Ada sebuah kaidah yang sangat populer di lingkungan pesantren, yaitu: al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīmi al-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīdi al-aṣlaḥ—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Kaidah ini telah lama menjadi pedoman umat Islam dalam menyikapi perubahan zaman. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus memutus akar tradisi, sementara pada saat yang sama kesetiaan pada tradisi tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menolak pembaruan.
Namun, memasuki era digital, adagium tersebut tampaknya perlu dilengkapi. Sebab, menjaga yang baik dan mengadopsi yang lebih baik saja tidak lagi memadai. Peradaban digital menuntut manusia bukan sekadar menjadi pewaris dan pengguna, tetapi juga menjadi pencipta atau inovator. Karena itu, kaidah tersebut layak diperluas menjadi sebuah etos baru, yaitu: melestarikan yang baik, mengadopsi yang lebih baik, dan melahirkan yang terbaik bagi kemaslahatan manusia. Dari pewaris menjadi pencipta.
Inilah etos yang dibutuhkan pada zaman kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, media sosial, dan ekonomi digital masa kini. Persoalan terbesar dunia digital sesungguhnya bukan kekurangan informasi, melainkan kelangkaan orisinalitas. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi juga di tengah budaya copy-paste. Jutaan orang mengutip, membagikan, dan mengulang gagasan orang lain, tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh menghasilkan pengetahuan baru, karya baru, atau inovasi yang memberi arah dan manfaat.
Sosiolog Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa produksi pengetahuan selalu terkait dengan habitus dan relasi kuasa. Masyarakat yang hanya terbiasa mengonsumsi pengetahuan tanpa memproduksinya akan terjebak dalam ketergantungan simbolik maupun struktural. Gambaran itu terasa relevan dengan kondisi kita hari ini. Kita mengunduh aplikasi, menggunakan berbagai platform digital, menikmati kecanggihan algoritma, bahkan menggantungkan banyak aktivitas pada teknologi yang dikembangkan bangsa lain. Kita menikmati buah peradaban, tetapi jarang ikut menanam pohonnya. Kita sebatas sebagai user.
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh para peniru, melainkan oleh para inovator dan pencipta. Demikian pula para ulama klasik dalam tradisi keilmuan Islam. Mereka tidak hanya menjaga warisan Nabi, tetapi juga melahirkan disiplin-disiplin ilmu baru, mulai dari tafsir, uṣūl al-fiqh, muṣṭalaḥ al-ḥadīṡ, ilmu kalam, hingga astronomi, kedokteran, dan matematika. Mereka menghormati tradisi, tetapi tidak berhenti sebagai penjaganya. Mereka berani berijtihad, bereksperimen, dan berinovasi. Hasilnya memberikan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan dan keagamaan.
Semangat itulah yang perlu dihidupkan kembali pada masa kini. Menjaga tradisi di era digital berarti merawat nilai-nilai kemanusiaan: kejujuran, amanah, adab, tanggung jawab, dan integritas. Mengambil yang lebih baik berarti memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pendidikan, meningkatkan pelayanan publik, memperkuat dakwah, mengembangkan riset, serta memberdayakan ekonomi masyarakat.
Adapun melahirkan pembaruan berarti berani mencipta dan berinovasi. Membangun aplikasi, mengembangkan platform digital, merancang kecerdasan buatan yang berakar pada nilai dan budaya lokal, menghasilkan riset yang orisinal, menulis buku-buku baru, hingga menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan masyarakat merupakan bagian dari ikhtiar membangun peradaban.
Filsuf Martin Heidegger pernah mengingatkan bahwa teknologi modern berpotensi mengubah dunia menjadi sekadar standing reserve, yakni sumber daya yang siap dieksploitasi, ketika manusia kehilangan tanggung jawab etis terhadap keberadaannya. Karena itu, kemajuan digital tidak cukup diukur dari kecepatan dan efisiensi. Yang jauh lebih penting ialah etos yang melandasinya: apakah teknologi dipakai untuk memuliakan manusia, memperluas keadilan, dan memperkuat kehidupan bersama, atau justru sebaliknya.
