun 2028 itu sebenarnya kita kelebihan suplai dokter. Kalau misalnya ini dibiarkan, apalagi terjadi maldistribusi, tidak keseimbangan distribusi di masing-masing daerah,” ucapnya.

Kemendiktisaintek juga mencatat jurusan kependidikan meluluskan sekitar 490.000 mahasiswa setiap tahun, sementara kebutuhan guru hanya sekitar 20.000 orang, sehingga berpotensi meningkatkan angka pengangguran terdidik.

Untuk itu, pemerintah mendorong perguruan tinggi menyusun kembali prodi yang relevan dengan kebutuhan masa depan, termasuk melalui kajian bersama Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.