Arina.id-Kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah bakal terus meluas agaknya benar-benar terbukti. Arab Saudi mulai terseret lebih dalam ke tengah pusaran konflik perang sepihak yang dimulai Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Negeri petro dollar itu pada akhirnya mengikuti sekutunya, Amerika Serikat (AS), memencet tombol rudal perangnya.
Rabu kemarin, Saudi mengumumkan telah menyerang sejumlah wilayah Irak bersama Komando Pusat AS (CENTCOM). Mereka mengatakan serangan udara gabungan tersebut menargetkan kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Amerika dan infrastruktur energi Saudi.
Dikutip dari Aljazeera, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan tersebut merupakan “tanggapan terhadap serangan pesawat tak berawak baru-baru ini” dan bahwa pertahanan udara Saudi telah “mencegat dan menghancurkan beberapa pesawat tak berawak yang mencoba menargetkan fasilitas perminyakan di Provinsi Timur dan wilayah Riyadh… yang diluncurkan dari wilayah Irak dan dilakukan oleh milisi teroris yang bersekutu dengan Iran”.
Serangan itu segera direspos oleh Dewan Keamanan Nasional Irak. Negeri 1001 malam itu mengutuk serangan gabungan Saudi-AS terhadap Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang didukung Iran, yang menewaskan sedikitnya 20 anggota kelompok paramiliternya.
Pertemuan dewan, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali al-Zaidi, menyebut serangan terhadap pangkalan PMF di tujuh provinsi Irak sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak dan kesucian tanahnya”. “Suatu agresi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian disampaikan Ali al-Zaii dalam unggahannya di X.
“Segala bentuk pelanggaran atau kompromi terhadap keamanan dan kedaulatan Irak tidak akan ditoleransi dalam keadaan apa pun,” demikian pernyataan tersebut.
Sebelumnya Kelompok Perlawanan Islam di Irak, payung koalisi yang diproklamirkan sendiri oleh negara tersebut dan didukung oleh Iran, telah membantah serangan terhadap Arab Saudi. Mereka mengatakan bahwa klaim Saudi adalah sebuah rekayasa dan mereka menyatakan “tindakan bodoh apapun dari Saudi akan ditanggapi secara keras”.
Serangan gabungan Saudi-AS, dari kota Kirkuk di utara hingga Basra di selatan Irak, menewaskan sedikitnya 20 anggota PMF dan empat penasihat dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Demikian dilaporkan media Iran dan Irak.
Perdana Menteri Irak al-Zaidi sedianya dijadwalkan tiba di Riyad, Ibu Kota Arab Saudi, Kamis hari ini, 30 Agustus 2026, sebagai agenda kunjungan kerja pertamanya sejak menjabat. Tetapi gara-gara insiden serangan-serangan tersebut, kunjungan pada akhirnya dibatalkan.
Baghdad mengeluhkan agresi AS-Arab Saudi telah menghambat upaya investigasi terkait dugaan penargetan Arab Saudi. “Kami menuntut bukti dan keterangan mengenai peluncuran serangan dari Irak, dan tidak ada pihak yang memberikan bukti apa pun,” kata juru bicara panglima tertinggi angkatan bersenjata Irak kepada Kantor Berita Irak.
Sementara itu Kementerian Luar Negeri Iran juga segera mengutuk keras serangan agresif AS dan Arab Saudi di beberapa wilayah di Irak. Iran mengecam serangan yang menargetkan beberapa wilayah di Irak, termasuk fasilitas dan lokasi milik lembaga resmi Irak serta lokasi ziarah Arbaeen dan stasiun layanan di sana.
Kementerian tersebut, seperti dikutip dari kanor berita Tasnem, menggambarkan serangan itu sebagai “serangan terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan integritas wilayah Irak serta pelanggaran mencolok terhadap Pasal 4 Ayat 2 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan aturan-aturan dasar hukum internasional.”
Teheran juga menuding serangan dilakukan “sejalan dengan ambisi AS dan rezim Zionis untuk memperluas cakupan perang dan konflik di kawasan Asia Barat.”
Kementerian Luar Negeri juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya sejumlah warga Irak dan menegaskan kembali dukungan serta solidaritas penuh kepada pemerintah dan rakyat Irak. Iran menganggap “rezim AS yang gemar berperang dan para kaki tangannya di kawasan bertanggung jawab atas konsekuensi berbahaya dari tindakan kriminal, tidak manusiawi, dan provokatif ini.”





Comments are closed.