Wed,29 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Enam Bulan Pascabanjir, Warga Pidie Jaya Masih Bertahan di Tenda, PCNU Soroti Lambannya Hunian

Enam Bulan Pascabanjir, Warga Pidie Jaya Masih Bertahan di Tenda, PCNU Soroti Lambannya Hunian

enam-bulan-pascabanjir,-warga-pidie-jaya-masih-bertahan-di-tenda,-pcnu-soroti-lambannya-hunian
Enam Bulan Pascabanjir, Warga Pidie Jaya Masih Bertahan di Tenda, PCNU Soroti Lambannya Hunian
service

Pidie Jaya, NU Online

Enam bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Pidie Jaya, penderitaan para korban belum berakhir. Sejumlah warga di Gampong Sunong, Kecamatan Meurah Dua, masih bertahan di tenda darurat tanpa kepastian kapan hunian tetap akan tersedia.

Kondisi ini mencerminkan lambannya proses pemulihan pascabencana. Di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman kesehatan, para penyintas tetap bertahan dengan harapan yang kian menipis. Salah satunya Zakaria (76), yang kehilangan rumahnya saat banjir bandang pada November 2025.

“Sudah lebih dari lima bulan kami di sini. Bantuan ada, tetapi rumah belum jelas,” ujarnya lirih.

Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan jatah hidup dan stimulan, persoalan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap) belum juga terealisasi. Warga bahkan sempat diminta membongkar tenda menjelang Idul Fitri meski belum memiliki tempat tinggal pengganti.

Data menyebutkan sedikitnya 94 keluarga di Gampong Sunong masuk kategori terdampak berat dan berada di zona merah. Namun hingga kini, pembangunan hunian belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Di tengah kondisi tersebut, warga tetap berupaya menjalani kehidupan sehari-hari. Ibnu Abdullah (46), misalnya, harus beraktivitas di wilayah Meureudu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di tengah keterbatasan.

“Harapan kami sederhana, bisa kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan tidak lagi hidup dalam ketidakpastian,” ujarnya.

Ketua Karateker PCNU Pidie Jaya, Gus Asnawi M. Amin, menyoroti lambannya penanganan hunian bagi korban. Ia menilai persoalan ini bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut aspek kemanusiaan dan keadilan.

“Enam bulan bukan waktu yang singkat. Ketika masyarakat masih tinggal di tenda, itu berarti ada tanggung jawab yang belum tuntas,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat realisasi pembangunan hunian, baik sementara maupun permanen, agar masyarakat dapat kembali hidup layak dan bermartabat. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan pascabencana.

“Kami tidak ingin masyarakat terus hidup dalam ketidakpastian. Mereka membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji,” ujarnya.

Gus Asnawi juga mengajak berbagai elemen, termasuk organisasi kepemudaan dan keagamaan, untuk turut berperan aktif membantu para korban, baik melalui bantuan sosial maupun advokasi kebijakan.

Ia menilai solidaritas sosial harus terus diperkuat, terutama dalam situasi krisis berkepanjangan. Peran tokoh masyarakat, ulama, dan pemuda dinilai penting untuk menjaga semangat para penyintas.

“Kita harus hadir, tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga saat proses pemulihan berjalan lambat. Di situlah ujian kepedulian kita,” tambahnya.

Ia mengingatkan, pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis dan sosial masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Kondisi ini, Asnawi menjadi pengingat bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tidak cukup dengan bantuan awal, tetapi juga langkah konkret agar korban dapat bangkit dan melanjutkan kehidupan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.