Bangsa yang hanya mengonsumsi teknologi akan terus bergantung pada bangsa lain. Sebaliknya, bangsa yang mampu menciptakan inovasi akan ikut menentukan arah peradabannya sendiri. Kecerdasan buatan, misalnya, semestinya tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga menjadi mitra intelektual yang membantu manusia menemukan pertanyaan-pertanyaan baru, membaca data secara lebih mendalam, dan melahirkan gagasan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Dalam konteks demikian, AI tidak boleh menggantikan kreativitas manusia; ia harus menjadi instrumen yang memperluas daya cipta manusia.
Hal yang sama berlaku bagi media sosial. Ia tidak semestinya hanya menjadi tempat berbagi kutipan, slogan, atau sensasi sesaat. Media sosial harus berkembang menjadi ruang produksi pengetahuan, laboratorium gagasan, sekaligus arena kolaborasi lintas komunitas.
Manuel Castells menyebut masyarakat digital sebagai space of flows, ruang tempat informasi, pengetahuan, dan kekuasaan terus mengalir. Dalam ruang seperti itu, mereka yang hanya menjadi penerima arus akan selalu tertinggal. Sebaliknya, mereka yang mampu menghasilkan gagasan akan ikut menentukan arah arus tersebut. Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah konten bukanlah semata-mata viralitasnya, melainkan sejauh mana ia memberi manfaat, memperkaya pengetahuan, dan mendorong perubahan sosial yang positif.
Budaya copy-paste dan plagiarisme tidak hanya merusak integritas akademik, tetapi juga melumpuhkan daya kreatif sebuah generasi. Ketika seseorang terbiasa mengulang pikiran orang lain, kemampuan berpikir kritis perlahan akan melemah. Karena itu, etika akademik dan budaya literasi harus terus diperkuat agar dunia digital menjadi ruang yang mendorong lahirnya pengetahuan, bukan sekadar tempat mengulang informasi atau bahkan ruang sampah digital.
Dalam konteks inilah generasi muda memikul tanggung jawab sejarah. Mereka tidak cukup memiliki kemahiran dalam menggunakan teknologi terbaru, tetapi juga harus berani menjadi penemu, pencipta, dan pembangun ekosistem digital yang berpijak pada kearifan lokal sekaligus berwawasan global.
Di tengah perubahan besar tersebut, pesantren memiliki peluang yang sangat strategis. Selama berabad-abad, pesantren berhasil melahirkan ulama yang menjaga sanad keilmuan. Kini saatnya pesantren juga melahirkan inovator digital yang tetap berakar pada tradisi, tetapi juga mampu berbicara dengan bahasa masa depan.
Sanad keilmuan perlu dipertemukan dengan kreativitas teknologi. Kitab kuning dapat berdialog dengan kecerdasan buatan. Tradisi lisan dapat diperkaya melalui arsip digital. Dakwah dapat dikembangkan melalui platform multimedia yang inklusif, mencerahkan, dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Paulo Freire mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan memerdekakan manusia agar mampu membaca realitas dan mengubahnya. Dalam perspektif ini, pesantren yang mampu mengintegrasikan kitab dan kode, tradisi dan inovasi, sesungguhnya sedang membangun model pendidikan yang memerdekakan. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi penjaga teks, tetapi juga menjadi arsitek masa depan digital yang beretika.
Di sinilah makna pembaruan menemukan relevansinya. Pembaruan bukanlah memutus hubungan dengan masa lalu, melainkan memperpanjang usia kebijaksanaan masa lalu agar terus hidup dalam bentuk-bentuk baru yang sesuai dengan tuntutan zaman.
Perlu disadari bahwa warisan terbesar adalah inovasi. Masa lalu memberi kita akar. Masa kini menghadirkan tantangan. Masa depan menunggu karya. Karena itu, etos peradaban digital tidak cukup berhenti pada semboyan “menjaga yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Kita perlu melengkapinya dengan satu ikhtiar yang lebih visioner, yaitu: menciptakan yang belum ada, menghadirkan yang lebih bermanfaat, dan mewariskan inovasi bagi generasi sesudah kita.
Pada akhirnya, sebuah peradaban tidak dikenang karena banyaknya warisan yang diterimanya, melainkan karena apa yang berhasil diwariskannya kepada dunia. Dan warisan yang paling berharga bukanlah gedung, mesin, ataupun teknologi, melainkan gagasan-gagasan besar yang memuliakan manusia, memperluas keadilan, serta menghadirkan kehidupan yang lebih beradab. Itulah sebabnya, tugas generasi digital bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan menjadi pencipta peradaban.[]





Comments are closed.